Batang-Batang, NU Online Sumenep
Ketua PCNU Sumenep, KH Md Widadi Rahim, menegaskan bahwa eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) yang telah memasuki usia lebih dari satu abad merupakan fenomena yang luar biasa. Menurutnya, keberlangsungan organisasi terbesar di Indonesia tersebut tidak lepas dari peran besar para muassis dan ulama pendahulu yang telah meletakkan fondasi perjuangan secara kokoh.
Hal tersebut disampaikan saat Konsolidasi Perkumpulan MWCNU Batang-Batang bersama PRNU se-Kecamatan Batang-Batang yang dipusatkan di Kantor PRNU Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Ahad (7/6/2026).
“NU saat ini sudah berusia lebih dari satu abad. Eksistensi ini perlu kita kaji bersama karena masih tetap bertahan hingga sekarang. Tentunya ini merupakan peran luar biasa para muassis,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Widadi menjelaskan sedikitnya terdapat tiga faktor utama yang membuat NU tetap eksis dari masa ke masa.
Pertama, ruhuddin, yaitu semangat untuk terus belajar agama Islam sepanjang hayat. Menurutnya, tradisi belajar di lingkungan NU tidak mengenal batas usia.
“Jarang orang yang sudah tua masih mau belajar agama, kecuali di NU. Semangat belajar dari lahir sampai sekarang masih tetap ada,” tuturnya.
Ia mencontohkan tradisi pengajian yang masih hidup di berbagai tingkatan organisasi. Di Kecamatan Batang-Batang terdapat Pengajian Nashirul Ibad, sementara di tingkat PCNU Sumenep juga rutin digelar pengajian yang diikuti para kiai yang diisi oleh KH Thaiful Ali Wafa.
Kedua, ruhuddakwah, yakni semangat menyampaikan kebaikan kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa kewajiban berdakwah tidak hanya melekat pada pengurus, melainkan kepada setiap warga NU.
“Tidak usah menunggu menjadi pengurus untuk berdakwah. Ketika sudah masuk NU, kita memiliki kewajiban berdakwah, minimal kepada diri sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dakwah juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Di era digital ini kita harus bertransformasi menghadapi tantangan zaman. NU tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjemput tantangan tersebut,” tegasnya.
Ketiga, ruhul khidmah, yaitu semangat pengabdian tanpa pamrih dalam merawat organisasi. Kiai Widadi menilai, salah satu kekuatan terbesar NU adalah tradisi khidmah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
“Di NU tidak ada bayarannya. NU tetap eksis sampai saat ini karena semangat tanpa pamrih dalam merawat dan mengabdi kepada NU,” pungkasnya.

