Image Slider

KH Zainurrahman: Cinta Pandangan Pertama, Konsep Mawaddah dan Rahmah dalam Pernikahan

Lenteng, NU Online Sumenep

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Prenduan, KH Zainur Rahman Hammam, menegaskan bahwa cinta sejati tidak lahir begitu saja pada pandangan pertama, apalagi tanpa proses saling mengenal. Menurutnya, perasaan yang muncul secara tiba-tiba tanpa didasari pengenalan yang cukup, lebih dekat kepada nafsu dari pada cinta.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam resepsi pernikahan A Habiburrahman, Wakil ketua LTN PCNU Sumenep dan Nur Diana Haddad Assalam di Desa Cangkreng, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Senin (08/06/2026) malam.

“Dalam hidup tidak ada istilah jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa rasa mengenal. Jika ada yang mengatakan demikian, jangan dipercaya, karena itu bukan cinta, melainkan nafsu,” ujar, Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri.

Wakil Rais PCNU Sumenep tersebut menjelaskan bahwa cinta merupakan sesuatu yang tidak bisa direkayasa. Kemunculannya bersifat dharūriy. Ia hadir secara alami dalam hati seseorang tanpa bisa ditolak.

Namun demikian, proses menuju lahirnya cinta itu ikhtiyāri, butuh proses semisal pengenalan yang mendalam terhadap sosok yang dicintai.

“Bukan berarti dengan cara pacaran atau pergaulan dekat lain yang sangat diharamkan oleh syariat. Tapi semisal dimulai dengan mengenal keluarganya, mengetahui sirkelnya, rekam jejak kehidupannya, atau dengan mencari info tentang karakter dan keseharian orang tersebut dari orang-orang dekatnya,” tegasnya.

Ia mencontohkan, Imam al-Bushiri lewat Qasidah Burdah, menunjukkan betapa besarnya kecintaan kepada Rasulullah SAW. Menurutnya, cinta tersebut lahir karena Imam Al-Bushiri memang telah mengenal sifat, akhlak, dan karakter Rasulullah SAW dengan baik.

“Cinta itu tidak bisa dibuat-buat, tetapi proses menuju cinta adalah ikhtiar,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, tidak mengherankan apabila kedua mempelai butuh waktu empat tahun sebelum akhirnya memustuskan melangkah ke jenjang pernikahan.

Dalam kesempatan tersebut, KH Zainur, sapaan akrabnya, menjelaskan konsep sakinah dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, sakinah itu terwujud karena ada mawaddah dan rahmah. Di fase awal, mawaddah atau cinta kasih biasanya lebih dominan daripada rahmah atau kasih sayang. Tapi ketika usia pernikahan telah matang dan memasuki usia senja, rahmah-lah yang merekatkan sebuah pasangan hingga tetap bertahan.

“Rahmah itu harus dipupuk sejak sekarang, dengan harapan ketika memasuki usia senja tetap menjadi keluarga yang sakinah,” tuturnya.

Menjelang akhir tausiyahnya, ia menyampaikan sedikit nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Sufyan Ats-Tsauri mengenai bekal mengarungi kehidupan khususnya rumah tangga. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah pentingnya menjadi pendengar yang baik.

“Awal dari ilmu adalah diam,” ungkapnya.

Menurutnya, baik suami maupun istri perlu menerima bimbingan dari para sesepuh dalam hal kebaikan. Ia berharap, jika kelak memilih tinggal di rumah mempelai wanita maupun memilih tinggal di rumah mempelai pria maka tetap harus terbuka menerima arahan untuk bagaimana membina sebuah rumah tangga dengan baik.

Kemudian nasehat berikutnya, ia mengingatkan agar persoalan rumah tangga tidak diumbar ke media sosial. Menurutnya, kebiasaan mempublikasikan masalah keluarga justru tidak akan mendatangkan solusi.

“Persoalan rumah tangga yang diunggah ke media sosial tidak akan mendatangkan jalan keluar. Bukan solusi yang datang, tetapi justru menambah masalah,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga