Image Slider

Fir’aun yang Tidak Pernah Tenggelam: Membaca Ulang Simbol Kekuasaan di Era Algoritma

Oleh Moh. Riski Kohar*)

Ada tokoh-tokoh dalam sejarah yang mati bersama zamannya. Ada pula tokoh yang justru hidup melampaui ruang dan waktu karena berubah menjadi simbol. Fir’aun termasuk dalam kategori kedua. Ia memang tenggelam di Laut Merah ribuan tahun silam, tetapi fir’aunisme (cara berpikir yang mengagungkan kekuasaan, menolak kritik, dan menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu) tidak pernah benar-benar lenyap.

Selama ini Fir’aun lebih sering dipahami sebagai penguasa lalim Mesir kuno yang menindas Bani Israil, mengaku sebagai tuhan, lalu dihancurkan oleh kekuasaan Allah SWT. Pembacaan seperti ini tentu tidak keliru. Namun, jika kisah Fir’aun hanya dipahami sebagai catatan sejarah, kita justru kehilangan pesan terbesarnya. Al-Qur’an tidak sekadar mengisahkan masa lalu, tetapi menghadirkannya sebagai cermin agar setiap generasi mampu membaca dirinya sendiri.

Dalam perspektif itu, Fir’aun bukan hanya nama seorang raja, melainkan simbol dari setiap bentuk kekuasaan yang merasa dirinya paling benar, menuntut kepatuhan mutlak, dan perlahan merampas kemerdekaan manusia. Simbol itu tidak pernah mati. Ia hanya berganti wajah mengikuti perkembangan zaman.

Jika dahulu Fir’aun mengendalikan manusia melalui ancaman, kekerasan, dan kekuatan militer, kini kekuasaan sering bekerja dengan cara yang jauh lebih halus. Kita hidup di tengah masyarakat digital yang hampir seluruh aktivitasnya meninggalkan jejak data. Apa yang kita baca, tonton, beli, bahkan apa yang kita sukai, perlahan dipetakan oleh sistem algoritma. Tanpa disadari, perhatian manusia telah berubah menjadi komoditas ekonomi.

Fenomena tersebut sejalan dengan analisis Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019). Menurutnya, perusahaan-perusahaan digital tidak hanya memanfaatkan data pengguna untuk memahami perilaku manusia, tetapi juga berupaya memprediksi bahkan memengaruhi keputusan mereka. Dalam konteks ini, manusia tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan juga menjadi sumber daya ekonomi melalui data yang mereka hasilkan setiap hari.

Pandangan tersebut dipertegas oleh filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han, dalam Infocracy (2022). Ia menjelaskan bahwa kekuasaan pada era digital tidak lagi terutama bekerja melalui larangan atau kekerasan, melainkan melalui banjir informasi yang perlahan membentuk cara manusia berpikir. Ketika perhatian terus diarahkan oleh algoritma, manusia merasa sedang memilih secara bebas, padahal pilihannya sering kali telah dipengaruhi oleh sistem yang bekerja di balik layar.

Di sinilah paradoks modern itu bermula. Semakin canggih teknologi yang kita gunakan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat, bukan penguasa. Fir’aun masa kini tidak perlu lagi berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Ia cukup membangun sistem yang membuat manusia bergantung, lalu menikmati ketergantungan itu sebagai sesuatu yang wajar.

Gejala serupa juga tampak dalam budaya konsumsi. Modernitas memang membebaskan manusia dari banyak bentuk penindasan fisik, tetapi pada saat yang sama melahirkan perbudakan yang lebih halus. Hari ini, banyak orang membeli bukan lagi karena membutuhkan, melainkan karena takut tertinggal. Identitas perlahan dibangun melalui apa yang dimiliki, bukan melalui nilai yang diyakini. Harga diri sering kali diukur dari citra yang dipamerkan, bukan dari integritas yang dijalani.

Akibatnya, manusia memasuki lingkaran yang nyaris tanpa ujung. Mereka bekerja untuk memenuhi gaya hidup, berutang demi mempertahankan citra sosial, dan terus mengejar pengakuan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Jika Fir’aun dahulu membangun piramida dari batu dengan kerja paksa, maka Fir’aun modern membangun piramida baru dari data, hasrat, perhatian, dan konsumsi manusia.

Namun, akan menjadi keliru apabila seluruh kesalahan diarahkan kepada teknologi. Sebab, akar fir’aunisme tidak hanya berada di luar diri manusia, tetapi juga tumbuh di dalam dirinya. Setiap kali seseorang merasa dirinya paling benar dan menutup ruang dialog, setiap kali jabatan digunakan untuk menindas, ilmu dipakai untuk merendahkan orang lain, atau kekuasaan dijadikan alat mengendalikan sesama, pada saat itulah watak Fir’aun menemukan tempat hidupnya.

Karena itu, melawan fir’aunisme pada era modern tidak cukup dilakukan dengan mengkritik penguasa atau mencurigai teknologi. Perlawanan yang lebih mendasar adalah membangun manusia yang merdeka dalam berpikir, kritis terhadap informasi, bijak menggunakan teknologi, dan rendah hati dalam memandang sesama. Kebebasan sejati bukanlah kemampuan melakukan apa saja, melainkan kemampuan untuk tidak mudah dikendalikan oleh apa pun selain akal sehat, nilai moral, dan hati nurani.

Fir’aun memang telah tenggelam di Laut Merah. Namun, fir’aunisme tidak pernah benar-benar mati. Ia hadir dalam setiap kekuasaan yang anti-kritik, dalam algoritma yang perlahan membentuk kesadaran, dalam budaya konsumsi yang menjadikan manusia budak hasrat, bahkan dalam ego yang merasa dirinya paling benar. Karena itu, pesan terbesar kisah Fir’aun bukan sekadar mengingatkan kita tentang runtuhnya seorang tiran, melainkan mengajak setiap generasi untuk terus mengawasi lahirnya tirani-tirani baru yang menyamar sebagai kemajuan. Sebab, ancaman terbesar bagi manusia modern bukan hanya kehilangan kebebasan berbicara, melainkan kehilangan kebebasan untuk berpikir secara merdeka.

*) Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Annuqayah Sumenep dan Sekretaris Ranting NU Talaga Ganding Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga