Kota, NU Online Sumenep
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Sumenep menggelar istighotsah dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia sekaligus menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Kegiatan yang berlangsung di Graha KH Abi Sudjak, Kantor MWCNU Kota Sumenep, Minggu (16/08/2026), itu menjadi momentum untuk memperkuat makna kemerdekaan dan meneguhkan semangat khidmat warga Nahdliyin.
Istighotsah diikuti oleh pengurus MWCNU, lembaga, badan otonom, serta ranting Nahdlatul Ulama di wilayah Kota Sumenep. Kegiatan diawali dengan pembacaan istighotsah yang dipimpin oleh Katib MWCNU Kota Sumenep, KH Ahmad Sa’id Samsuri.
Dalam tausiyahnya, Rais MWCNU Kota Sumenep, KHR Taufiqurrahman Syakur, mengajak warga NU untuk memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam. Menurutnya, kemerdekaan tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas yang membolehkan seseorang melakukan apa pun sesuai keinginannya.
Ia mengutip pesan yang disampaikan Dr. KH Ahmad Fudoli Zaini dalam sebuah khutbah di Masjid Ampel, Surabaya, tentang pentingnya memahami makna kemerdekaan secara proporsional.
“Kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan mutlak untuk berbuat apa saja atau melakukan sesuatu meskipun melanggar aturan dan norma,” ujar KHR Taufiqurrahman Syakur.
Menurutnya, kecenderungan untuk melanggar aturan atas nama kebebasan justru menunjukkan pemahaman yang keliru terhadap makna kemerdekaan.
“Berbuat semaunya tanpa peduli aturan justru mencerminkan kebebasan yang kebablasan, bukan kemerdekaan yang hakiki. Setiap tindakan dan perbuatan diatur oleh hukum dan norma sosial yang harus ditegakkan. Itulah kemerdekaan yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Selain membahas makna kemerdekaan, KHR Taufiqurrahman Syakur juga menyinggung pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar di Jombang. Ia mengimbau seluruh warga NU agar tetap tenang dan mempercayakan seluruh mekanisme pemilihan kepemimpinan kepada para kiai.
Menurutnya, warga NU di tingkat MWC maupun ranting perlu menyadari keterbatasan dalam memperoleh informasi secara utuh mengenai calon-calon pemimpin yang akan dipilih dalam muktamar.
“Kita sebagai warga NU di tingkat MWC dan ranting harus menyadari posisi kita yang memiliki banyak keterbatasan, terutama keterbatasan informasi tentang profil calon pimpinan. Karena itu, kita harus sami’na wa atha’na terhadap keputusan para pimpinan, siapa pun yang nantinya terpilih,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas utama warga Nahdliyin bukan hanya mengikuti dinamika organisasi, melainkan terus menjaga semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Tugas kita adalah terus berkhidmat dan melayani umat,” pesannya.

