Image Slider

Dari Keluarga Sederhana, Prof Bakir Ihsan Menapaki Perjalanan hingga Guru Besar

Jakarta, NU Online Sumenep

Dari keluarga sederhana dan lingkungan pesantren, Prof KH A Bakir Ihsan menapaki perjalanan panjang melalui pendidikan, organisasi, jurnalistik, pemerintahan, hingga dunia akademik.

Perjalanan tersebut mengantarkannya menjadi Guru Besar Bidang Ideologi Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. UIN Jakarta mengukuhkannya dalam Sidang Senat Terbuka di Auditorium Harun Nasution, Rabu (30/09/2026).

Kiai Bakir lahir dari pasangan Ihsan dan Ma’allah, guru ngaji kampung di Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Dari keluarga, ia belajar bahwa ilmu merupakan amanah dan pendidikan menjadi jalan untuk menjaga nilai kehidupan.

“Ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan amanah yang harus diwariskan. Pendidikan bukan hanya jalan untuk mengubah nasib, tetapi juga cara untuk menjaga nilai-nilai kehidupan,” katanya.

Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Nurul Yaqin Lembung Barat sebelum melanjutkan Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Lingkungan pesantren turut membentuk tradisi keilmuan, kedisiplinan, kesederhanaan, dan pengabdiannya.

“Dari pesantren saya belajar bahwa ilmu akan menemukan maknanya ketika ia bersentuhan dengan kehidupan dan memberi manfaat bagi sesama,” ungkapnya.

Pada tahun 1990, atas izin dan restu kiai, Kiai Bakir melanjutkan pendidikan ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Di sana ia aktif dalam organisasi dan jurnalistik hingga dipercaya menjadi pemimpin redaksi tabloid kampus. Ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).

“Organisasi mengajarkan saya arti kebersamaan, perjuangan, dan pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Universitas Indonesia (UI) untuk menempuh magister Ilmu Politik. Ia juga menjadi wartawan Majalah Panji Masyarakat dan sempat dipercaya menjadi manajer divisi penerbitan Mizan.

Setelah kembali ke dunia akademik dan melanjutkan pendidikan doktoral Ilmu Politik di UI, Kiai Bakir mendapat kesempatan mengabdi sebagai Asisten Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga 2014. Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya mengenai negara dan masyarakat.

“Melalui pengalaman politik, saya belajar melihat hubungan antara negara, masyarakat, dan kepentingan publik,” tuturnya.

Sejak 2015, Kiai Bakir kembali aktif di UIN Jakarta dan dipercaya mengemban sejumlah amanah sebagai Wakil Dekan. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan, termasuk di Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdhatul Ulama (LPTNU) dan kepengurusan masjid.

Kini, perjalanan panjang Kiai Bakir dari Lembung Barat hingga menapaki mimbar akademik nasional menjadi jejak inspiratif bagi generasi muda NU untuk terus menuntut ilmu, berkhidmat, dan memberi manfaat bagi umat.

Perjalanan tersebut menunjukkan pentingnya pendidikan, organisasi, kemampuan membaca realitas, dan pengabdian dalam membangun diri serta memberi manfaat bagi masyarakat.

Meski telah dikukuhkan sebagai guru besar, Kiai Bakir tetap memandang dirinya sebagai seorang pembelajar.

“Bagi seorang pembelajar, setiap perjumpaan adalah pelajaran, setiap amanah adalah tanggung jawab, dan setiap langkah selalu menyimpan kemungkinan untuk memberi manfaat,” pungkasnya.

Ediror: Lukmanul Hakim

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga