Image Slider

Abad Kedua NU, Gus Firjaun Ajak Rapatkan Barisan hingga Perkuat Spiritual

Kota, NU Online Sumenep
Pj Ketua PWNU Jawa Timur KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman mengajak seluruh santri dan kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk merapatkan barisan dan bergandeng tangan menata kembali diri serta jam’iyah NU memasuki awal abad kedua kelahiran organisasi tersebut.

Menurut Gus Firjaun, sapaan akrabnya, penataan itu perlu dilakukan melalui dua jalur sekaligus, yakni pembenahan secara personal dan penataan secara jam’iyah. Secara personal, para santri dan kader NU perlu memperkuat spiritualitas serta membersihkan hati agar tidak menjadikan selain Allah SWT sebagai tempat bersandar.

Pesan tersebut disampaikan Gus Firjaun saat memberikan tausiyah dalam Kick Off Peringatan Hari Santri 2026 yang diselenggarakan PCNU Sumenep di Aula Al-Ikhlas Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Kamis (1/10/2026).

“Hari ini, di awal abad kedua lahirnya NU, maka sudah saatnya para santri untuk merapatkan barisan bergandeng tangan menata kembali, baik secara personal maupun secara jam’iyah,” ungkapnya.

Gus Firjaun menjelaskan, pembenahan personal terutama berkaitan dengan spiritualitas dan keteguhan hati. Menurutnya, para santri terdahulu memberikan teladan tentang bagaimana perjuangan dilakukan dengan keyakinan dan ketawakalannya kepada Allah SWT.

Ia mencontohkan perjuangan para santri dan ulama dalam menghadapi penjajahan. Dengan keterbatasan persenjataan, para pejuang tetap memiliki keberanian karena bersandar kepada Allah SWT.

“Secara personal memperbaiki spiritual dan hati. Bagaimana agar tidak bersandar kecuali kepada Allah SWT. Sebagaimana dicontohkan oleh para santri terdahulu. Melawan penjajah hanya menggunakan bambu runcing dan bacaan shalawat, karena bersandar penuh kepada Allah, atas rahmat-Nya mendapatkan kemerdekaan,” tuturnya.

Karena itu, Gus Firjaun mengajak warga NU untuk tidak kehilangan orientasi spiritual dalam menjalankan perjuangan dan pengabdian. Ia juga mendoakan para syuhada yang telah berjuang bagi bangsa dan agama agar memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT.

“Mudah-mudahan para syuhada kita mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” harapnya.

NU Perlu Menata Internal dan Eksternal

Selain pembenahan personal, Gus Firjaun menekankan pentingnya penataan NU secara jam’iyah. Penataan tersebut, menurutnya, harus dilakukan dari sisi internal maupun eksternal.

Secara internal, ia mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam menjalankan khidmat organisasi. Menjadi bagian dari kepengurusan NU, kata dia, tidak cukup hanya ditunjukkan melalui jabatan struktural, tetapi harus diwujudkan dengan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

“Internal adalah menata keikhlasan kita, dalam ikut mengembangkan, mempertahankan, mengamalkan ajaran Islam Aswaja yang merupakan ruh jam’iyah NU, melalui khidmat dalam organisasi. Tidak hanya sekadar menjadi pengurus, tetapi juga mengamalkan seluruh amaliyah Aswaja An-Nahdliyah,” jelasnya.

Gus Firjaun juga menyinggung pentingnya penguatan badan otonom (banom) sebagai bagian dari penataan organisasi. Ia menggunakan perumpamaan sebuah warung yang membutuhkan dapur dan koki agar memiliki karakter dan ciri khas.

“Ibarat warung, maka harus ada dapur dan chef-nya. Harus ada ciri khas,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan struktur dan kaderisasi menjadi bagian penting agar NU memiliki basis organisasi yang kuat serta mampu menjaga keberlangsungan nilai-nilai yang diwariskan para muassis.

Sementara dalam penataan eksternal, Gus Firjaun mencontohkan kondisi di Sumenep yang menurutnya menunjukkan kuatnya keterhubungan antara NU dan berbagai unsur masyarakat, termasuk pemerintahan.

Ia menggambarkan NU sebagai sebuah tiang, sementara berbagai kelompok profesi dan elemen masyarakat lainnya seperti politikus, pengusaha, dan akademisi diibaratkan sebagai balon yang terikat pada tiang tersebut.

“NU ibarat tiang, yang lainnya politikus, pengusaha, akademisi, ibaratnya balon. Balon ini harus terikat ke tiang tadi. Setinggi apapun balonnya, jika tiangnya kokoh, tetap akan terkendali. Maka NU akan mengendalikan, bukan dikendalikan,” tegasnya.

Gus Firjaun menekankan, penguatan internal dan eksternal tersebut harus menjadi bagian dari kesadaran kader NU dan santri. Jika dilakukan secara konsisten, ia optimistis ikhtiar tersebut akan memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat dan bangsa.

“Insyaallah kalau penataan secara internal dan eksternal ini dilakukan oleh kader NU, santri, akan berdampak pada kehidupan lebih baik, Indonesia akan lebih baik,” katanya.

Dalam tausiyahnya, Gus Firjaun juga mengingatkan warga NU agar menghadapi berbagai dinamika yang terjadi di tubuh organisasi dengan ketulusan dan keikhlasan.

Ia mengutip dawuh Imam Syafi’i, laisa li ahadin illa lahu muhibbun wa mubghidun, yang secara umum menggambarkan bahwa seseorang tidak akan terlepas dari pihak yang mencintai maupun yang tidak menyukainya.

Menurut Gus Firjaun, perbedaan sikap terhadap susunan kepengurusan PBNU yang telah diumumkan merupakan sesuatu yang perlu disikapi secara dewasa. Ia mengajak warga NU untuk menyadari bahwa setiap peristiwa tidak terlepas dari ketentuan Allah SWT dan meyakini adanya hikmah di balik setiap keadaan.

“Tentu dari hasil susunan pengurus ada yang suka dan tak suka. Kita harus sadar bahwa semua tidak lepas dari garis yang ditentukan Allah, apapun yang terjadi. Tentu ada skenario besar. Pasti ada hikmah yang bisa diambil,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung berbagai dinamika dan sorotan terhadap pesantren maupun NU. Menurutnya, kondisi tersebut perlu dihadapi dengan mengembalikan segala persoalan kepada Allah SWT serta menjaga keikhlasan dan ketulusan dalam berkhidmat.

“Marilah kita kembalikan kepada Allah. Maka keikhlasan dan ketulusan yang akan menyelamatkan kita,” pesannya.

Gus Firjaun menegaskan bahwa niat menjadi bagian penting dalam setiap perjuangan. Ia mengingatkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan niat baik akan mendapatkan balasan yang baik.

“Siapapun yang berniat baik, akan mendapatkan balasan yang baik. Sebaliknya juga begitu,” katanya.

Lebih lanjut, Gus Firjaun mengingatkan bahwa perjalanan sejarah NU menunjukkan organisasi ini telah melewati berbagai tantangan. Berbagai tekanan yang datang, menurutnya, justru menjadi bagian dari dinamika yang menempa kekuatan jam’iyah.

“Sejarah membuktikan, NU terbukti banyak pihak yang ingin menghancurkan, tetapi sekali lagi, 10 kali NU dihantam, 100 kali NU kian bangkit. 100 kali NU ditendang, 1000 kali NU semakin kokoh dan kuat,” tegasnya.

Ia menyebut NU sebagai jam’iyah para wali. Karena itu, Gus Firjaun meyakini bahwa para guru dan kiai yang telah mendahului akan terus mengawal NU melalui doa dan keteladanan yang diwariskan.

“NU ini jam’iyahnya para wali, saya yakin, guru, kiai kita, selalu mengawasi, mengawal dan mendoakan NU. Semoga NU semakin jaya,” ujarnya.

Mengakhiri tausiyahnya, Gus Firjaun berharap Sumenep dapat menjadi salah satu titik penting dalam menghadirkan NU sebagaimana yang diharapkan para muassis. Ia mendorong warga NU untuk terus mempersiapkan diri, bukan hanya dari aspek lahiriah, tetapi juga melalui penguatan spiritual.

“Semoga NU diawali dari Sumenep ini akan menjadi embrio NU yang betul-betul diharapkan muassis. Mudah-mudahan ke depan kita semakin menyiapkan diri kita tidak hanya lahiriah, tapi kemantapan spiritual,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga