Kota, NU Online Sumenep
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Sumenep menetapkan penguatan sektor pendidikan dan pemberdayaan ekonomi sebagai program prioritas pada masa khidmat 2026–2031. Komitmen tersebut mengemuka dalam Musyawarah Kerja (Musyker) MWCNU Kota Sumenep yang digelar di Graha KH Abi Sudjak, Kantor MWCNU Kota Sumenep, Minggu (16/08/2026).
Musyker dihadiri oleh jajaran pengurus harian MWCNU Kota Sumenep, pengurus lembaga, badan otonom (banom), serta pengurus ranting se-MWCNU Kota Sumenep. Forum tersebut menjadi wadah untuk menyelaraskan arah kebijakan organisasi sekaligus merumuskan langkah strategis selama lima tahun ke depan.
Ketua MWCNU Kota Sumenep, K. M. Hantok Sudarto, menegaskan bahwa seluruh program yang disusun sudah mengacu pada visi besar organisasi, yaitu menjadikan MWCNU Kota Sumenep sebagai penggerak utama dalam melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah sekaligus memberdayakan umat melalui penguatan pendidikan dan ekonomi.
“Visi kita adalah menjadikan MWCNU Kota Sumenep sebagai penggerak utama dalam melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, sekaligus memberdayakan umat yang bermartabat dengan ekonomi yang kuat dan pendidikan yang unggul,” ujar K. M. Hantok Sudarto di hadapan peserta musyawarah.
Ia menjelaskan, program kerja yang telah disusun oleh masing-masing lembaga diharapkan mampu menerjemahkan visi tersebut ke dalam berbagai kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Karena itu, sektor pendidikan dan ekonomi ditetapkan sebagai prioritas utama yang akan menjadi fokus gerakan organisasi.
Selain membahas program kerja, Musyker juga menyoroti perkembangan pembaruan kepengurusan di tingkat ranting. Dari 17 ranting yang berada di bawah naungan MWCNU Kota Sumenep, baru empat ranting yang telah memperbarui Surat Keputusan (SK) kepengurusan.
Kondisi tersebut mendorong MWCNU Kota Sumenep untuk mempercepat pelaksanaan Musyawarah Ranting (Musran) secara serentak di ranting-ranting yang belum melakukan pembaruan kepengurusan.
Pada kesempatan itu, pengurus juga membahas kelanjutan masterplan pembangunan kantor MWCNU Kota Sumenep. Sejumlah program pembangunan yang akan dilaksanakan di antaranya pemasangan paving, pembangunan pagar dan gapura, serta penataan aula lantai dua.
Untuk mendukung berbagai program tersebut, MWCNU Kota Sumenep telah memetakan sejumlah sumber pendanaan, di antaranya melalui gerakan koin di tingkat ranting, i’anah syariah pengurus harian Tanfidziyah dan Syuriah, hasil sharing Swalayan NU, dana pengembangan umat dari BMT NU, serta penghimpunan dana melalui Lazisnu.
Di bidang pemberdayaan organisasi, MWCNU Kota Sumenep juga menyiapkan beberapa ranting sebagai model pengembangan ranting berdaya, yakni Ranting Paberasan, Parsanga, Pandian, Kolor, dan Kebunagung.
Menurut K Hantok, keberhasilan program organisasi tidak hanya bergantung pada pengurus MWC, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari ranting, lembaga, hingga badan otonom.
“Harapannya, semua bisa bersinergi, baik ranting, banom, maupun lembaga, sehingga program yang sudah dirancang dapat berjalan secara maksimal,” katanya.

