Gapura, NU Online Sumenep
Perguruan tinggi Islam yang tumbuh dari lingkungan pesantren didorong untuk terus mengembangkan potensi dan keunggulan yang dimiliki dalam menghadapi perkembangan pendidikan tinggi di masa mendatang.
Kekuatan tersebut tidak hanya bersumber dari nilai-nilai keagamaan, tetapi juga dari ekosistem pendidikan pesantren yang telah lama berperan dalam membentuk sumber daya manusia.
Hal itu disampaikan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. H. Farid Fachdrudin Saenong, M.A., Ph.D., saat menjadi pemateri dalam Kuliah Umum Sekolah Tinggi Agama Islam (Stainas) bertajuk “Pengembangan Perguruan Tinggi Islam Berbasis Pesantren”, Kamis (10/9/2026).
Kuliah umum yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut digelar di Aula K.H. A. Zubairi Mz., lantai II. Kegiatan diikuti civitas akademika Stainas, mulai dari dosen dan mahasiswa, guru dari berbagai lembaga pendidikan, hingga delegasi siswa kelas akhir MA Nasy’atul Muta’allimin.
Dalam penyampaiannya, Farid membahas perubahan pandangan terhadap posisi agama di tengah arus modernitas. Menurutnya, prediksi bahwa modernitas akan menghilangkan peran agama dalam kehidupan masyarakat tidak terbukti.
“Modernitas di tahun 80-an memprediksi agama tidak akan hidup. Tetapi nyatanya sekarang agama semakin memainkan peran di masyarakat. Agama dan tradisi di mana-mana dirayakan,” ujar Farid.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi peluang bagi perguruan tinggi Islam berbasis pesantren. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga menyediakan lingkungan pendidikan yang dapat menjadi modal dalam pengembangan perguruan tinggi.
Farid menilai keberadaan lembaga pendidikan di bawah naungan pesantren menjadi salah satu keunggulan tersendiri bagi perguruan tinggi berbasis pesantren, terutama dalam hal keberlanjutan sumber daya mahasiswa.
“Perguruan tinggi berbasis pesantren harusnya lebih mapan dari perguruan tinggi yang berdiri tanpa adanya sekolah di bawahnya. Salah satu kelebihannya adalah sumber daya mahasiswanya tersedia,” katanya.
Keberhasilan Kampus Tak Hanya Diukur dari Akreditasi
Farid juga menekankan bahwa pencapaian akreditasi tidak semestinya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan perguruan tinggi. Menurutnya, keberadaan kampus harus memberikan dampak dan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Keberhasilan perguruan tinggi itu bukan karena akreditasi yang unggul, tetapi bagaimana perguruan tinggi berbasis pesantren bisa dirasakan kehadirannya dan kemanfaatannya oleh masyarakat sekitar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi berbasis pesantren dituntut tidak hanya mengejar pencapaian administratif dan akademik, tetapi juga mampu mengambil peran dalam kehidupan sosial masyarakat. Nilai-nilai pesantren, pendidikan akademik, dan kebutuhan masyarakat perlu berjalan secara beriringan.
Farid mengingatkan agar berbagai keunggulan yang dimiliki perguruan tinggi berbasis pesantren tidak hanya menjadi potensi. Kekuatan tersebut perlu dipelihara dan dikembangkan secara berkelanjutan agar mampu menjadi fondasi bagi kemajuan institusi.
“Kita punya landasan yang kuat bahwa perguruan tinggi berbasis pesantren itu kuat di masa depan. Tinggal bagaimana kita menjaga, merawat, dan mengembangkannya,” ungkapnya.
Stainas Dorong Kampus Berdaya Saing
Sementara itu, Ketua Pelaksana Kuliah Umum, Alfi, menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Stainas memperkenalkan keberadaan kampus kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi yang lahir dari lingkungan pesantren memiliki kemampuan untuk bersaing.
“Pada dasarnya, kegiatan ini untuk mempromosikan kampus. Meskipun kita berangkat dari pesantren, kita mampu untuk bersaing dengan kampus-kampus lain,” kata Alfi.
Alfi menjelaskan, kegiatan kuliah umum tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak tahun sebelumnya. Namun, pelaksanaannya harus ditunda karena adanya sejumlah kendala.
“Sebenarnya kuliah umum ini akan dilaksanakan di tahun sebelumnya, tetapi karena banyak kendala, akhirnya baru terlaksana hari ini,” jelasnya.
Pelaksanaan kuliah umum menjadi salah satu momentum bagi Stainas untuk memperkuat identitas dan arah pengembangan sebagai perguruan tinggi Islam berbasis pesantren. Integrasi antara tradisi pesantren, pendidikan akademik, dan kebutuhan masyarakat diharapkan dapat menjadi kekuatan dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten sekaligus memiliki karakter keislaman.

