Gapura, NU Online Sumenep
Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Kiai A. Munif Zubairi mengingatkan kepada para alumni pentingnya menjaga sanad keguruan. Sebab mata rantai keilmuan itu menjadi cikal-bakal tertanamnya karakter yang baik pada diri santri.
Hal itu disampaikan saat mengisi Tausiyah Pengasuh pada acara Temu Akbar Keluarga Besar Alumni Nasy’atul Muta’allimin (Kabanas), Rabu (23/3/2022), di halaman Madrasah Aliyah (MA) Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur, Gapura, Sumenep.
“Sanad keilmuan atau sanad keguruan ini adalah salah satu bagian dari ajaran agama kita. Untuk itu perlu kita jaga agar pikiran dan tindakan kita tidak didasarkan pada kehendak pribadi kita sendiri, melainkan menceminkan guru kita,” tuturnya.
Menurut Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep ini, sanad keilmuan atau sanad keguruan merupakan ciri khas pesantren yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain selain pesantren. Bahkan menjadi keunggulan tersendiri.
“Pesantren ini memiliki kelebihan. Yaitu sanad keilmuan atau sambungan guru. Inilah karakteristik pesantren. Dengan sanad ini, antara santri dan kiai, santri dan guru akan terus terjalin hubungan yang kuat. Sehingga menjadi sebab hidup yang barakah dan manfaat,” imbuhnya.
Kiai Munif, sapaan akrabnya, juga menjelaskan sanad keilmuan Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Almarhum KH. Ahmad Zubairi Marzuqi, yang terus bersambung hingga Rasulullah SAW.
“Muassis Nasy’atul Muta’allimin, almarhum Kiai Zubairi ini berguru kepada Kiai Marzuqi, Kiai Ilyas Annuqayah, dan Kiai Muhammad Hasan Genggong. Kemudian Kiai Ilyas ini berguru ke Pesantren Tebuireng Jombang, Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Terus tersambung hingga Rasulullah SAW,” jelasnya.
Diceritakan Kiai Munif, bahwa Kiai Muhammad Hasan Genggong, pernah berdawuh: siapa yang mengurusi NU, maka hidupnya akan beruntung, baik di dunia maupun akhirat. Sehingga kemudian, Kiai Munif menegaskan tentang sanad keilmuan Nasy’atul Muta’allimin yang juga bersambung kepada para Muassis Nahdlatul Ulama.
Di hadapan para alumni putra dan putri, Kiai Munif juga menceritakan semasa hidup Almaghfurlah KH. Ahmad Zubairi Marzuqi yang bilamana menyebut nama KH. Ilyas Syarqawi, gurunya, pasti menangis.
“Sesuatu yang sangat sulit untuk kita lakukan. Tetapi Kiai Zubairi sebenarnya mengajarkan kita bahwa betapa besar jasa guru, kiai dan ulama kita di pesantren,” ungkapnya.
Kiai Munif juga menyampaikan amalan dari Almaghfurlah KH. Ahmad Zubairi Marzuqi, yaitu memperbanyak membaca Al-Qur’an. Minimal satu juz dalam kurun waktu sehari semalam. Diharapkan para alumni bisa mengamalkan amalan tersebut, sehingga sanad keilmuan tetap terjalin kuat.
Hal senada juga disampaikan Ketua Kabanas Pusat, KH. Muhammad Kamalil Ersyad, bahwa para Muassis Nasy’atul Muta’allimin, khususnya Almaghfurlah KH. Ahmad Zubairi Marzuqi berhasil mendidik dan menanamkan karakter mulia bagi para santrinya.
“Sehingga kesuksesan yang kita raih saat ini, itu tidak lepas dari jasa beliau dan juga para guru di pesantren Nasy’atul Muta’allimin. Akhlaqul Karimah yang sudah melekat menjadi karakter umat Indonesia itu karena jasa para ulama pesantren,” ujarnya.
Kiai Ersyad pun menegaskan bahwa Kabanas merupakan wadah silaturrahim bagi para alumni untuk mengenang jasa para guru di pesantren. Sehingga sanad keilmuan tetap terjaga dengan baik.
“Kabanas ini adalah wadah silaturahim bagi kita sebagai alumni. Dari wadah inilah kita bisa ambil peran dalam membantu pesantren,” terangnya.
Di akhir sambutan, Kiai Ersyad juga mengingatkan kepada para alumni agar tidak melepaskan diri dari pesantren dan para ulama. Termasuk dalam mendidik anak cucu.
“Kiai Zubairi adalah pewaris para nabi. Di era milenial ini, bila bercita-cita ingin mendidik anak cucu berkarakter, jangan sampai lepas dari pesantren,” pungkasnya.
Hadir dalam acara tersebut, Pengasuh dan Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, jajaran guru di lingkungan satuan pendidikan, serta para alumni putra dan putri.
Editor: Ibnu Abbas

