Image Slider

Meniti Jalan Ilmu, Merawat Tradisi, Meneguhkan Manhaj

Di tengah derasnya arus informasi keagamaan, ketika berbagai pandangan dengan mudah hadir di hadapan santri dan masyarakat melalui ruang-ruang digital, kebutuhan terhadap karya yang dapat memberikan pijakan keilmuan menjadi semakin terasa. Persoalannya bukan semata banyaknya pendapat, melainkan bagaimana seorang Muslim memiliki kemampuan untuk mengenali dasar keyakinannya, memahami tradisi keilmuannya, serta menjawab berbagai pertanyaan dan syubhat dengan ilmu dan adab.

Dalam konteks itulah hadir kitab زَادُ الطَّلَبَةِ فِي مَعْرِفَةِ حُجَّةِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ, karya Ketua Aswaja NU Center Sumenep Kiai Maimun Nafis. Dari mukaddimahnya, penulis dengan jernih menjelaskan bahwa kitab ini dimaksudkan sebagai مدخل وتمهيد للطالب المبتدئ—pintu masuk dan pengantar bagi pelajar pemula untuk mengenal persoalan Ahlussunnah wal Jamaah.

Pilihan tersebut menurut saya sangat penting. Sebab karya keilmuan yang baik tidak selalu harus dimulai dengan pembahasan yang rumit. Ada waktunya seorang penuntut ilmu membutuhkan peta sebelum menempuh perjalanan yang lebih jauh. Kitab ini berusaha menyediakan peta itu.

Sebuah Apresiasi

Hal yang patut diapresiasi dari karya ini adalah keberanian penulis memilih bentuk 99 pertanyaan dan jawaban sebagai jalan pedagogis. Pertanyaan membuat pembaca masuk melalui kegelisahan yang nyata; jawaban kemudian mengarahkannya pada pengetahuan, dalil, dan pemahaman.

Angka 99 yang dipilih penulis juga memiliki latar simbolik yang menarik. Ia dikaitkan dengan jumlah Asma’ul Husna, sembilan wali di tanah Jawa, serta sembilan bintang pada lambang Nahdlatul Ulama. Di sini tampak adanya usaha mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan ruang kultural tempat umat Islam Indonesia tumbuh dan berkembang.

Sistematika kitab juga memperlihatkan keluasan cakrawala Aswaja yang hendak diperkenalkan. Pembahasan bergerak dari pengertian Ahlussunnah wal Jamaah, dasar mengikuti Asy‘ariyah dan Maturidiyah, persoalan-persoalan akidah, pembahasan bid‘ah dan sejumlah syubhat keagamaan, kemudian berlanjut pada persoalan fikih dan tasawuf.

Dengan demikian, Aswaja tidak diletakkan sebagai identitas yang cukup disebut, melainkan sebagai manhaj keilmuan yang perlu dipahami, dipelajari, dan dipertanggungjawabkan dengan hujjah.

Saya juga melihat nilai penting pada pilihan penulis untuk menjadikan persoalan yang sering muncul di tengah masyarakat sebagai bagian dari pertanyaan-pertanyaan kitab. Pembaca diajak memasuki persoalan melalui hal-hal yang memang dipertanyakan: mengapa mengikuti Asy‘ariyah dan Maturidiyah, mengapa bermadzhab, bagaimana memahami bid‘ah, bagaimana kedudukan tawassul, tabarruk dan maulid, bagaimana memahami kewalian dan karamah, hingga bagaimana menyikapi berbagai pemikiran keagamaan yang berkembang.

Corak semacam ini terasa dekat dengan tradisi pesantren. Pesantren tidak membangun keberagamaan hanya dengan slogan. Ia membangun pemahaman melalui talaqqi, sanad, kitab, dalil, diskusi, dan pembiasaan adab. Karena itu, sebuah karya yang berusaha menjelaskan dasar-dasar manhaj Ahlussunnah wal Jamaah kepada generasi pelajar memiliki tempat tersendiri dalam khazanah pendidikan keislaman kita.

Terlebih ketika generasi muda hari ini berhadapan dengan begitu banyak informasi keagamaan yang datang hampir tanpa batas. Mereka membutuhkan bekal agar tidak mudah kagum pada suara yang menggelagar, tidak mudah mengikuti pendapat hanya karena sedang populer, dan tidak tergesa-gesa menilai sesat atau benar tanpa memahami dasar persoalannya.

Di sinilah kitab زَادُ الطَّلَبَةِ menemukan relevansinya. Ia dapat menjadi bekal awal untuk mengenali tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus pintu menuju pembelajaran yang lebih luas. Sebagaimana ditegaskan penulis dalam mukaddimahnya, kitab ini memang tidak dimaksudkan untuk mencakup seluruh persoalan dalam pembahasan Aswaja. Ia lebih tepat dipandang sebagai bekal awal yang mendorong pembaca melanjutkan perjalanan menuju kitab-kitab yang lebih luas dan mendalam. Dan justru di situlah letak nilai pendidikannya.

Sebuah kitab yang baik tidak selalu membuat pembacanya merasa telah selesai belajar. Kitab yang baik justru menumbuhkan keinginan untuk membaca lebih jauh.

Untuk Dibaca, Dipelajari, dan Dimiliki

Bagi para santri, pelajar madrasah, mahasiswa, guru, penggerak majelis taklim, maupun masyarakat yang ingin memahami dasar-dasar Ahlussunnah wal Jamaah, زَادُ الطَّلَبَةِ layak menjadi salah satu bacaan yang dipertimbangkan.

Bahasannya bergerak dari pertanyaan-pertanyaan dasar menuju persoalan yang lebih luas. Susunannya memungkinkan pembaca memasuki pembahasan secara bertahap. Karakter seperti ini menjadikannya potensial digunakan sebagai bahan pengantar dalam pembelajaran, bahan diskusi di lingkungan pesantren dan majelis, maupun bacaan pribadi untuk memperkuat pemahaman terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jamaah.

Karya semacam ini patut mendapat ruang di tengah masyarakat kita. Bukan karena setiap persoalan harus dijawab dengan satu buku, tetapi karena tradisi keilmuan harus terus melahirkan buku-buku yang dapat dibaca oleh generasi berikutnya.

Membeli sebuah kitab tentu bukan sekadar memperoleh beberapa lembar halaman. Ada ikhtiar untuk membawa pulang gagasan, menambah bacaan, dan memberi kesempatan pada sebuah karya untuk terus hidup melalui para pembacanya.

Karena itu, زَادُ الطَّلَبَةِ فِي مَعْرِفَةِ حُجَّةِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ patut dikenalkan, dibaca, dikaji, dan dimiliki—terutama oleh mereka yang ingin mengenal dasar-dasar manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dengan pendekatan yang dekat dengan tradisi keilmuan pesantren.

Penutup

Setiap zaman memiliki tantangan keagamaannya sendiri. Tugas para ulama, guru, penulis, dan para penuntut ilmu adalah memastikan bahwa warisan keilmuan tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hadir dalam bahasa yang dapat dipahami oleh generasi zamannya.

Semoga kitab زَادُ الطَّلَبَةِ menjadi bagian dari ikhtiar tersebut: menambah bekal para penuntut ilmu, memperluas pemahaman masyarakat, dan ikut menjaga kesinambungan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah di tengah perubahan zaman.

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan kepada penulis, penerbit, para pembaca, dan siapa pun yang mengambil manfaat darinya. Semoga karya ini menjadi زادًا—bekal yang baik—bagi perjalanan para pencari ilmu menuju pemahaman yang lebih luas, keyakinan yang lebih kokoh, dan pengamalan agama yang semakin beradab.

Identitas Kitab:
Judul: Zadu at-Thalabah (زاد الطلبة)
Penulis: Kiai Ahmad Mainun Nafis
Penerbit: Daris Pustaka
Tahun Terbit: 2026
Teks: Bahasa Arab
Peresensi: Madri Esa Rahman, alumnus Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura sekaligus Ketua Aswaja NU Center Talango, Sumenep.

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga