Gapura, NU Online Sumenep
Jumat sore (8/1/2021) salah seorang Kru NU Online Sumenep mengikuti sekumpulan pemuda dengan mengendarai motor ke sebuah kebun pisang milik Sanusi (35), salah seorang warga Desa Gapura Timur Gapura Sumenep. Di kebun itu, pemuda tersebut memberi tanda pada sebatang pohon pisang berupa ikat tali khusus dan mencatat lokasi pohon pisang tersebut ke dalam buku, lengkap dengan nama dan tanda tangan Sanusi, si penjariah.
Lima pemuda tersebut adalah tim Gerakan Jariyah 1 Alumni 1 Pohon Pisang yang terbentuk atas kerja sama Divisi Ekonomi dan Divisi Jaringan Forum Komunikasi Alumni Al-Huda (Fokada) Gapura Timur. Tim tersebut setiap Jumat sore berkumpul dan mengunjungi para alumni yang hendak menjariahkan pohon pisangnya kepada Fokada.
Wildan Al-Ghafuri selaku ketua pelaksana gerakan itu menjelaskan, tujuan dari gerakan tersebut adalah untuk menjembatani swadaya alumni yang hendak membantu pembangunan almamaternya, yaitu pondok pesantren Al-Huda melalui gerakan ekonomi mandiri kerakyatan.
“Kenapa harus pohon pisang? Karena selain mudah ditanam dan dirawat, pohon pisang merupakan tanaman umum yang nyaris dimiliki oleh semua kelas sosial. Mulai dari yang kelas atas hingga kelas bawah. Sehingga semua alumnus sangat mudah dan memungkinkan untuk berjariyah,” jelas Wildan Al-Ghafuri NU Online Sumenep.
Saat ditanya mengenai teknik pendonasian dan tata cara lainnya, Apung sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa setiap alumni yang hendak menjariyahkan pohon pisangnya, langsung menghubungi timnya. Kemudian tim itu yang akan mendatangi lokasi pohon itu untuk diberi tanda, selanjutnya perawatan diserahkan kepada alumni yang bersangkutan. Tim hanya memberi pupuk dan datang kembali saat pisang siap dipanen. Ketentuannya, sebatang pohon yang dijariahkan akan menjadi milik Fokada termasuk tunas-tunasnya di kemudian hari. Tetapi si pendonasi boleh memutus atau menghentikan perkembangbiakan tunas itu dalam arti memutus mata rantai jariyah itu dengan cara menghubungi Fokada kembali.
“Semua itu dibicarakan dan disepakati dulu dengan si pendonasi atau si penjariah untuk kebaikan dan kenyamanan bersama,” sambung Apung.
Setelah tiba masa panen, tim itu akan menjual pisang tersebut kepada alumnus yang berprofesi sebagai pedagang pisang. Kemudian uangnya didonasikan untuk almamater. Apung menambahkan, kegiatan tersebut diharapkan bisa mempererat hubungan alumni-almamater dalam menciptakan kemandirian finasial almamater dan sebagai media riset pertanian pisang.
Zayyadi, salah satu alumnus yang sempat dikunjungi sore itu mengaku bahagia dan bangga dengan gerakan semacam ini. Mengingat gerakan ini adalah suatu hal yang unik, mudah, dan penuh manfaat.
“Gerakan Jariyah 1 alumni 1 pohon pisang ini unik dan mudah, tapi penuh manfaat. Alumni bisa menyumbang kepada almamater berupa pisang. Perawatan pisang itu pada hakikatnya punya nilai filosofis, sama artinya seperti merawat almamater. Gerakan semacam ini juga tidak memberatkan alumnus dan justru semakin mengikat tali hubungan batin dengan almamater,” tutur Zayyadi.
Sementara itu, Fithratul Qayyimah, Ketua Umum Fokada menjelaskan, bahwa kegiatan itu tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan hasil, tapi lebih pada upaya mengikat hubungan batin antara alumni dan almamater. Ia juga menambahkan, bahwa sebelum kegiatan itu direalisasikan, pihaknya lebih dulu melakukan sosialisasi kecil-kecilan kepada alumni. Ternyata alumnus menyambut baik dan menyatakan siap serta merespon positif kegiatan itu, sehingga pihaknya langsung menyusun Standard Operasional Prosedural (SOP) kegiatan tersebut. “Jadi, dengan SOP tersebut nantinya kegiatan ini jelas teknik dan arahnya,” pungkasnya.
Dari hasil pantauan NU Online Sumenep, saat ini sudah ada puluhan pohon pisang yang tumbuh dan diberi tanda tali. Bahkan sebagian sudah siap dipanen. Pohon-pohon itu menghijau segar seolah melambangkan sikap ketakziman alumni kepada almamater.
Pewarta: A. Warits Rovi

