Kota, NU Online Sumenep
Bagi yang suka mendaki gunung atau trekking di alam bebas, tidak ada salahnya berkunjung ke Gunung Butak. Gunung ini mungkin belum populer di kalangan pendaki. Namun jangan salah, pemandangan alam yang ditawarkan Gunung Butak akan membuat siapa saja terpikat.
Hal itu disampaikan oleh Fitriyana salah satu pendaki di Komunitas Mojopahit Mountain Adventure (KMMA) saat dikonfirmasi oleh NU Online Sumenep, Selasa (08/03/2022) saat sedang mendaki gunung itu.
Wanita asal Batang-Batang Sumenep ini menegaskan bahwa gunung tersebut terletak di Kabupaten Malang serta dikenal dengan gunung tipe stratovolcano (gunung berapi komposit).
“Ini cocok bagi pendaki pemula karena memiliki rute pendakian dengan tingkat kesulitan sedang. Gunung Butak pun memiliki ketinggian 2.868 mdpl, cukup rendah dibanding gunung-gunung lain di Jawa Timur seperti gunung Semeru dan gunung Raung,” tegasnya.
Mahasiswi Pascasarjana Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk ini juga bercerita tentang keistimewaan dari gunung Butak yang mana siapa pun dijamin tidak akan menyesal setelah mendaki. “Keindahan pemandangan yang ditawarkan pada jalur dan puncak gunung ini akan membuat seseorang langsung terpana dan terpesona,” katanya.
“Jika kita mencari panorama padang rumput yang luas, mendaki Gunung Butak adalah pilihan yang tepat. Gunung di Jawa Timur ini memiliki sabana yang dipenuhi hamparan Bunga Edelweiss. Datanglah sekitar bulan Juli hingga Agustus untuk menikmati Bunga Edelweiss yang sedang bermekaran,” tambah alumni Institut Dirosat Al-Islamiyah Al-Amin (IDIA) Prenduan ini
Ia juga mengungkapkan, sabana yang terletak di puncak Gunung Butak ini sangatlah luas, juga bisa menikmati panorama perbukitan di sekelilingnya. “Kontur tanah yang datar juga membuat sabana ini kerap digunakan area kemah dan istirahat para pendaki. Ada pula sumber air bersih yang bisa digunakan para pengunjung.”
“Jalur menuju Gunung Butak memang dikenal sulit. Akan tetapi semua lelah kita akan terbayar saat berhasil sampai di puncak. Pemandangan alam yang indah akan muncul di hadapan kita. Dari sini, kita dapat melihat pemandangan Gunung Arjuno yang tampak jelas berdiri gagah dan berselimut awan putih saat cuaca cerah,” sambungnya.
Alumni Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan, Pragaan ini juga menjelaskan jalur untuk memasuki gunung. “Meskipun tergolong cukup rendah Gunung Butak juga menawarkan trek yang menantang. Tersedia beberapa jalur resmi pendakian Gunung Butak, yaitu jalur pendakian via Panderman dan Sirah Kencong,” jelasnya.
“Jalur Panderman adalah rute yang kerap dipilih pendaki karena memiliki medan yang cukup landai, meski tergolong jauh. Sementara jalur Sirah Kencong yang dapat ditempuh lebih cepat, justru memiliki karakteristik jalur yang lebih ekstrem. Tak hanya itu, jalur Sirah Kencong juga tidak memiliki sumber mata air sehingga kita harus menyiapkan logistik dengan baik,” lanjutnya.
Wanita yang hobinya mendaki ini meneruskan, jalur naik via Panderman berada di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Batu, Malang. Jalur ini merupakan rute favorit kalangan pendaki karena memiliki medan yang landai. Jalur ini juga menawarkan beragam panorama indah yang bisa dinikmati.
“Jalur Panderman diawali dengan rute yang sama seperti menuju Gunung Panderman. Setelah melalui jalan paving block dan jalur berbatu, kita akan menemukan persimpangan. Ambillah jalur kanan untuk meneruskan perjalanan menuju puncak Gunung Butak,” terusnya.
“Setelah itu, pendakian akan melewati trek yang bervariasi seperti jalan tanah yang landai hingga menanjak dan menyusuri ladang penduduk. Kita juga akan masuk ke area hutan yang rimbun hingga sampai di Pos 1. Selama perjalanan, pastikan kita memperhatikan petunjuk jalan karena banyaknya jalan bercabang. Ikuti saja petunjuk berupa tali atau pita yang dipasang di pohon pada beberapa titik jalur pendakian,” jelasnya.
Kendati demikian, menurutnya jalur menuju Pos 2 merupakan jalur tanah yang berkelok, landai, serta sesekali tanjakan dan turunan. Trek pendakian seperti ini akan terus kita lewati hingga sampai di Pos 3. Setelah itu, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Pos 4 yang didominasi jalur menanjak.
“Perjalanan menuju puncak akan semakin dekat setelah melewati Pos 5. Kita harus terlebih dulu melalui jalanan menanjak untuk sampai di sabana. Sabana tersebut juga bisa menjadi lokasi berkemah ataupun beristirahat sebelum tiba di puncak Gunung Butak,” ucapnya.
Sementara itu, lanjut dia, untuk jalur naik via Sirah Kencong adalah area perkebunan teh milik Persero Perkebunan Bantaran PTPN XII yang terletak di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Blitar. Karenanya, kita harus melalui perkebunan teh saat mengambil jalur pendakian via Sirah Kencong. Di ujung perkebunan teh, kita akan menemukan area tanah lapang yang menjadi gerbang utama masuk ke hutan. Daerah yang dikenal bernama Wukir ini merupakan gerbang awal pendakian Gunung Butak.
“Mulai dari sini, kita akan menghadapi rintangan pendakian yang sesungguhnya. Kita akan segera menemui tanjakan curam selama melewati hutan. Nanti, kita akan sampai di Pos 1 yang ditandai oleh plang petunjuk lokasi di batang pohon. Lokasi pos yang berada di area datar membuat Pos 1 cocok dijadikan sebagai area kemah atau beristirahat,” lanjutnya.
Dari itu, terang dia, untuk sampai di puncak, kita harus melalui 5 pos yang tersedia. Seluruh jalur di sini, didominasi oleh tanjakan dengan pemandangan pepohonan pinus. Pastikan untuk mengatur energi dan napas kita agar perjalanan bisa tetap aman dan lancar.
“Pos 5 adalah pos terakhir dari pendakian via Sirah Kencong. Dari sini, puncak Gunung Butak sudah mulai terlihat. Perjalanan menuju puncak pun tak seberat sebelumnya hingga kita sampai di sabana. Selain menjadi area kemah, sabana di sana juga menjadi habitat Bunga Edelweiss. Dari sabana, kita hanya perlu melanjutkan perjalanan sebentar untuk sampai di pundak Gunung Butak,” terangnya.
Fasilitas dan akomodasi di Gunung Butak, menurutnya tergolong minim. Di Pos Panderman, hanya akan menemukan sarana informasi pendakian dan lahan parkir kendaraan bermotor. “Begitu pula sarana di Pos Sirah Kencong yang hanya ada informasi pendakian, lahan parkir, dan beberapa warung penjual makanan,” tandasnya.
“Saat akan memulai pendakian di Gunung Butak, kita harus melakukan registrasi dan membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000 per orang. Ada pula biaya tambahan bagi yang membawa kendaraan, yakni Rp. 5.000 untuk motor dan Rp. 10.000 untuk mobil. Mengenai jam operasional, Gunung Butak buka selama 24 jam setiap harinya sehingga kita bebas mendaki kapan pun. Meski begitu, waktu yang disarankan untuk mendaki adalah pada pukul 10:00 hingga 13:00 dan 18:00 hingga 19:00,” ungkapnya.
Dia akhir penyampaiannya, dia mengatakan tujuan naik gunung itu selain bisa menikmati keindahan juga bersyukur atas kebesaran-Nya. “Di gunung kita bakal tau siapa diri kita yang sesungguhnya dalam perjalanan menuju puncak, seandainya kita gagal sampai puncak setidaknya kita dapat pelajaran agar menjadi lebih baik untuk selanjutnya,” tegasnya.
Editor : Ach. Khalilurrahman

