Batuan, NU Online Sumenep
Berdasarkan hasil Muktamar NU ke-XXX tahun 1999, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memandatkan gerakan pemberdayaan ekonomi kepada seluruh pengurus NU, baik di tingkat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU), dan Pengurus Anak Ranting Nahdlatul Ulama (PAR NU) untuk melanjutkan misi Nahdlatut Tujjar yang didirikan oleh Almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah pada tahun 1918.
Berangkat dari instruksi tersebut, Hajar selaku Sekretaris Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Sumenep menjelaskan langkah pengurus dalam menyikapi instruksi tersebut di acara program Suara Publik Radio Nusa FM dengan tema ‘Galeri 1926 LPNU Sumenep: Wujudkan Kemandirian dan Teguhkan Identitas Ekonomi Warga’, Kamis (11/2/2021), jam 09.00-11.00 WIB.
Narasumber tunggal yang diundang oleh Radio Nusa FM menjelaskan bahwa sebelum merancang program, LPNU memetakkan potensi ekonomi warga NU, terutama produk Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Kami melihat potensi yang dimiliki warga cukup varian. Ada yang kuliner, herbal, furniture, fashion, barang-barang antik, dan produksi lainnya, seperti keripik singkong, petis, rengginag, kerupuk, gula aren, dan lainnya. Itu semua adalah potensi lokal yang harus diperkenalkan pada warga dan pelancong yang mampir ke Kota Keris ini,” terangnya.
Oleh karena itu, LPNU memberikan wadah yang dikenal Galeri 1926. Berdasarkan hasil analisis menyatakan bahwa didirikannya wadah ini berangkat dari analisis awal bahwa kebanyakan UMKM yang ada di Kabupaten Sumenep, problemnya di bidang pemasaran.
“Mereka memiliki produk yang kualitasnya baik, struktur permodalannya juga baik, tetapi mereka mengalami kendala dalam pemasaran. Permasalahan inilah yang membuat kami tergerak untuk mendirikan Galeri 1926,” curahnya sambil melontarkan senyum.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PD MES Sumenep ini mengutarakan bahwa dirinya sudah menjalin komunikasi dengan beberapa instansi terkait, yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Kesehatan, terutama pelaku UMKM.
“Dengan komposisi 11 orang kepengurusan, alhamdulillah kami bisa menjalin silaturahmi dengan beberapa stakeholder demi menguatkan jam terbang lembaga,” ujarnya.
Hanya PCNU yang masih membuka Galeri. Secara teoritis, perbedaan Galeri dengan toko-toko kelontong berbeda jauh. Kalau galeri memamerkan produk UMKM warga NU, sedangkan Swalayan NU memamerkan seluruh produk, termasuk produk asing.
“Langkah pertama yang kami lakukan adalah perencanaan. Dalam hal ini akan merencanakan workshop kewirausahaan. Setelah itu kami masuk pada tahap persiapan. Di sini kami akan menjadi distributor produk mereka. Yang terakhir adalah tahap penyempurnaan, di mana galeri sebagai wadah utama akan disempurnakan kembali oleh kami, sehingga dipadati oleh para pengunjung,” ulasnya dengan rinci.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk tersebut akan mengusahakan agar produk nahdliyin mendapat lebel sertifikat dari Dinas Kesehatan.
“Lewat kerjasama kami dengan Disperindag dan Dinkes, setiap produk yang ingin meningkatkan daya saingnya di pangsa pasar, maka akan kami ajukan melalui beragam persyaratan administratif, sehingga produknya memiliki merk, komposisinya diakui, dan mendapat lebel halal,” ungkapnya.
Di closing statemennya, dirinya mengajak kepada sobat Nusa dan nahdliyin untuk mendukung program LPNU.
“LPNU tidak mungkin mewujudkan perekonomian warga, tanpa dukungan dari kalian semua. Oleh karenanya, bukan kami saja yang bergerak, tetapi harus ada partisipasi warga NU dan stakeholder,” pungkasnya.
Acara dipandu oleh Firdausi. Sebelum acara dimulai, Bapak Hajar memperkenalkan personalia LPNU, mulai dari pengurus harian dan divisi-divisinya, antara lain: divisi edukasi dan literasi, pengembangan usaha, dan penguatan jaringan.
Pewarta: A Warits Rovi
Editor : Ibnu Abbas

