Image Slider

Pesantren Karangkapoh, Pertahankan Traditional Method

Pondok Pesantren Al-Muqri, Karangkapoh, Prenduan berada di jantung Desa Prenduan, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Cikal bakal berdirinya dimulai saat almarhum KH Ahmad Muqri (1875-1960 M) bersama keluarga resmi menempati Roma Langghâr (rumah yang dibangun menjadi satu dengan mushalla) pada malam Ahad, 27 Sya’ban 1330 H/11 Agustus 1912 M. Area tanah yang beliau tempati dikenal dengan nama Karangkapoh, sehingga pesantren ini awalnya dikenal dengan nama Pondok Karangkapoh. Pada saat itu, mulai menerima santri mukim dari berbagai daerah termasuk dari luar pulau Madura hingga saat ini. Secara historis pesantren Karangkapoh merupakan pesantren tertua di Desa Prenduan yang sampai saat ini keberadaannya mampu menyapa masyarakat.

Sejatinya, pesantren ini merupakan pesantren yang menggunakan metode pengajaran salaf (traditional method). Namun, seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat sekitarnya, pesantren membuka jalur pendidikan formal dengan memasukkan unsur pelajaran non syar`i atau sering diistilahkan sebagai ilmu umum. Walau dibukanya pendidikan formal, pesantren ini tetap menitikberatkan pada metode dasar, yaitu salaf. Hal ini bisa diketahui dari keseriusan Pesantren tetap menjaga dan –bi idzni-Llāh wa bi masyī-atiHī– berupaya terus meningkatkan tradisi pesantren a la para sesepuh dengan memasukkan pelajaran-pelajaran fan tauhid, fiqh, tajwid, akhlak, dan ilmu ālat dengan referensi kitab-kitab klasik semacam ‘Aqīdah al-‘Awām, Sullam al-Taufīq, Safīnah an-Najāh, Ta`līm al-Muta`allim, Taqrīb dan sebagainya di setiap jenjang pendidikan formal wajib.

Sedangkan dalam aktifitas belajar-mengajar diniyah (pagi-sore-malam, di luar jam efektif formal), pesantren ini tetap menggunakan kitab-kitab klasik standar pesantren semacam ‘Aqīdah al-‘Awām, berikut Nūr adz-Dzalām, Amtsilatus Tashrif, Jurmiyah-Imrithi-Alfiyah Ibni Mālik, Kaylāniy, Taqrib, Fath al-Qarīb, Fath al-Mu`īn, Safīnah an-Najā berikut Kāsyifah as-Sajā, Sullam at-Taufīq berikut Mirqāt Shu’ūd at-Tashdīq, Ta’līm al-Muta’allim, Tafsīr al-Jalālain, dengan tambahan kitab penunjang lain semacam Qawā’id al-I’lāl, Arba’īn Nawawiyah, Lubāb al-Hadīts, dan sebagainya.

Pergantian Pengasuh Pasca Wafatya Kiai Muqri

Senin Pagi, 17 Jumadil Akhir 1379 H/05 Desember 1960 M, Kiai Muqri wafat. Dan KH Muhammad Ali Bakri (1908-1992), putera menantu beliau, melanjutkan amanah kepengasuhan. Di masanya, nama pesantren diresmikan dengan nama Pondok Pesantren Al-Muqri. Saat mengasuh pesantren, Kiai Ali dibantu putera sulung beliau, yakni KH Abdullah Hammam yang juga membina jenjang pendidikan dasar formal, dimulai dari Madrasah Ibttidaiyah Islamiyah Al-Muqri (setingkat SD) pada 1961, disusul Madrasah Tsanawiyah Islamiyah Al-Muqri (setara SMP) pada 1981, dan SMA Al-Muqri di tahun 1987.

Selanjutnya, pada pertengahan 1980-an, atas restu Kiai Ali, putera menantu beliau, KH M Hariri Rois (w. 2006) membina dan mengasuh secara otonom pesantren bermetode salaf murni yang kemudian dinamai Pondok Pesantren Al-Muqri Assalafi. Lalu, pada awal 1990-an, putera ke lll Kiai Ali, KH Umar Hamdan Ali (w. 2017), pun membuka dan mengasuh bagian otonom bercorak salaf pula dan dinamai Pondok Pesantren Al-Muqri Al-Hamdani.

Ahad Pagi, 18 Jumadil Akhir 1413 H/13 Desember 1992 M, Kiai Ali wafat. Putera sulung beliau, KH Abdullah Hammam Ali (1938-2009) menerima tongkat estafet khidmah di Pesantren Al-Muqri. Pada periode ini, Kiai Hammam melengkapi jenjang pendidikan dasar menengah formal dengan mendirikan Raudhatul Athfal Al-Muqri (setara TK) pada tahun 2000. Pada tahun 2001, beliau juga memformalkan pendidikan diniyyah sore yang kemudian dinamai Madrasah Diniyah Al-Muqri (MADINA) dan pengelolaannya dipasrahkan pada putera bungsu beliau, KH M Zainur Rahman. Setelah 17 tahun mengasuh pesantren binaan sang kakek ini, Kiai Hammam pun menyusul menghadap Allah Azza wa Jalla, tepatnya pada malam Senin, 26 Sya’ban 1430 H/26 Agustus 2009 M. Dan amanah berkhidmah pun terbebankan di pundak putera bungsu beliau, KH Muhammad Zainur Rahman Hammam (lahir 1973) hingga saat ini, dengan jumlah santri kurang-lebih 700-an orang (Pa/Pi).

Salah satu capaian periode ini adalah terbentuknya wadah resmi bagi para alumni, wali santri dan simpatisan, yang bernama FAHMAN (Forum Alumni-Muhibbin Ma’had Al Muqri Prenduan) atau organisasi khusus putra yang dibentuk secara resmi pada malam Senin, 2 Rabi’ul Awal 1437 H/13 Desember 2015 M. Forum tersebut rutin menggelar Maulid Nabi, pembacaan Ratib al-Haddad dan kajian kitab turats setiap Jumat Pahing. Di lain sisi, dibentuklah FAHMANi (Forum Alumni-Muhibbin Ma’had Al-Muqri Prenduan – Putri) atau organisasi khusus putri yang diresmikan pada Selasa, 24 Sya’ban 1440 H/30 April 2019 M. Forum ini juga memiliki kegiatan rutinan, seperti Maulid Nabi, pembacaan Ratib al-Haddad dan kajian kitab turats setiap Jumat Manis. Sedangkan untuk even tahunan, FAHMAN memilih momen maulid sebagai temu akbar setiap bulan Rabi’ul Awal, sedangkan FAHMANi mengemasnya dengan acara Haul Masyayikh dan Hari Lahir (Harlah) Al-Muqri setiap akhir Sya’ban.

*) Sumber sejarah didapatkan dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Prenduan

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga