Oleh: Aldi Hidayat
Maju-mundur adalah peristiwa alamiah dalam kehidupan. Tidak ada orang yang maju terus tanpa sedikit pun gagal. Demikian juga sebaliknya. Pada masa kini, Islam bisa dikatakan berada dalam keadaan mundur. Tak ayal, syekh Syakib Arselan berkata:
لماذا تأخر المسلمون وتقدم غيرهم
Mengapa umat Islam mundur, sedangkan umat lainnya (khususnya Barat) maju?
Ini pertanyaan sekaligus pernyataan. Disebut pertanyaan, karena secara redaksional, perkataan tersebut berbentuk pertanyaan. Dikatakan pernyataan, karena hakikatnya ia mengumandangkan fakta bahwa muslimin masa kini memang berada dalam fase kemunduran.
Dalam hal apa kemunduran umat Islam masa kini? Ini mencakup aneka bidang, terutama sains, teknologi dan etos kerja. Berkenaan sains dan teknologi, Agus Purwanto melansir dalam karyanya Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an yang Terlupakan bahwa sumbangsih umat Islam dalam bentuk karya masih sangat langka. Itu lantaran secara persentase, angka sumbangsihnya masih di bawah 1%, yaitu 0,8%. Di pihak lain, Amerika Serikat memberi sumbangsih sebesar 30,2%. Perbandingan yang sangat fantastis. Adapun dari segi etos kerja, Amien Rais melalui bukunya, Tauhid Sosial: Formula Menggempur Kesenjangan memberitakan laporan dunia bahwa Indonesia yang 88% warganya adalah muslim, menduduki peringkat ketiga dari bawah dalam hal kedisiplinan. Sebaliknya, korupsinya menduduki peringkat ketiga dari atas. Sungguh luar biasa. Tak heran, Muhammad ‘Abduh pernah berkomentar diiringi linangan air mata, “Aku melihat Islam di Barat tanpa kehadiran muslimin dan aku melihat muslimin di Timur tanpa kehadiran Islam.”
Apa maksudnya? Eropa dan Amerika yang mayoritas non-muslim ternyata memiliki etos kerja yang islami, seperti disiplin, bertanggung jawab, toleransi dan masih banyak lagi. Sementara itu, muslimin di Asia, khususnya Timur Tengah dan Indonesia masih kalah di banding mereka dalam hal etika keislaman.
Masih banyak lagi data mengenai kemunduran Islam di masa kini. Hanya saja, penulis membatasi pada beberapa data di atas sebagai gambaran sekilas. Pertanyaannya, apa hikmah di balik kemunduran Islam? Apakah kita sia-sia, bilamana hidup dalam zaman di mana Islam mengalami kemunduran? Tulisan ini akan mengungkap sisi emas keadaan tersebut. Pertama, Emha Ainun Nadjib berkata, “Kesempurnaan ialah pengetahuan tentang batas.” Apa maksud pernyataan ini? Kita contohkan dengan masa silam. Dulu, manusia berkomunikasi secara langsung dan tidak bisa melalui telepon. Akibatnya, mereka mendapati keterbatasan dalam hal komunikasi. Akan tetapi, keterbatasan ini telah membangkitkan seseorang untuk berpikir, berkreasi, mencoba dan berkarya untuk memudahkan siapa saja dalam komunikasi. Akhirnya, tercetuslah ide membuat telepon di tangan Alexander Graham Bell.
Contoh lainnya ialah lampu. Dahulu manusia hanya mengandalkan pelita untuk menerangi keadaan. Sayangnya, pelita memiliki daya jangkau penerangan yang sangat terbatas. Tak lama kemudian, muncullah Thomas Alva Edison melakukan 999 percobaan yang berujung kegagalan. Dan pada percobaan ke-1000, usahanya berhasil. Di situlah, karya pertama yang mengubah wajah dunia dan hasil jerih payahnya tetap kita nikmati hingga kini.
Saatnya kita beralih kepada muslimin masa kini. Kita sekarang menghadapi aneka keterbatasan, kekurangan dan kemunduran, meski zaman sudah penuh dengan kemajuan, terutama di bidang sains dan teknologi. Kemunduran kita di samping sains dan teknologi, adalah kemunduran secara kemanusiaan. Rasa persaudaraan antar muslimin masa kini luntur. K. Dardiri Zubairi lewat tulisannya, Wajah Islam Madura mencontohkan kasus dalam bus. Suatu ketika, beliau bepergian ke Surabaya. Dalam bus, beliau tidak kebagian tempat, sehingga harus berdiri. Tak lama kemudian, masuk 5 penumpang baru. Pihak pertama adalah pasangan suami-istri (pasutri) dan anaknya, sedangkan pihak kedua adalah ibu yang menggendong anaknya.S
Suami dari pasutri tadi meminta pada sopir bus untuk mencarikan tempat khusus bagi istri dan anaknya, namun sang sopir tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua kursi sudah penuh. Tak berselang lama, salah satu penumpang merelakan tempat duduknya untuk istri dari suami dimaksud. Tinggal satu ibu dan anaknya yang belum kebagian tempat. K. Dardiri yang kebetulan juga tidak kebagian tempat kala itu, menanti adakah satu orang lagi yang merelakan kursinya. Ternyata tidak ada. Terpaksa sang ibu tetap berdiri menggendong anaknya dalam bus yang kadang lajunya oleng ke kanan dan kiri. Ibu tersebut berdiri 4 jam lamanya dengan rute Sumenep-Surabaya. Mendapati peristiwa tadi, K. Dardiri dengan nada sedih berkata, “Alangkah mahalnya kemanusiaan di zaman ini.” Itulah salah satu potret betapa kemanusiaan muslimin masa kini tergerogoti. Ini masih perkara sepele. Coba bandingkan dengan Palestina, muslim Rohingya Myanmar, Uighur Tiongkok, muslim Bosnia-Herzegovina dan lain sebagainya. Terhadap Palestina sekadar amtsal, umat Islam masih belum bersatu-padu dalam membela dan mendukung kemerdekaannya. Lain lagi dengan persoalan ekonomi bangsa Indonesia. Di saat saudara kita ada yang miskin “overdosis”, kita kadang ngutang untuk nongkrong di warkop, saudari kita terpaksa menjadi pelacur, sebab cekikan ekonomi, pejabat kita berleha-leha dengan kemewahan dan korupsi. Tidak hanya pejabat, bahkan mohon maaf, kita pernah memamerkan silau harta, di kala teman-teman kita telat kiriman, hutang menumpuk, uang sudah di ambang paceklik dan lain sebagainya.
Dalam keadaan itu, apakah berarti kita salah total? Tentu saja tidak. Keadaan ini adalah ladang jihad kita dalam memerangi hasrat diri akan kenikmatan sendiri-sendiri. Kita kaitkan dengan dunia santri. Jikalau santri rajin berjama’ah, giat belajar, hidup mandiri, rasa sosial tinggi, maka semua itu masih wajar. Mengapa? Karena mereka hidup dalam lingkungan yang membudayakan semua itu, yaitu pesantren. Santri baru luar biasa, ketika ia melanglang buana ke luar pesantren, hidup tanpa terikat oleh aturan, serba bebas, pergaulan tanpa batas, peluang maksiat terbuka lebar nan jelas, kesempatan bersenang-senang terpampang di depan mata dan hasrat, namun ia tetap memilih mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan.
Apa hubungannya dengan kemunduran Islam? Di masa yang serba kemunduran ini, upaya untuk bangkit adalah persoalan yang susahnya minta ampun. Akan tetapi, mereka yang konsisten berusaha bangkit, maka merekalah sebaik-baik golongan. Dengan bahasa menantang, tapi mohon maaf, jikalan menyinggung perasaaan, penulis hendak berkoar untuk pembaca, khususnya untuk diri penulis pastinya, “Jika Anda ingin hebat dan luar biasa, maka bersiaplah menderita!” Pada saat kenyamanan dan kenikmatan berseliweran dan merayu di kanan, kiri, belakang dan depan, maka perjuangan mencintai nilai-nilai kesantrian adalah penderitaan. Penderitaan menuju kebahagiaan.
Kedua, penderitaan seperti tadi tidak akan membinasakan kita, namun bakal semakin menghidupkan kita. Pasalnya, kehidupan ini perjuangan. Mereka yang enggan merasakan pahitnya perjuangan, maka akan digilas oleh kenikmatan dan kenyamanan. Indonesia secara teknologi, memang mundur. Akan tetapi, lantaran terbiasa hidup dengan kekurangan, Indonesia mempunyai sisi lain yang amat berharga, yakni ketabahan akan pahit-getir kehidupan. Di pihak lain, Jepang, selaku raja teknologi Asia, memang teknologinya mentereng, namun ketenangan batinnya berada di bawah Indonesia. Terbukti, angka bunuh diri di negeri Matahari Terbit tersebut cukup tinggi. Akibatnya, pemerintah Jepang membuat menteri baru, yaitu menteri kesepian. Menteri kesepian bertugas mengurangi rasa kesepian dan keterasingan, selaku faktor dominan bagi bunuh diri. Mengapa merasa terasing? Itu lantaran pengalaman spiritual jarang mereka dapatkan melalui teknologi yang serba memanjakan.
Penulis tidak bermaksud menghina Jepang. Paparan di atas adalah bukti bahwa semua bangsa memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Karena itu, tak sepantasnya suatu bangsa merasa lebih atas bangsa lainnya. Sepatutnya semua bangsa bekerja sama untuk saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan. Demikian. Wallahu A’lam.
*) Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

