Lenteng, NU Online Sumenep
Wakil Rais Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Lembung Barat, Lenteng KH Abd Warits Aziz menuturkan bahwa dampak cinta terhadap dunia dapat menghalangi kedekatan seseorang dengan Allah SWT serta menghambat perjalanan spiritual seorang mukmin.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi pengajian rutin bulanan PRNU Lembung Barat di rumah Ustadz Hamdan Lembung Barat, Lenteng, Senin (08/06/2026).
Dalam kajian tersebut, Kiai Warits mengingatkan jamaah bahwa cinta dunia bukan sekadar memiliki harta atau memenuhi kebutuhan hidup, melainkan ketika seseorang menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan menggunakan kenikmatannya secara berlebihan hingga melampaui ketentuan syariat.
“Para ulama tasawuf sejak dahulu telah memberikan peringatan keras tentang bahaya penyakit hati tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, seseorang yang rajin beribadah sekalipun dapat kehilangan kemuliaannya apabila masih menyimpan kecintaan terhadap dunia di dalam hatinya.
“Imam al-Tsauri menggambarkan bahwa pada hari kiamat akan diumumkan kepada khalayak bahwa seseorang tersebut mencintai sesuatu yang tidak disukai Allah SWT. Hal itu menunjukkan betapa besarnya dampak cinta dunia terhadap kehidupan seorang hamba,” tuturnya.
Kiai Warits menegaskan bahwa harta dan kekayaan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang tercela. Islam bahkan menganjurkan umatnya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
“Namun, ketika hati mulai terpaut dan bergantung kepada dunia, maka hal itu dapat menjadi penghalang dalam meraih ridha Allah SWT,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip pendapat Abu Hasan Ali ibn Muzayyin yang menyatakan bahwa meskipun seseorang dipandang saleh dan memiliki banyak keutamaan, kecintaan terhadap dunia dapat menghilangkan nilai kemuliaannya di sisi Allah SWT.
“Para ulama mengajarkan bahwa kebersihan hati lebih utama daripada banyaknya amal lahiriah. Sebab hati yang dipenuhi cinta dunia akan sulit dipenuhi cinta kepada Allah,” katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azizy As-Salafi Lembung Barat ini menerangkan bahwa salah satu dampak terbesar cinta dunia adalah terputusnya hubungan batin seorang hamba dengan Tuhannya.
“Banyak orang yang semula tekun beribadah kemudian kehilangan kekhusyukan karena terlalu larut dalam mengejar kemewahan dan kenikmatan dunia,” tandasnya.
Ia menambahkan bahwa para ahli tarekat selalu menanamkan sikap zuhud kepada murid-muridnya sebagai bekal utama dalam menempuh jalan menuju Allah SWT.
“Sikap zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang semestinya, yakni sebagai sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan,” terangnya.
Ia juga mengutip pandangan Abu Hasan As-Syadzili yang menyatakan bahwa seorang salik tidak akan dapat naik derajat spiritualnya sebelum benar-benar membersihkan hati dari pengaruh dunia dan menumbuhkan cinta yang tulus kepada Allah SWT.
“Semakin kosong hati dari kecintaan kepada dunia, semakin besar peluang seseorang mendapatkan cinta dan pertolongan Allah SWT,” ujarnya.
Di akhir pengajian, beliau mengajak jamaah untuk terus bermuhasabah, menjaga hati dari ketergantungan terhadap dunia, serta memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
“Dunia hanya tempat singgah sementara. Karena itu, jangan biarkan hati terlalu sibuk mengejarnya hingga melupakan tujuan utama kita, yaitu mencari ridha Allah SWT,” pungkasnya.
Editor: Abdul Warits

