Islam dan Nusantara bagaikan api dan asap. Keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Tegaknya Nusantara dan Indonesia tidak lepas dari peran Islam, walaupun agama lain juga ikut berperan. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa Islam adalah kekuatan dominan bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meski demikian, beberapa data berikut hendak menunjuk deislamisasi (penghilangan peran Islam) atas Nusantara Indonesia.
Pertama, teori masuknya Islam yang cukup terkenal adalah teori Gujarat, cetusan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda. Teori ini beranggapan bahwa Islam masuk pertama kalinya ke Nusantara pada abad 13 (1201-1300) dari Gujarat, India. Teori ini miskin data, sehingga ia lemah untuk dibenarkan. Akan tetapi, teori ini cukup terkenal, sehingga menjadi keyakinan sebagian muslim Indonesia.
Teori yang lebih kuat dengan dilengkapi data sejarah adalah teori Mekkah, cetusan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), ulama Sumatera. Hanya saja, teori ini tidak begitu terkenal, padahal berdasarkan bukti-buktinya, teori ini lebih mendekati kebenaran. Islam masuk ke Indonesia, pada masa khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan ra (24-36 H/644-656 M). berita dari dinasti Tang, Tionghoa (618-907 M), menayangkan berita lain, namun berdekatan, bahwa Islam masuk ke Nusantara pada periode awal dinasti Umayyah (661-750). Dinasti Tang mewartakan bahwa pada 674 M, terdapat settlement (hunian bangsa Arab muslim) di pantai barat Sumatera. Demikian penjelasan syekh Syamsuddin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib al-Dimasyqi (syekh al-Rabwah) melalui karyanya, Nukhbat al-Dahr. Penjelasan serupa disampaikan oleh J.C. van Leur dalam karyanya, Indonesian Trade and Society, Thomas W. Arnold lewat karyanya, The Preaching of Islam dan Ahmad Mansur Suryanegara dalam karyanya, Api Sejarah.
Kedua, candi Borobudur lebih diistimewakan ketimbang masjid agung Demak. Borobudur secara arsitektural, memang jauh lebih indah dan lebih megah ketimbang masjid Demak. Akan tetapi, sejarah di baliknya amat seram. Candi-candi, seperti Borobudur dibangun dengan pengerahan secara paksa tenaga rakyat jelata tanpa upah dan tanpa perlakuan layaknya manusia. Jadi, di balik indahnya Borobudur, terpendam sejarah kelam kemanusiaan. Masyarakat pribumi justru menemukan kemanusiaan dalam Islam, agama yang menempatkan semua secara sama rata, bukan berdasarkan kasta. Masjid agung Demak adalah simbol kejayaan Islam dan kemanusiaan di tanah Jawa. Dengan demikian, manakah yang lebih indah antara tampilan luar biasa dengan sejarah yang menyiksa atau tampilan biasa, tetapi sejarahnya luar biasa?
Ketiga, Sunan Gunung Jati adalah pahlawan nasional pertama. Akan tetapi, beliau hanya dikenal sebagai pendakwah yang dibekali kesaktian dan kemampuran supranatural. Sebenarnya lebih dari itu, beliau adalah pahlawan pertama Indonesia. Nun jauh sebelum kedatangan organisasi niaga kolonialis dari kerajaan Protestan Belanda, yaitu Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), Indonesia terlebih dahulu didatangi oleh kerajaan Katolik Portugis. Kedatangan mereka tidak lain kecuali demi penjajahan. Saat itu, mereka berlabuh di kota Sunda Kelapa. Oleh karena tercium niat busuk mereka, syekh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati menggerakkan massa untuk mengusir mereka. Pihak muslim pribumi memenangkan pertempuran. Kemenangan ini diabadikan dengan mengubah Sunda Kelapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527 M yang bertepatan pada 22 Ramadhan 933 H. Nama Jayakarta terinspirasi dari ayat pertama surat al-Fath:
اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًا
Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata. (QS. Al-Fath [48]: 1).
Kemenangan yang nyata adalah kemenangan yang paripurna. Kemenangan ini tersimbolkan oleh kata Jayakarta. Jayakarta belakangan dikenal sebagai Jakarta.
Keempat, pesantren sempat dinilai sebagai lembaga pendidikan yang ketinggalan zaman. Mengapa demikian? Karena perlawanan dan perjuangan datangnya dari ulama dan santri. Guna memadamkan perjuangan mereka, Belanda memviralkan fitnah bahwa pesantren adalah pendidikan yang ketinggalan zaman. Bung Tomo – dikutip oleh Ahmad Baso, dalam bukunya, Pesantren Studies – mengakui betapa santri lebih mencintai tanah air ketimbang mereka yang lulusan luar pesantren. Eduard Douwes Dekker dengan nama pena Multatuli, penulis novel legendaris, Max Havelaar, bertestimoni, “Jika tidak karena sikap dan perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme (kepahlawanan) di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.”
Kelima, Hari Pendidikan Nasional jatuh pada 2 Mei, hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa pada 1922, padahal jauh sebelum beliau, K.H. Ahmad Dahlan telah mendirikan organisasi masyarakat (ormas), Muhammadiyyah tahun 1912. Organisasi ini jauh lebih kuat pengaruh dan persebarannya di bumi Nusantara, termasuk dalam perjuangan kemerdekaan dibanding Taman Siswa. Ki Hajar adalah penganut ajaran Selasa Kliwon, bukan Islam Aswaja. Akan tetapi, mengapa tanggal kelahiran beliau yang dipilih sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)? Soekarno adalah santri K.H. Ahmad Dahlan dan sebelum proklamasi, memohon izin kepada beberapa ulama, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Ketika masih belia, Soekarno pernah mendapat kehormatan dicium ubun-ubunnya disertai doa oleh KH. Khalil, Bangkalan, guru pendiri NU. Akan tetapi, mengapa bukan salah satu dari ketiga ulama ini yang tanggal lahirnya dinobatkan sebagai Hardiknas?
Keenam, istilah nasional dicetuskan oleh Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) di Bandung pada 4 Juli 1927, padahal jauh sebelum itu, Centraal Sjarikat Islam telah menggunakannya, tepatnya pada National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama – 1e Natico di Bandung, tertanggal 17-24 Juni 1916. Mengapa bisa demikian? Apa hanya karena ada kata “Islam”, sehingga Sjarikat Islam tidak pantas menyandang predikat sebagai pencetus istilah keramat itu?
Ketujuh, nama Indonesia dipelopori oleh Dr. Soekiman Wirjosandjojo pada 1925 dengan mengubah Indische Vereniging menjadi Perhimpoenan Indonesia dan mengubah majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Akan tetapi, adakah nama sang pencetus terdengar di telinga kita? Tidak. Mengapa? Karena dia aktif di organisasi Islam, sehingga perannya ditiadakan dari percaturan sejarah Nusantara.
Tulisan ini tidak untuk memosisikan agama lain di Nusantara secara inferior (di bawah), tetapi sebagai aspirasi supaya keadilan sejarah ditegakkan. Salah satu penyebab kehancuran bangsa ialah ketika sejarahnya disalahtuliskan dan parahnya lagi dibiarkan. Demikian. Wallahu A’lam.

