Gapura, NU Online Sumenep
Ragam cara dilakukan untuk meraih keberkahan di Bulan Suci Ramadlan. Belum afdhal rasanya, jika dalam momentum tersebut tidak dimanfaatkan untuk meningkatkan ibadah, baik yang sifatnya spiritual maupun sosial.
Seperti yang dilakukan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gapura, sepanjang Bulan Ramadlan secara anjangsana melaksanakan kegiatan Khatmil Qur’an dan Santunan Anak Yatim, berpindah dari satu desa ke desa yang lain.
Peringatan Nuzul Qur’an dan Penutupan Khatmil Qur’an menjadi penanda telah usainya kegiatan yang berlangsung selama satu bulan itu. Jajaran Pengurus Syuriah dan Tanfidziyah MWCNU Gapura beserta Lembaga dan Badan Otonom (Banom) turut hadir dalam rangka purna kegiatan yang berlangsung di Aula Bintang Sembilan Kantor MWCNU setempat, pada Minggu, (9/5/2021).
Kiai Mursyidul Umam, Wakil Rais MWCNU Gapura menuturkan bahwa diselenggarakannya kegiatan Khatmil Qur’an dan Santunan Anak Yatim selama satu bulan tersebut tentu sebagai satu upaya untuk menjalankan amanah yang ditugaskan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jalil Battangan Gapura Timur tersebut menambahkan bahwa selain merupakan amanah juga untuk meraih barakah dan syafaat dari Al-Qur’an.
“Karena, Al-Qur’an akan menjadi penolong bagi para pecintanya dan pembacanya. Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT dan mengandung barakah,” ujar Kiai Mursyid, sapaan akrab beliau.
Di kesempatan itu, MWCNU Gapura juga menyerahkan bingkisan kepada para guru ngaji sebanyak 17 orang yang diambil dari perwakilan masing-masing desa. Bingkisan tersebut berasal dari dana yang dikucurkan oleh Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan (KSPP) Syariah Baitul Maal Wa at-Tamwil Nuansa Umat (BMT NU) Jawa Timur.
KH. Moh. Alwi, selaku Ketua MWCNU Gapura berharap agar segala kegiatan positif yang dilaksanakan itu menuai manfaat jangka panjang. Sehingga pihaknya meminta sambungan doa agar khidmahnya di NU mampu amanah dan barakah.
“Khatmil Qur’an itu kita laksanakan di masing-masing kediaman Pengurus Harian MWCNU Gapura. Jadi, kami mohon sambungan doanya agar kami dalam menjalankan tugas dan pengabdian di NU bisa amanah dan menuai barakah,” pintanya.
Acara tersebut juga diisi tausiyah keagamaan oleh Kiai Muhsi Mas’ud, yang juga merupakan Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) MWCNU Gapura.
Dalam ceramahnya beliau menyampaikan bahwa mengabdi di NU harus totalitas. Sebab hal tersebut sebagai ikhtiar meraih barakah dari para Muassis. Seperti Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, Mbah Manaf Lirboyo, guru KH. Maimoen Zubair, dan para kiai-kiai lainnya.
Lebih jauh, Pengasuh Pondok Pesantren Paramaan Gapura Barat itu menambahkan terkait pentingnya menjaga sanad keilmuan, dan itu sejak awal memang dijaga dengan baik oleh NU.
“Sanad itu penting. Andaikan tidak ada sanad maka orang akan sembarangan ngomong tentang agama. Ilmu agama dilindungi isnad (sanad) atau silsilah keguruan yang menjadi ciri khas Ahlussunnah Wal Jama’ah an-Nahdliyah, dan itu tidak ada di lainnya (organisasi). Hanya di NU,” ungkap Kiai Muhsi.
Momentum Nuzulul Qur’an, menurut Kiai Muhsi hendaknya dijadikan refleksi untuk tidak meragukan keabsahannya. Sebab Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia. Karenanya, menjadi tanggungjawab bersama untuk mengimplementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Di Al-Qur’an juga ada ayat tentang toleransi, yang pada intinya ketika cerama di tempat umum maka tidak boleh menyinggung agama orang lain. Yang bisa kita petik dari Nuzulul Qur’an adalah at-taisir (memudahkan umat),” pungaksnya.
Editor: Ibnu Abbas

