PEJALAN LINIMASA
Ia yang berjalan antara bahasa paling sunyi
Obituari yang tak selesai buat dibaca
Baginya hidup telah jadi semacam perayaan
Sedikit celoteh, bergembira dengan para peminum teh
Kekasih acap mengingatkan
Bahwa tualang mesti disudahi
Pada dinihari kesekian
Setelah obituari membaca langkahnya
Yang tersesat ke dalam puisi-puisi Rumi
Senjakala mendadak gaduh
Menerbangkan pertanyaan-pertanyaan
Tentang cinta dari bibirnya yang dikultuskan malam
Surabaya, Juli 2021
MELANKOLIA SUATU KETIKA
Kau mengingat minggu yang kelewat dicatat
Waktu menjelma puing-puing kaca
Menggusur melankolia kita
Puing-puing kaca berguguran dari langit kota
Menggusur melankolia dari dada kita
Orang-orang sering merindukannya
Menyeru-nyerunya dalam doa malam mereka
Sementara para penyair menenggaknya
Sebagai minuman paling berkelas
Mengusir kenangan dan mimpi-mimpi buruk
Surabaya, Juli 2021
SESEORANG YANG BERJALAN DALAM BAHASA
Seseorang itu mungkin kau, yang termenung-menung
Di beranda bahasa, mencari kata yang terseok-seok mengucap cinta.
Seseorang yang datang pagi itu mungkin kau, termenung-menung
Sesampainya di beranda bahasa, mengucap beberapa patah kata
Yang seketika hingar serupa imaji berdesakan mengepung
Dengan sejumlah mantra-mantra paling rahasia
Surabaya, Juli 2021
RIWAYAT KATA
Di hadapan pagi
Ibu menyerahkan leluconnya
Tentang kata-kata
kata-kata, nak,
adalah sekumpulan hantu-hantu
yang membisikkan rahasia waktu
ke dalam kepalamu
kata-kata, nak,
adalah sekumpulan hantu-hantu
yang membujukmu masuk ke dalam anafora suara”
Surabaya, Juli 2021
BERSAMA PAGI DI BERANDA
Bayanganmu masih setia kutuliskan sebagai larik sajak
Seraya berkasidah tentang sepasang cahaya
Dari arah timur, gemetar menafsir jejak suara terakhir
Bayanganmu selalu datang di awal pagi
Ketika kata-kata di kepalaku berdesakan
Minta dituliskan, sementara imaji berloncatan
Seakan ingin mengajakku berbicara
Dari arah timur, jejak suara terakhir
Barangkali hanya gema dari angin kemarau
Metafora-metafora yang menggigil
Ketika kusebut namamu
Surabaya, Juli 2021
NYANYIAN PALING PUTIH
Adakah nyanyian paling putih
Ketika mimpi-mimpi
Menyihirmu jadi melankolia?
Seorang laki-laki menuliskan ini
Dalam sebuah obituari sederhana
cinta yang pulih
sembuhkan waktu
yang menggigil
ketika metafora-metafora
menafsir kesedihan
yang disembunyikan sepasang musim
Di mana bisa kudengarkan nyanyian paling putih
Selain hatimu yang penuh dengan imaji tentang rindu
Cinta yang tawar seringkali tumbuh di sana
Beriring rahasia-rahasia paling biru
Surabaya, Juli 2021
MUSIM MELANKOLIA
Tiba kita pada sebuah musim
Di mana orang-orang dikutuk kesedihan
Tiba kita pada sebuah musim
Di mana orang-orang saling meratap
Dan mengusir lelucon dari panggung perhelatan
Ini musim kesekian, ibu
Tak ada lagu-lagu kerap bising kudengarkan
Orang-orang berjalan dalam kesedihan mereka
Dan tak seorang pun tahu mengapa kota
Kini memelihara kesedihan
Yang kutahu, ibu
Musim ini seharusnya datang beribu imaji
Dari arah utara, menggandeng rindu
Yang baru berkelana dari gurun paling rahasia
Surabaya, Juli 2021
Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Puisi-puisinya dimuat Koran Tempo, Radar Banjarmasin, Banjarmasin Post, Tribun Bali, Majalah Mata Puisi, Majalah Sastra Kandaga, Buletin JEJAK, Radar Tasikmalaya, Harian Analisa, Harian Rakyat Sultra, Harian Rakyat Sumbar, dan Koran Merapi. Puisi-puisinya juga terangkum di sejumlah antologi bersama, antara lain: Hikayat Secangkir Robusta(Antologi Pemenang dan Nominasi Cipta Puisi Krakatau Award 2017), Negeri Bahari(Negeri Poci 8), Bulu Waktu(Antologi Puisi Perayaan 10 Tahun Sastra Reboan, Jakarta, 2019), dan Senyuman Lembah Ijen(Antologi Puisi Banyuwangi, 2018). Bergiat di Kelas Puisi Bekasi(KPB). Buku puisi tunggalnya TALKIN(2017) dan Suara Tanah Asal(2018). Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya.

