Lenteng, NU Online Sumenep
Di era digital, para pemuda dan pelajar mulai kecanduan dan menjadikan Media Sosial (Medsos) sebagai aktivitas sehari-hari. Hakikatnya medsos merupakan sarana bertukar informasi yang sehat antar sesama dan bisa merubah perilaku seseorang.
Namun kenyataannya, akhir-akhir ini pengguna Medsos berkomentar semaunya, seperti memaki, menghina dan lain sebagainya. Inilah yang memicu perkelahian dan penganiayaan.
Penegasan ini disampaikan oleh Firdausi saat menjadi narasumber di acara talk show kepemudaan dengan tema ‘Pemuda Bijak Bersosmed’.
Acara yang diselenggarakan oleh Karang Taruna tunas muda Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, dihadiri oleh Camat, Kepala Desa, Danramil, Kapolsek, dan tokoh agama di balai desa, Rabu (27/1/2021).
Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep tersebut mengajak kepada tokoh masyarakat untuk memulai budaya literasi sejak dini, terutama di lingkungan keluarga.
“Sekali-kali anak diajari menggunakan Medsos oleh orang tuanya, seperti mengunggah status di WhatsApp, Facebook, Twitter, dan Instagram,” pintanya.
Selain itu, anak juga diajari menyaring informasi sebelum di share di group. Dan yang lebih penting lagi adalah orang tua berani menghapus tayangan atau konten-konten yang tidak ramah.
“Kami berharap agar anak dibiasakan mendiskusikan soal informasi yang beredar di Medsos agar anak terbiasa bertutur santun,” harapnya.
Wakil Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan tersebut mengimbau kepada generasi muda untuk tidak menceritakan permasalahan pribadinya di Medsos. Karena saat ini, seolah-olah rentetan cerita hidup bisa menjadi konsumsi publik.
Seharusnya, permasalahan pribadi hanya diketahui oleh dirinya sendiri dan orang tuanya.
“Lucu sekali seorang pemuda memilih Curhat di Medsos dibandingkan Curhat pada orang tuanya. Ini sudah keluar dari falsafah orang Madura, yaitu bhupa’, bhabhu’, ghuru, rato. Padahal dari dulu orang tua dan guru memiliki otoritas kharismatik serta selalu memberikan nasihat pada seorang anak,” sergahnya.
Direktur pcnusumenep.or.id tersebut juga mengajak kepada audien agar tidak menyebarkan aib atau kejelekan orang lain di Medsos. Karena Nabi menganjurkan kepada umatnya untuk menutupi aib orang lain. Jika disikapi secara dewasa, maka Allah SWT akan merahasiakan aibnya di dunia dan akhirat.
“Kalau mau menyebut aib temanmu, ingatlah bahwa lebih besar aibmu. Kesalahan orang lain engkau lihat, kesalahanmu sendiri tak kau lihat,” ujarnya saat menyitir nadham Almaghfurlah KH Muhammad Habibullah Rais dalam kitab Tarbiyatus Syibyan.
Sebelum menyebarluaskannya, tengoklah atau berkacalah terlebih dahulu dalam diri kita masing-masing. Sebagaimana dalam pribahasa ‘kuman di seberang lautan kelihatan, namun gajah dipelupuk mata tak kelihatan’.
Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk tersebut juga mengimbau supaya tidak saling menghina dan menjatuhkan kehormatan orang lain. Karena itu semua bisa meruntuhkan jalinan kasih sayang antar sesama.
“Ingat, hindari melakukan screenshoot atau tangkap layar chat pribadi. Karena bisa menyebabkan terputusnya ukhuwah,” pintanya penuh harap.
Tak sampai di situ, dirinya menegaskan bahwa kata atau gambar yang tidak senonoh bisa menjadi masalah, seperti stiker yang viral di WhatsApp tanpa melihat efeksampingnya.
“Hindari perdebatan dalam bermedsos dan menggunakan kata-kata yang kotor. Karena orang Madura dikenal sebagai bangsa yang andhap asor. Seperti halnya pasemon para sesepuh, patao ajhalan, jhalanna jhalane, patao neng-enneng, patao acaca. Yang maknanya, seseorang harus menjalankan kewajibannya sesuai aturan yang berlaku, harus tau kapan saat berbicara,” ungkapnya dengan bijak.
Alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya tersebut melarang kepada pemuda untuk tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Ia memberikan tips agar melakukan kroscek terlebih dahulu tentang validitas informasi.
“Hindari asal klik, copy link, dan membahagiakannya di group WhatsApp. Jangan hanya buka 1 link saja. Bandingkan dengan link lainnya terutama yang benar-benar resmi,” dawuhnya.
Selain itu pula, ia mengajak untuk mencari jawaban di buku dan ahli. Karena tradisi santri adalah bertabayun dan menjadikan kitab sebagai rujukannya sebelum menarik kesimpulan.
Di akhir penyampaiannya, ia menyimpulkan bahwa generasi milenial harus mengecek kebenaran informasi dan jangan menyebarkan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
“Sikapilah informasi dengan baik, santun, dan dewasa. Hindari informasi yang menyinggung SARA, provokasi, dan propaganda,” pungkasnya.
Firdaus juga berharap dan mengajak kepada generasi muda agar tidak hanya pintar membuat status. Lebih-lebih saat ada bencana alam, pelajar dan pemuda masih sempat membuat story di dinding WhatsApp nya.
“Lucu, ada banjir di Jambu, pemuda tersebut bukan membantu pengguna jalan yang sepeda motornya mogok, malahan sibuk membuat status,”harapnya.
Acara dilanjutkan oleh bapak Adnan AR selaku Komisioner Komisi Informasi Kabupaten Sumenep yang membahas tentang Undang-Undang ITE. Acara ini dipandu oleh Deky Kurniawan selaku moderator.
Editor: Ach Khalilurrahman

