Image Slider

Isyarat Al-Qur’an tentang Tragedi Kemanusiaan dan Lingkungan

Ketika Allah SWT menyampaikan rencana-Nya untuk menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi, malaikat menyampaikan komplain yang terabadikan dalam al-Qur’an secara singkat nan padat:

قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ

Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Sesuatu yang terabadikan dalam al-Qur’an akan berlangsung sepanjang masa. Tulisan ini hendak mengekspos secuil fakta tentang kebenaran komplain para malaikat, tidak untuk membantah kehendak Tuhan, tetapi sebagai renungan akan potensi bahaya kita, sebagai manusia.

Abad 20
Abad 20 bermula dari 1901 sampai 2000. Sepanjang rentang waktu itu, tragedi mega dahsyat telah mencemari dunia. Pada abad ini, dua perang terbesar sepanjang sejarah mengguncang kehidupan, yaitu perang dunia I dan II. Perang dunia penulis maksudkan sebagai bagian dari makna wa yasfik al-dima’ (menumpahkan darah), selaku penggalan komplain malaikat.

Kompas.com mewartakan jumlah korban perang dunia I (28 Juli 1914 – 11 November 1918) sebanyak 9 juta tentara tewas, 21 juta orang terluka dan 5 juta warga sipil meninggal, karena kelaparan dan penyakit. Jerman, Rusia, Austria-Hungaria, Prancis dan Inggris, masing-masing menyumbangkan sekitar 1 juta korban jiwa.

Sementara itu, perang dunia II (1 September 1939 – 2 September 1945) merenggut nyawa yang lebih mencengangkan. Total korban kisaran 35 – 67 juta jiwa. Salah satu rinciannya ialah Uni Soviet (kini Rusia) kehilangan 7 juta jiwa, Polandia kehilangan 5,7 juta jiwa, Cina (Kini Tiongkok atau Tionghoa) kehilangan 2,2 juta jiwa, Yugoslavia kehilangan 1,2 juta jiwa, Jerman kehilangan 780.000 jiwa dan Jepang kehilangan 672.000 jiwa.

Jika ditanya apa musibah terbesar, maka jawabannya adalah manusia itu sendiri. Adakah bencana alam yang menandingi jumlah korban perang akibat ulah manusia? Letusan Kratau pada 1883 yang dinilai sebagai salah satu tragedi alam terbesar sepanjang sejarah hanya menelan 120 ribu korban jiwa. Tsunami Aceh pada 2004 yang sempat menggetarkan Indonesia dan dunia hanya menelan 230 ribu korban jiwa. Virus Spanyol (virus H1N1), selaku wabah paling ganas sepanjang sejarah hanya menewaskan 50 juta. Akan tetapi, manusia dengan satu perangnya, yakni perang dunia II mampu menewaskan 67 juta jiwa. Lain lagi dengan perang-perang di masa silam dan perang-perang yang masih berlangsung di masa sekarang. Ini masih topik peperangan. Bagaimana dengan kerusakan lingkungan akibat kenakalan manusia? Berikut ini akan penulis paparkan 3 ulah manusia yang berakibat fatal.

Pertama, Starfish Prime adalah 1 dari 5 uji coba bom nuklir Amerika Serikat di luar angkasa. Ia diluncurkan pada 9 Juli 1962. Ledakan terjadi di ketinggian 400 km dan bisa terlihat dari kejauhan hingga 1500 km. Ia menimbulkan gelombang elektromagnetik yang dahysat dengan efek pemadaman total di Hawai, merusak sepertiga satelit yang telah mengorbit, banyak sirine pencuri berbunyi serta memunculkan sinar aurora dan awan tebal dalam waktu yang lama. Kedua, Operation Plumbbob adalah serangkaian uji coba bom nuklir antara 28 Mei – 7 Oktober 1957. Ledakannya menyebabkan 120 juta orang terpapar radiasi, sehingga 20 ribu orang meninggal. Ketiga, Tsar Bomba adalah bom nuklir milik Rusia dengan berat 27 ton. Saat diledakkan pada 30 Oktober 1961, ia menghasilkan jamur api setinggi 64 km, padahal ia dijatuhkan dari ketinggian 34.500 kaki (lebih dari 17 km). 55 km dari pusat ledakan, banyak rumah hancur berantakan, sedangkan ratusan km dari pusat ledakan, banyak alat komunikasi terganggu selama 1 jam. Bom nuklir menghancurkan apa dan siapa saja. Lingkungan yang terkena ledakannya akan rusak dalam jangka waktu yang sangat lama.
Alangkah dahsyatnya manusia pada abad 20. Tak heran, Anthony Giddens, cendekiawan Inggris berkomentar, “The twentieth century is a bloody and frightening one”: Abad 20 adalah masa yang berdarah dan menakutkan. Lalu bagaimana dengan abad 21?

Abad 21
Abad 21 dimulai dari 2001 sampai 2100. Sekarang kita menginjakkan kaki di tahun 2021. Pada abad ini, kita harus bersyukur, karena perdamaian dan kemerdekaan telah menyebar di mana-mana. Walaupun demikian, tragedi kemanusiaan dan lingkungan masih berkeliaran di abad ini. Berikut hendak penulis hidangkan segelintir tentangnya.
Salah satu tragedi kemanusiaan yang paling tenar di abad ini adalah penjajahan Israel atas Palestina.

Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) melaporkan pada 2014, terjadi perang antara Israel dan Hamas yang menewaskan 2.200 orang. Perang ini menelan korban dari kalangan anak-anak sebanyak 550 jiwa. Di jalur Gaza, 1.500 warga sipil terbunuh, lebih dari 11.000 orang terluka dan 100.000 orang terlantar. Sementara itu, di tepi barat Jerussalem, 58 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 6.000 orang terluka.

Di pihak lain, pembabatan hutan (deforestasi) terus berlangsung. Mufti Fathul Barri, selaku manager program FWI (Forest Watch Indonesia) memaparkan bahwa dari 2009 sampai 2013, Indonesia kehilangan 1,13 juta hektar setiap tahunnya. Dengan demikian, selama 4 tahun, Indonesa sudah kehilangan hutan seluas 4,52 juta hektar. Jika diperinci, Indonesia kehilangan hutan seluas 3 lapangan bola setiap menit. Karena laju pembabatan hutan yang sangat pesat tersebut, hutan negara ini pada 2013 tersisa 83 juta hektar. Sumatera Utara pada 2013 memiliki hutan seluas 1,73 juta hektar. Hingga 2016, luasnya berkurang 90 ribu hektar, sehingga tersisa 1,64 juta hektar. Kalimantan Timur selama 2013-2016 kehilangan hutan seluas 472 ribu hektar. Pada 2013, area hutan di sana seluas 6,37 juta hektar, namun pada 2016 seluas 5,89 juta hektar. Maluku Utara pada 2013 memiliki hutan seluas 1,66 juta hektar. Selama 3 tahun, Maluku Utara kehilangan 157 ribu hektar, sehingga pada 2016 tersisa 1,51 juta hektar.
Demikian tafsir sekilas atas ayat sebelumnya.

Informasi ini adalah teguran akademik atas kita, selaku generasi milenial. Bagaimana menghentikan tragedi kemanusiaan dan tragedi lingkungan? Apakah cukup dengan demonstrasi, bentrok dengan polisi, minta doa pada kiai atau mantra pada dukun tertinggi? Tidak. Semua itu butuh usaha yang lebih besar dan telaten. Usaha itu adalah belajar. Belajar adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin guna menata masa depan. Yuval Noah Harari, melalui bukunya 21 Lessons for 21 th Century, menyatakan, “those who own data own future”: (Mereka) itu yang memiliki data (informasi, pengetahuan dan ilmu) (berarti) memilki masa depan. Demikian. Wallahu A’lam.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga