Image Slider

Ikhtiar Menjaga Alam: Warga Nahdliyin Dusun Telbuk Gelar Rokat Bumi

Dungkek, NU Online Sumenep

Semilir angin yang cukup dingin tak menyurutkan niat warga nahdliyin Dusun Telbuk, Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek untuk melaksanakan ritual “Rokat Bumi” pada Rabu, (29/04/2021). Usai melaksanakan shalat tarawih, warga datang berbondong-bondong ke sepetak tanah dekat sawah yang dijadikan tempat melakukan ritual. Mereka juga secara sukarela membawa nasi bungkus untuk dikonsumsi bersama usai kegiatan.

Dalam ritual “Rokat Bhumi” kali ini, warga dihibur dengan kesenian musik Ul-Dhaul PECOT NGAMUK yang sengaja mereka datangkan dari luar kecamatan untuk mengisi praacara. Dan yang tak kalah penting adalah ritual “Pojian” yang menjadi acara inti dari kegiatan rokat bumi tersebut.

“Di pertengahan bulan Ramadlan yang lewat sedikit ini kita masih diberi kesehatan untuk berkumpul di sini, dalam rangka rokat bumi dan pakarangan. Dengan harapan semoga bumi Dusun Telbuk barokah dan manfaat terhadap penghuninya,” ungkap Syarwini perwakilan pemuda Dusun Telbuk dalam sambutannya.

Upacara “Rokat Bumi” dimulai dengan pembacaan tawassulan kepada para leluhur, para sesepuh, dan waliyullah yang dikeramatkan. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan “Pojian” yang dipimpin oleh KH. Mukhtar, K. Quraisyi, dan K. Ach. Taufiq berserta jamaahnya yang didatangkan dari Kecamatan Gapura. Mereka tampak khusyuk dan khidmat sambil terus merapal bahasa “Pojian” dengan rancak dan mistis.

“Ritual Pojian adalah bahasa verbal masyarakat awam ketika dulu tidak mampu memahami pesan teks agama atau bahasa Tuhan. Sehingga mereka menerjemahkan bahasaTuhan dengan bahasa lisan mereka sendiri, yaitu salah satunya Ta’ dhammong gurjem, Liya lelle’, dan bahasa-bahasa teks ritual Pojian itu sendiri. Sehingga mereka para leluhur kita memuji Tuhan tidak dengan kalam ilahiah yang sudah final dalam Al-Qur’an. Tetapi, mereka menggunakan bahasa yang mampu menerjemahkan dalam bahasa lisan mereka sendiri. Saya yakin itu memiliki makna spiritualitas yang sangat dalam,” Jelas K. Quraisyi mengenai makna ritual Pojian saat kami wawancarai.

“Yang kedua, Pojian itu mengembalikan kesadaran masyarakat sebagaimana para leluhur dulu untuk bersama-sama mengetuk pintu langit,” Tambahnya lagi.

Di sela-sela ritual Pojian, acara juga diselingi dengan memutar film dokumenter “Bumi Cipta Gelar” besutan Wachdoc. Pemutaran film ini dimaksudkan agar masyarakat bisa menjaga dan melestarikan alam.

“Jadilah masyarakat yang cerdas, ramah, dan santun. Cintailah dusunmu, jangan sampai masyarakat Dusun Telbuk jadi orang asing di dusunnya sendiri. Rawat dan nikmati hasilnya, berdaya, dan berdaulat di atas tanah sendiri,” Tegas H. Kaddam Husein salah satu tokoh pemuda Dusun Telbuk.

Beliau juga berharap agar para pemuda Dusun Telbuk bisa menjadi benteng utama dalam mejaga tanah kelahiran mereka sendiri.

Pewarta: A. Zainol Hasan.
Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga