Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
KH Yudian Wahyudi, Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila Republik Indonesia (BPIP RI) mengatakan, di dalam lagu Mars Syubbanul Wathan, ciptaan Almaghfurlah KH Abd Wahab Chasbullah terdapat diksi tanah dan air, sebagaimana dalam syair hubbul wathan minal iman.
Pernyataan tersebut disampaikan di acara Seminar Nasional dengan tajuk ‘Sosialisasi Ideologi Pancasila di Kalangan Santri dan Akademisi’. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (28/03/2022) di aula Asy-Syarqawi Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.
“Salah satu hikmah shalat adalah mengantar umat Islam agar dekat sama tanah dan air. Buktinya sebelum shalat, kita diwajibkan untuk berwudhu. Juga saat shalat, kita sujud ke tanah sebanyak 34 kali dalam sehari. Makanya penyebutan Indonesia dikenal Tanah Air,” ujarnya.
Islam di Indonesia, lanjutnya, diturunkan di negara yang ekonomis dan agraris. “Kami memakai udeng Madura, karena kami pribumi Nusantara. Selain itu, kami menghormati keanekaragaman tradisi dan pakaian khas daerah. Ini adalah simbol bahwa kami orang yang nasionalis dan religius. Bahkan Keraton Sumenep yang sampai saat ini ada, menunjukkan bahwa adanya Kebhinekaan dan toleransi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat,” ungkapnya.
Secara dhahir, sambungnya, kopiah berfungsi untuk melindungi dari serangan alam, panas dan dingin. Hal ini ma’ruf diterima oleh masyarakat. “Jadi Salam Kemerdekaan, Salam Pancasila, dan kopiah adalah produk ijtihad. Jangan sekali-kali membid’ah-bid’ahkan. Jika diniati baik, maka akan mempersatukan bangsa dan terhindar dari perpecahan,” terangnya.
Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta itu mengutarakan, untuk menjadi bangsa yang kuat secara nasionalis dan religius, pesantren harus memperkuat ilmu-ilmu eksakta.
“Mengapa Nusantara jatuh pada tangan Belanda? Karena banyak alasan, salah satunya adalah saat itu tidak memiliki teknologi militer. Jika pesantren meningkatkan ilmu ini, maka akan melahirkan ilmuwan yang handal. Wajar di sini ada Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah,” tuturnya.
Tak hanya itu, jika menggunakan bahasa Nahdlatul Ulama (NU), ternyata nabi-nabi sebelumnya tidak hanya alim dan mahir di bidang ilmu agama, tetapi ilmu-ilmu umum. Nabi Nuh a.s ahli di bidang pertahanan; nabi Yusuf a.s ahli di bidang ekonomi; nabi Idris a.s ahli home industri; nabi Isa a.s ahli kedokteran dan masih banyak lagi nabi lainnya.
“Oleh karena itu, kita harus belajar dan meneladani para nabi yang ahli di beberapa disiplin ilmu itu,” pungkasnya.
Acara diparipurnai dengan pemberian cinderamata dari Rektor Instika, KH Ah Syamli Muqsith dan Kepala BPIP RI, KH Yudian Wahyudi.

