Batuputih, NU Online Sumenep
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH Ahmad Pandji Taufieq dalam arahannya mengatakan bahwa pertemuan di NU merupakan anugerah terindah dari Allah SWT untuk bekal kehidupan dan keimanan kita semakin baik.
“Kita bermohon semoga nyawa kita nanti dicabut oleh Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah,” ujarnya di acara Penguatan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan Ranting NU se-Kecamatan Batuputih. Acara dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Munawwarah Batuputih Kenek Kecamatan Batu Putih, Ahad (02/01/2022).
Pihaknya melakukan silaturrahim yang dikemas dengan Turun ke Bawah (Turba) tiada lain untuk penguatan Jamaah dan jam’iyah dan mempererat pertalian antara pengurus PCNU dengan MWCNU serta Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU).
“Bagaimana antara pengurus di tingkat desa sampai kabupaten satu gelombang, se-visi dan satu bahasa,” ujarnya saat memulai arahan.
Beliau sebut terkadang satu visi tapi belum sebahasa. Yang lebih penting lagi, ujarnya, bisa solid sebagai sebuah jam’iyah.
Secara historis, menurutnya, Batuputih memiliki akar kesejarahan yang kuat, karena kerajaan Sumenep, konon katanya dulu ada di Batuputih.
“Jadi saat ini kami sedang berkunjung kepada Sang Raja. Batuputih boleh saja bahasanya sekeras batu, tapi hatinya putih dan lembut seputih Batuputih,” tambahnya disambut senyum hadirin.
Putihnya hati orang Batuputih karena dibaca sebagai muhibbinnya para kiai. Terbukti, disaat banyak orang mengaku NU tapi anak-anaknya disekolahkan di lembaga pendidikan umum non pesantren. Namun di Batuputih putera-puterinya terasa tidak sah kalau tidak dimondokkan ke pesantrennya kiai.
“Muhibbinnya kiai, terasa gundah gulana hatinya kalau putranya tidak mondok ke pesantren. Orang Batuputih muhibbinnya orang shaleh, sehingga atsarnya kuat di masyarakat,” tuturnya memuji warga Batuputih.
Karena hal itulah, katanya, PCNU ingin sharing, ingin membaca dari dekat bagaimana Batuputih bisa mencintai kiai seputih itu. Dengan itu pihaknya ingin satu gelombang dalam kehidupan jam’iyah.
Satu gelombang yang dimaksudkan Kiai Pandji adalah amaliahnya satu, yakni tahlilan, maulidan dan sejenisnya, tapi begitu urusan sosial kemasyarakatan dan ekonomi seperti penjualan tanah ke korporat kadang belum ikut kiai, malahan jalan sendiri-sendiri.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk ini menyebut bahwa lawannya adalah mart-mart yang padat modal, padat teknologi, dan padat jaringan.
“Mart pusat-pusat perbelanjaan itu kita tidak tahu siapa yang punya, justru kita gandrungi. Sementara toko dan warung kecil milik tetangga kita yang hasilnya digunakan untuk mengirim anaknya di pondok, kita tinggalkan,” sindirnya dibalas senyum polos hadirin.
Soal penjualan tanah oleh pribadi ke korporat misalnya dikatakannya repot kalau harus dicari hukumnya dalam konteks fiqih, sebab memang tanahnya sendiri, tapi sisi lain harus disadari kalau dijual ke pihak kapital yang dalam jangka panjang akan merugikan warga akar rumput, karena memiliki konsekuensi sosial yang merusak.
Beliau katakan bahwa penguatan kesadaran ranting pada masalah sosial ini bukan ingin membesarkan PCNU, MWCNU dan Ranting, tapi membesarkan NU secara keseluruhan.
“Bukan karena menjadi pengurus PCNU, lalu kita merasa mengalahkan pengurus Ranting, NU. Pertanyaan malaikat besok bukan kita menjabat sebagai apa, tapi sejauh mana peran dan manfaat kita pada yang lain,” ujarnya.
Instrumen yang akan digali cabang nanti hanya rukun jam’iyah, tapi yang terpenting penguatan aspek sosial, ekonomi agar kita satu shaf dan kita semakin kuat.
Dijelaskan pula, NU harus menjadi alat perjuangan mendapatkan hak-hak Nahdliyin yang saat ini berhadapan dengan kekuatan lain, kekuatan rezim dan atau bahkan kekuatan negara. Maka dari itu, semestinya pengurus merasakan bahwa dominasi negara semakin hari semakin masuk ke relung-relung individualitas warga. Tokoh-tokoh desa sudah diatur oleh aturan negara.
“Dulu tidak semua persoalan dibawa ke ranah hukum, ada ruang sosial untuk menyelesaikannya. Sekarang desakan negara semakin masuk ke unit terkecil. Terkadang juga terlihat kapitalistik, bahkan pada titik tertentu terlihat pro pengusaha,” kritiknya makin dalam.
Dominasi negara yang makin dalam itu membuat Nahdliyin rumit. PAra kapitalis dan pemilik modal membeli dan menguasai ruang-ruang tanah warga justru bernaung dibawah kebijakan negara.
“Pada posisi ini, negara seolah abai dengan kehidupan sosial warga yang punya hak untuk hidup demi masa depannya,” ujarnya.
Beliau juga katakan bahwa isu pokok Muktamar Ke-34 di Lampung juga berbicara soal penguatan ranting. Kalau tak ada ranting tak ada PCNU, PWNU dan PBNU. Ranting adalah garda terdepan penjaga faham Ahlu Sunnah wal Jamaah.
“Salah satu agenda Muktamar penguatan ranting. Yaitu bagaimana agar ranting punya anak sistem yaitu Pengurus Anak Ranting (PAR) berbasis masjid dan mushala agar mengakar dan mencengkram ke akar rumput,” tuturnya.
Terakhir beliau sebut bahwa besarnya NU bukan karena uang kasnya banyak. Besarnya NU adalah sejauh mana NU bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Contohnya kita ingin warga makin sedikit yang sakit karena mendapatkan siraman rohani dari NU,” tandasnya.
Editor: Firdausi

