Di masa Rasulullah SAW, sahabat Ali bin Abi Thalib RA bergegas ingin pergi ke masjid guna menunaikan ibadah shalat subuh bersama nabi. Hanya saja menuai kendala sehingga telat datang ke masjid. Usut demi usut, terhambatnya sahabat Ali dilatarbelakangi oleh seorang lansia yang berjalan di depannya. Untuk mendahuluinya, sahabat Ali tidak berani. Karena Ia memuliakan ketuaan dan uban yang tampak terlihat di kepala bapak lansia itu.
Sayyidina Ali tetap berjalan di belakangnya. Perlahan-lahan, langkah kakinya lamban, membuat suami Sayyidah Siti Fatimah Az-Zahra ikut pula melamban. Tak terasa, matahari hampir terbit sebagai petanda waktu subuh akan berakhir. Betapa terkejutnya, ternyata lansia tua itu beragama Nasrani.
Singkat cerita, di saat sahabat Ali sampai ke masjid, ia mendapati Rasulullah sedang rukuk. Dengan tergesa-gesa, Ali bergegas masuk ke dalam barisan shaf shalat. Tanpa disadari oleh Ali, nabi telah melakukan rukuk selama dua kali dan begitu lama dilakukan.
Atas kejadian tersebut, muncullah pertanyaan dari sahabat yang menanyakan penambahan durasi rukuk yang belum pernah dilakukan oleh nabi. Mendengar hal itu, Rasulullah memberikan penjelasan bahwa di saat rukuk dan usai membaca wirid subhana rabbiyal azhimi, kepala nabi tidak bisa diangkat. Karena malaikat Jibril meletakkan sayapnya di atas punggung nabi.
“Ketika malaikat Jibril mengangkat sayapnya, baru kuangkat punggungku,” kata nabi dalam kitab Usfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar, halaman 3-4.
Alasan Jibril menahan punggung nabi adalah Sayyidina Ali bergegas mengejar shalat subuh. Hanya saja terhalangi seorang lansia di tengah jalan. Beliau tak mengetahui bahwa bapak itu seorang Nasrani. Sedangkan beliau sangat menghormatinya. Semenjak berada di belakang lansia tersebut, beliau tak pernah mendahului orang lansia itu.
“Jibril menahan punggungku di saat rukuk agar Ali dapat mengikuti shalat subuh. Bahkan malaikat Mikail diutus Allah untuk menahan matahari dengan sayapnya demi Ali bin Abi Thalib RA,” dawuh nabi saat menjawab pertanyaan sahabat.
Editor: A Warits Rovi

