Cerpen : Khairul Umam*
Ayah, maafkan aku jika satu-satunya yang tersisa dan masih bisa menyatukan kita hanyalah nisan sederhana yang tertancap rapuh di samping rumahmu yang berdebu dan dipenuhi sawang ini. Rumah sejak aku masih bisa merasakan peluk kasihmu menjalari seluruh tubuh menjadi saksi yang bisu. Ya, rumah tempat kita sekeluarga selalu menghabiskan waktu dengan gembira setelah semua anggota keluarga berkumpul. Kaupulang dari sawah dan ibu selesai mempersiapkan hidangan di dapur.
Kita selalu makan bersama di lincak yang kaubuat dari tangan kokohmu meski terlihat ringkih. Tangan yang terlatih memegang cangkul, sabit, dan bajak yang ditarik dua sapi peliharaanmu sendiri. Tidak banyak menu yang disajikan. Cukup sayur kelor, lauk tempe, dan sesekali ikan cakalang jika dompetmu sedang berisi agak penuh. Jagung penyek hampir bisa dipastikan selalu mewarnai menu makanan kita setiap hari. Tidak mewah, tapi nikmatnya sungguh tak terkatakan.
Saat itu, setiap berkumpul di tanean yang membujur ke barat seperti menombak matahari yang hampir tenggelam, kau selalu menasihatiku sebagai satu-satunya anakmu dengan bahasa yang kadang sulit kumengerti namun begitu berkesan dan membuatku seperti sedang tak diceramahi. Sambil menatap matahari menguning dan awan yang bergaris keemasan kauusap punggungku dan sesekali kepalaku sambil bercerita. Saat itu kita hanya tinggal berdua. Ibu sudah lama pergi entah ke mana.
“Kau adalah anakku satu-satunya. Kelak, jika kau telah dewasa dan aku sudah mulai renta maka kuingin kautak meniggalkanku sendiri.” Aku tahu, di antara desah dan berat suara yang keluar, kau selalu merasa kesepian sejak ibu meninggalkanmu ke luar kota dan sejak saat itu tak pernah berkabar. Namun, tak pernah sekali pun kudapati kaubermaksud memberiku ibu baru lagi. Entahlah apa yang terlintas di benakmu. Yang kutahu selalu damai bersamamu.
Aku terdiam sambil menatap warna keemasan yang mulai memerah melintang dari utara ke selatan di ufuk barat, tepat di atas atap musala keluarga.
“Jadilah anak yang berbakti kepada siapa pun yang membutuhkan. Termasuk kepada orang tuamu, Nak. Karena satu-satunya harapan orang tua hanyalah anak yang berbakti.”
Diam.
“Bagaimanapun usia akan terus bertambah. Kau akan semakin dewasa dan aku menjadi tua bahkan renta. Saat itulah setiap orang tua sangat menunggu dan berharap anaknya akan terus berbakti sepenuh hati. Bukan karena aku ingin minta balas jasa telah membesarkanmu. Tidak. Itu hanya harapan setiap orang tua. Bagi setiap orang tua melihat anaknya sukses adalah anugerah tapi melihat anaknya berbakti itu adalah anugerah terindah. Tak dapat ditukar oleh apa pun.”
Aku anggukkan kepala sambil merasakan hangat telapak tanganmu yang mengusap punggungku tiada henti. Ada aliran tenaga yang sulit kuterjemah. Aku hanya bisa menikmatinya dengan pelan dan tenang sambil menikmati pemandangan yang menyejukkan.
“Satu hal penting yang perlu kauingat. Saat aku telah berpulang, kuburlah aku di tanah milikku, tanah sangkolan dari leluhurmu yang saat ini menjadi tempat bersandar kehidupan kita. Jagalah jasadku di sana. Kelak, jika kaumerindu aku maka kelolalah tanah itu sebaik-baiknya. Saat itu pula kautelah bersamaku sedekat mungkin.”
“Kalau aku besok tak jadi petani bagiamana?” Aku bertanya polos dan tanpa maksud apa pun. Kauhanya tersenyum ringan. Cahaya matamu yang menyapu mataku begitu sejuk dan menyenangkan. Aku seperti berlayar di kedalaman samudera bening. Lalu kaumenjawabnya singkat.
“Bisa kaukelolakan ke orang lain. Terpenting jagalah tanah itu dan kuburlah aku di sana. Setidaknya kau akan terus bisa menziarahiku setiap waktu kaubisa dan aku akan tersenyum melihatmu bahagia bersama anak dan istrimu kelak.”
Kemudian selalu kaututup nasihatmu itu dengan beranjak ke musala dan salat magrib di sana. Kauhabiskan waktu magribmu dengan berdoa dan berdzikir. Entah apa yang kauminta. Saat itu, terkadang aku ikut teman mengaji ke langgar Ke Nadzar atau bemain petak umpet jika kebetulan malam bersanding dengan rembulan yang sedang terang. Melihat ulahku, kauhanya diam dan sesekali tersenyum indah.
*****
Ayah, maafkan aku yang sudah lama menghilang dan tiba-tiba kudapati semuanya telah berubah. Mungkin engkau akan kecewa pada anakmu yang telah lengah atau bahkan durhaka ini, entahlah. Saat kauterakhir kali memberi nasihat padaku, saat itu kautelah benar-benar lemah dan hampir tak bersuara, kautetap saja memintaku menguburkanmu di tanah leluhur kita. Tanah sangkol yang telah dirawat lintas generasi. Tanah yang semestinya aku jaga dan kautenang tidur di sana selamanya.
Namun, pengembaraanku mencari ilmu agar kausemakin bangga mempunyai anak sepertiku telah benar-benar membuatku menyesal dan mungkin juga engkau di alammu yang baru. Tanah itu dengan cepat telah berpindah tangan tanpa aku tahu. Nenek telah berusaha mengelak saat beberapa orang mendatanginya dan merayunya untuk dijual dengan harga mahal. Hanya saja ketabahn dan kekuatan nenek tidak tergiur membuat kisah berbeda. Akhirnya, tanah itu harus lepas setelah nenek tanpa harus memberi tahu kepadaku telah dipaksa dan diteror oleh beberapa orang tak dikenal. Mereka selalu datang dan bahkan mengancam membunuhku jika nenek tetap teguh pendirian. Untuk menguatkan bukti, mereka mencoba mengelabuinya dengan suara di telepon yang meniru suaraku. Lalu, lahan itu lepaslah.
Ayah, aku bisa membayangkan betapa kau begitu murung di sana. Senyummu yang indah dan bersahaja itu mungkin telah berubah dan kauakan selalu mengutukku sebagai anak yang tak tahu berterima kasih. Mungkin juga kauakan sangat mengasihani nenek sebagai orang yang berjuang sendiri saat orang-orang itu membujuk dan memaksanya. Kautentu bertanya mengapa aku tak ada. Mungkin aku benar-benar tidak tahu dan nenek juga merahasiakan dariku agar sekolahku tak terganggu. Tapi kaupasti tetap menyalahkanku karena tak penah bertanya bagaiaman kabar dan keberadaan nenek sejak di rantau. Sejak saat itu pun aku jarang pulang karena disibukkan dengan berbagai kegiatan dan tugas kuliah.
Tak seberapa lama kuburmu dibongkar karena lahan yang selama ini kaupertahankan akan segera dibuat sebuah bangunan yang sampai saat ini tak pernah kuketahui untuk apa. Menurut kabar akan dibangun perumahan, namun kabar lain mengatakan akan dibangun hotel, ada juga yang bilang akan dibangun sport centre. Entahlah mana yang benar, sampai saat ini tanah bekas milik kita masih dipagar dengan menggunakan seng setinggi dua meter. Kuburmu telah terbongkar dan sisa dari jasadmu tak pernah aku terima meski hanya sebagian saja.
Pernah aku coba tanyakan kepada beberapa orang yang bekerja di sana karena untuk menembus langsung kepada pemiliknya sangat sulit dan mungkin mustahil. Namun jawaban mereka tak ada yang memuaskan. Hanya sekadar mungkin dan mungkin. Mereka mengatakan bahwa jasadmu telah dikuburkan di pekuburan umum. Tapi, terus terang aku belum yakin. Namun aku tak mempunyai apa pun untuk menggugatnya.
Ayah, maafkan aku jika satu-satunya yang tersisa dan masih bisa menyatukan kita hanyalah nisan sederhana yang tertancap rapuh di samping rumahmu yang berdebu dan dipenuhi sawang ini. Rumah yang sejak aku masih bisa merasakan peluk kasihmu menjalari seluruh tubuh menjadi saksi yang bisu. Ya, rumah tempat kita sekeluarga selalu menghabiskan waktu dengan gembira setelah semua anggota keluarga berkumpul. Kaupulang dari sawah dan ibu selesai mempersiapkan hidangan di dapur.
Akhirnya, untuk mengenangmu dan sebagai simbol dirimu, dengan sangat terpaksa, aku membuatkan sebuah nisan meski tanpa jasadmu. Ayah, semoga engkau tak pernah marah pada anakmu yang durhaka ini karena ambisi yang diatasnamakan kebahagiaanmu telah menyebabkan kuburan ayahnya dibongkar dan kemudian dihilangkan paksa. Entahlah ke mana harus kucari engkau. Maka, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah ini. Membuat kubur baru untukmu dengan nisan rapuh dan nama yang tertulis di atasnya. Meski kutahu engkau tak ada di sana semoga saja ini menjadi penebus bagi kedurhakaanku padamu.
Ayah, semoga engkau betah di alammu yang baru dan batu nisan yang kutancapkan di samping rumahmu yang berdebu bisa menjadi penghubungku denganmu di sana. Setidaknya engkau tetap bisa tersenyum indah. Ayah…
Sumenep, Januari 2019
*Penulis adalah pengurus Lesbumi PCNU Sumenep. Guru di MA Nasa1 Gapura dan Dosen di IST Annuqayah Guluk-Guluk.

