Giliraja, NU Online Sumenep
Di usia yang ke-27, Raudhatul Athfal (RA) Nurul Huda menggelar tasyakkuran Hari Lahirnya (Harlah) bersamaan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad. Kegiatan tersebut ditempatkan di halaman Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda Banbaru Giliraja, Senin (25/10/2021)
Kiai Abd Hafidh Yahya, pendiri RA dan pengasuh pondok pesantren Nurul Huda, dalam sambutannya mengulas secara singkat latar belakang berdirinya RA Nurul Huda pada tahun 1994 silam.
“RA Nurul Huda berdiri pada tahun 1994, kami mengawalinya dengan mengikuti pelatihan metode IQRO . Berangkat dari kegelisahan anak usia MI tidak bisa membaca Al-Qur’an, saya bersama guru pengabdian dari Nurul Islam Karangcempaka Bluto, namanya Moh Syamli, berinisiatif untuk mendirikan TKA dan TPA. Kami mengikuti pelatihan selama tiga hari di Lenteng Sumenep. Jadi dulu namanya TKA Nurul Huda,” ungkap kiai Hafidh.
Mustasyar MWCNU Giliraja itu berharap agar RA Nurul Huda terus berbenah dan bisa menjadi pilihan utama masyarakat untuk belajar Alquran, “Di Harlah ke-27 yang bersamaan dengan peringatan maulid nabi Muhammad, kita berharap semoga RA Nurul Huda terus berbenah, lebih bermanfaat, dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam belajar Al-Qur’an serta menanamkan nilai keislaman sejak dini,” tambahnya.
Sementara itu, Ach Fauzan, Kepala RA Nurul Huda, juga menyinggung cikal bakal berdirinya RA Nurul Huda dan berharap tidak melupakan jasa para muassis.
“Hari Lahir RA Nurul Huda perlu diperingati, agar anak didik dan para wali serta guru paham sejarah, bahwa perjalanan panjang RA yang kini sudah berusia 27 tahun ini tak lepas dari jasa perintis, ada kiai Hafidh dan satu orang lagi Moh Syamli, pak Syamli itu guru pengabdian dari Nurul Islam Karangcempaka Bluto. Minimal kita selalu mendoakan kepada beliau para perintis atau pendiri RA Nurul Huda,” ujar Ach Fauzan.
Harlah RA Nurul Huda dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad ini dihadiri oleh penceramah asal Pamekasan, Nyai Dzurriyatul Millah. Wanita yang saat ini menjadi Kepala RA Muslimat NU Pamekasan mengawali ceramahnya dengan pentingnya mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad.
“Peringatan maulid nabi Muhammad ini adalah secuil bukti cinta kita pada beliau, kita perlu bersyukur atas lahirnya nabi Muhammad serta meneladani dalam bebagai aspek kehidupan beliau. Dan jangan lupa untuk mengenalkan anak tentang sejarah kehidupan nabi Muhammad, kenalkan anak usia dini terhadap nilai Islam dan misi kerasulan yang dibawa oleh Nabi Muhammad,” ujar Nyai Miming, panggilan akrab Nyai Dzurriyatul Millah.
Di samping mengulas tentang maulid Nabi Muhammad, Nyai Miming juga memberikan tips cara mendidik anak usia dini, khususnya terhadap wali murid dan guru RA.
“Kepada para wali murid dan guru RA, mari kita beradaptasi dengan anak usia dini, ajari anak RA dengan cara yang unik, menghibur dan penuh dengan permainan yang menarik. Anak usia 0 hingga 8 tahun adalah fase bermain, jadi ajari mereka sambil bermain, bernyanyi dan hal lain yang bisa menarik perhatian anak,” tambahnya.
Lebih tegas lagi, dosen INSTIKA itu berharap agar para guru RA tidak bosan untuk terus belajar dan mencari metode yang tepat dalam mendidik.
“Guru itu harus cerdas dan jangan bosan untuk terus belajar, dunia anak usia dini itu sangat kompleks. Teruslah mengasah keilmuan kita, carilah cara atau metode yang paling tepat untuk mendidik anak usia dini, khususnya di RA Nurul Huda,” ungkap Nyai Miming memungkasi ceramahnya.
Pewarta: Kurdianto
Editor: A. Warits Rovi

