Pengaruh agama dalam kehidupan masyarakat sangat terasa, terutama budaya silaturahim kepada sanak famili, guru, tetangga, dan sejawat. Suatu hari ada salah satu santri asal Sumenep hendak ke Surabaya untuk nyambung sanad dan silaturahim kepada salah satu kiai. Ketika sampai di kediamannya, sang kiai mempersilahkan duduk sambil menikmati kue kering yang dihidangkannya.
Kiai: Cong, berangkat pukul berapa dari Sumenep ke Surabaya?
Santri: Berangkat pukul 07.00 dan sampai ke sini pukul 11.30-an, Kiai.
Kiai: Lumayan jauh ya. Ngomong-ngomong naik apa dari Madura ke Surabaya?
Santri: Kami dari Madura ke Surabaya naik taksi, Kiai.
Kiai: Waduh, kamu punya banyak uang dong, Cong?
Santri: Tidak, Kiai. Soalnya kami berangkat dengan bekal seadanya.
Kiai: Jangan-jangan kamu anaknya orang kaya? Atau anaknya pejabat?.
Santri: Tidak, Kiai. Kami anaknya Fulan yang berprofesi sebagai petani.
Kiai: Lalu, kenapa kamu tadi bilang naik taksi? Bukannya tarifnya taksi lumayan merogoh kocek yang banyak?
Santri: Naik taksi murah, Kiai.
Kiai: Taksi yang seperti apa, Cong?
Santri: Taksi bus mini, Kiai. Atau orang Jawa menyebutnya mikrolet.
Kiai: #$&/*&%€¥£ pantesan murah.

