Oleh: Firdausi *)
Tempo dulu, ada tujuh orang pemuda yang beriman teguh kepada Allah SWT. Raja dalam negerinya bernama Diqyanus yang menyembah berhala. Raja tersebut memaksa rakyatnya agar menyembah berhala dan siapa saja yang tidak menuruti perintahnya, maka akan dihukum mati.
Ketujuh pemuda tersebut tidak mau mengikuti kepercayaan sang raja. Kemudian ia bermusyawarah hendak hijrah dan pergi melarikan diri ke dalam sebuah gua yang jauh dari negeri itu.
Di tengah perjalanan ia diikuti anjing. Walaupun diusir, anjing itu terus mengikuti. Setelah sampai ke gua, maka masuklah mereka ke dalam. Sedangkan anjing itu menjaga mereka di depan pintu gua. Di sanalah mereka mengabdi pada Allah, sehingga mereka tertidur nyenyak. Bertahun-tahun ia tertidur, hingga sampai 309 tahun lamanya.
Raja Diqyanus yang zalim itu telah wafat dan diganti dengan raja berikutnya yang beriman kepada Allah SWT dan berlaku adil pada rakyatnya. Suatu saat terjadinya perselisihan paham tentang hari bangkitnya atau hidup kembang sesudah mati. Kemudian raja berdoa pada Allah supaya ditunjukkan kebenaran bagi rakyatnya.
Ditemukannya Ashabul Kahfi
Suatu hari ketujuh pemuda tersebut terbangun dari tidurnya. Mereka pun bertanya-tanya.
“Berapa lama kita tidur di sini?” kata salah satu pemuda. “Sehari kah atau setengah hari?” yang lainnya pun bertanya pula.
Kemudian mereka mengutus di antara mereka pergi ke kota untuk belanja makanan. Uang yang mereka bawa adalah uang perak yang masih berlaku di masa pemerintahan raja Diqyanus.
“Belilah makanan enak dan bawa ke sini dan berkata lemah lembut lah supaya orang tidak mengetahui kita di sini,” pintanya.
“Jika mereka mengenal kita, raja tersebut akan memaksa kita untuk menyembah berhala,” imbuhnya.
Ketika sampai di kota, ia berbelanja membeli beberapa makanan yang akan dibawa ke gua. Kemudian ia membayar dengan uang perak tadi.
Tatkala penjual melihat uang itu, ia kaget dan salah satu Ashabul Kahfi tersebut dituduh menyimpan uang raja purba.
Maka, ditangkap lah pemuda itu dan dibawa ke hadapan raja. Setelah raja melihat mata uang lama tersebut, ditanyakanlah pada pemuda tersebut.
“Dapat dari mana uang ini?” tanya sang raja.
“Uang ini kami dapatkan dari kota ini ketika kami melarikan diri ke dalam gua, lantaran kami akan dibunuh oleh raja Diqyanus, karena kami tidak mau menyembah berhala,” sahut pemuda itu.
“Di manakah gua itu?” tanya sang raja menginterogasi.
“Tempatnya di sana,” jawab sang pemuda.
Kemudian sang raja bersama pembesar kerajaan menuju gua tersebut bersama salah satu pemuda Ashabul Kahfi.
Tatkala sampai di lokasi, maka raja takjub dan heran, karena Raja Diqyanus lebih 300 tahun lamanya telah meninggal dunia. Jadi, itu berarti mereka tidur di gua tersebut lebih 300 tahun lamanya.
Dengan kejadian ini, menjadi pelajaran dan keterangan yang nyata bagi raja dan pembesarnya. Bahwa Allah SWT sangat berkuasa dalam segala hal, termasuk menghidupkan kembali orang yang telah mati.
Setelah itu, pemuda Ashabul Kahfi mengucapkan selamat tinggal kepada raja, lalu mereka kembali ke tempat tidurnya masing-masing di dalam gua. Ketika itu, Allah mewafatkan mereka semua. Maka, dengan hati haru sang raja menyelenggarakan shalat jenazah atas mereka. Bahkan, raja itu membuat masjid di dekat pintu gua, sebagai peringatan sejarah bagi pemuda tersebut. Serta namanya diabadikan di dalam Al-Qur’an menjadi salah satu surat yang dinamakan surat Al-Kahfi.
*) Kisah ini dinukil dari surat Al-Kahfi ayat 9-26.
*) Firdausi, Ketua LTN NU PCNU Sumenep, sekaligus Direktur pcnusumenep.or.id.

