Image Slider

Tak Bosan, Wakil Ketua NU Sumenep Kupas Akulturasi Budaya Wali Songo

Pragaan, NU Online Sumenep

Di masa Rasulullah SAW, beliau melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Tetapi saat ini, warga terjebak pada hijrah simbol dan aksesoris saja. Contohnya, memakai kerudung, cadar, berjubah, dan sejenisnya.

Penegasan ini disampaikan oleh Kiai Ach Subairi Karim saat menjadi narasumber di acara Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-76, yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pragaan, Jum’at (20/8/2021) di sekretariat setempat.

“Sebenarnya yang dibakar oleh Banser adalah bendera HTI yang berkeinginan untuk mendirikan negara khilafah. Sementara Indonesia berkonsensus menjadikan negara bangsa yang berpancasila, berdemokrasi, dan NKRI sudah final,” ujar Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep.

Tak sampai di situ, bagi warga NU, kalimat tauhid sudah ada di dalam jiwanya. Sebab setiap hari kalimat la ilaha illa Allah sering kali dibaca usai shalat fardhu, tahlilan, dan sejenisnya. Bukan dalam bentuk gambar, tetapi diejawantahkan dalam berperilaku dan perbuatan.

“Islam yang dibawa oleh para wali dan ulama tidak menggunakan cara peperangan atau tanpa ada tetesan darah serta air mata. Islam tidak dibawa ke dalam ruang kosong, sebab masyarakat terlebih dahulu memeluk agama Hindu, Budha, dan Animisme. Islam bisa diterima oleh masyarakat lewat akulturasi budaya. Kebudayaan dan kesenian menjadi infrastruktur agama untuk mensyiarkan agama Islam,” ungkap dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Raudlatul Iman (Stidar) Ganding.

Menurut kacamata Kiai Subairi, jika budaya dihilangkan, maka agama akan kering. Keinginan ini getol digemborkan oleh kalangan transnasional yang masuk ke Indonesia.

“Sebenarnya warga NU tidak memusuhi Habaib. Justru kecintaannya sudah ada sejak dulu. Yang terjadi di lapangan adalah ada oknum yang membenturkan NU dengan Habaib,” sergahnya.

Mantan Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan tersebut menegaskan, NU memahami nahi mungkar tidak membawa pentungan dan mengobrak-ngabrik keadaan. Tidak ada kiai NU yang menegakkan kemungkaran dengan kemungkaran.

“NU juga peka pada kemungkaran, tetapi pelaku kemungkaran tidak harus dimusuhi dan tetap dilindungi. NU hanya memperbaiki perilakunya yang salah,” tambahnya.

Demikian pula, saat Banser menjaga gereja terjadi penggorengan narasi. Padahal menjaga keamanan dan menjaga ritualitas, hukumnya berbeda.

“Menjaga ritualitas umat Nasrani hukumnya haram. Tetapi menjaga keamanannya tidak haram. Namun dalam tanda kutip, jika di daerah tersebut penuh dengan teror. Maksudnya, yang dijaga adalah kerukunannya. Sama dengan mengucapkan selamat hari natal untuk menjaga kerukunan umat beragama,” katanya saat menyitir pendapatnya Gus Dur.

Tak henti pula, Ansor tidak pernah membubarkan pengajian agama. Yang dibubarkan adalah provokasi yang menggunakan agama sebagai pengeras keadaan. Perlu diketahui, jubah, gamis, cadar, adalah budaya. Letak agama adalah menutupi aurat. Sedangkan batasan menutupi aurat sangat beragam menurut pandangan 4 mazhab.

“Mengapa Ning Yenny memakai kerudung tidak ketat. Sebab orang Indonesia tidak semua mengikuti Imam Syafi’i. Ini yang dinamakan toleransi. NU tidak memfokuskan pada satu mazhab saja, karena banyak ruang di dalam piranti agama yang tidak semuanya menggunakan hukum tersebut. Contohnya Imam Hanafi yang berkembang di Irak tepatnya di negara indistri menyatakan, lengan dan betis adalah batasan aurat. Jika ibu-ibu yang bekerja di sawah ngotot menggunakan mazhab Syafi’i, maka pakaiannya kotor terkena lumpur,” tuturnya, sontak audien tertawa.

Pembina Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Sumenep itu menjelaskan bahwa, tahlilan adalah produk budaya yang isinya agama. Di Indonesia, tahlilan sangat melembaga, mulai dari 3 hari kewafatan, 7 hari, 40 hari, 100 hari, hingga memperingati 1000 wafatnya para almarhumin.

“Tahlilan oleh wali songo dilembagakan. Sebelumnya, kebiasaan masyarakat adalah mabuk-mabukan, bermain judi. Perkumpulannya tetap ada, tetapi diisi dengan tahlilan. Sampai hari ini melembaga di lingkungan NU,” terangnya.

Tak hanya itu, dahulu kala di tempat kelahiran Nabi, acara Maulid digelar. Namun ketika faham Wahabi datang. Keorisinalannya berpindah ke Indonesia.

“Dulu Rasulullah pernah menangis, tangis tersebut pecah karena beliau rindu pada saudaranya yang kehidupannya jauh darinya. Siapakah mereka? Mereka yang berpegang teguh pada sunnahnya. Dan itu ada di Indonesia,” dawuhnya sambil menyitir hadits Nabi.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu mengingatkan pada pengurus Ansor agar memehami pergerakan provokasi agama. Sebab gerakan tersebut menggunakan emosi agama yang tidak menggunakan data dan realita.

“Indonesia adalah negara yang Islami dan melembagakan civil society. Mengapa? Karena bangsa Indonesia memuluk agama yang beragam. Regulasinya adalah nilai-nilainya. Pancasila adalah gaya pandang hidup berbangsa. Sebagaimana telah dibahas dalam Muktamar di Situbondo 1984 yang mengembalikan Pancasila sebagai asas tunggal negara. Bahkan sebelum kemerdekaan, Muktamar di Banjarmasin tahun 1936 memutuskan, kelak jika merdeka, maka Indonesia menjadi nation state,” tegasya.

Lucunya lagi, ketika NU mengumandangkan Islam Nusantara, kendati demikian orang mengira aliran asing. Padahal itu adalah hasil Muktamar ke-33 Jombang (2015) yang sengaja dinaikkan demi membendung gerakan transnasional.

“Yang dilawan NU adalah provokasinya. Karena saat ini ada yang menggunakan tokoh untuk mengeraskan Indonesia. Padahal Islam datang bertumpu pada budaya. Jika benturan itu dibiarkan, maka akan ada Proxy War atau perang wacana. Kasus di Afghanistan diawali dengan eskalasi sosial, kemudian menimbulkan bentrokan fisik hingga sekarang,” tandasnya.

Editor: Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga