Image Slider

Agama dan Sihir Medsos

Oleh : Zubairi El-Karim

Agama, Islam utamanya pasti benarnya karena agama produk Tuhan. Sementara medsos atau media sosial produk peradaban, produk bumi dan budaya manusia yang belum tentu kebenarannya. Medsos hanya wasilah untuk menyampaikan pesan tuhan di langit agar jatuh landai di bumi dengan cara digital, mengguyur kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan.

Agama tergantung tafsirnya. Jika tafsir agama yang digelindingkan ke bumi benar, maka benar pula jatuhnya guna menumbuhkan tanaman kesejahteraan. Begitu pula sebaliknya jika tafsir agama tendensius, ekstrem dan fanatik berlebihan apalagi penuh intrik maka agama akan jatuh berdebam  di bumi, membuat kekacauan, menggaruk kerukunan, menumpahkan darah dan air mata bertaburan.

Hootsuite (We are Social) penyaji data tren internet mencatat jumlah pengguna media sosial secara global terus meningkat setiap tahunnya. Pada Januari 2021, angkanya mencapai 4,2 miliar atau tumbuh 13,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dirinci, rata-rata lebih dari 1,3 juta pengguna baru di media sosial setiap harinya sejak 2020. Angka tersebut setara dengan 155 ribu pengguna baru setiap detik.

Di Indonesia sendiri, dari jumlah penduduk 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021.

Sungguh, betapa banyaknya pengguna medsos. Medsos telah menyihir banyak orang menjadi mesin produksi kebenaran. Mengalahkan buku, kitab, guru, kajian dan observasi ilmiah klasik. Pembelajar di medsos telah menjadi pakar mendadak, berbicara seolah lebih pintar dari pakar yang sebenarnya, padahal informasi yang didapat hanyalah serpihan-serpihan medsos.

Setiap hari ruang medsos berisi perbincangan, perdebatan, saling berbantahan tentang tema-tema aktual kontroversial, berakhir tanpa kesimpulan tanpa kesepakatan. Semua orang membawa pulang kebisingan dan dendam serta kebencian yang berkecamuk di dalam hatinya. Tak jarang gelayut kebencian itu dilampiaskan pada anak, istri dan keluarga yang tidak tahu apa-apa. Medsos yang mengolah, pengguna jadi santapan, keluarga yang pecah.

Tak dapat dipungkiri, pemahaman agama tidak lepas dari pengaruh medsos. Agamanya benar dan satu, tapi pemahamannya yang mengacaukan kita semua.

Kalau diamati, setidaknya sejak reformasi bergulir ada fenomina unik pergeseran konsumsi keagamaan yang asalnya melalui cara konvensional datang ke pesantren dan pengajian, datang ke kiyai dan tokoh aama, kini bergeser berguru agama melalui virtual dan digital pada ustaz dadakan.

Hal itu memang tidak sepenuhnya salah, sebab zaman telah menyampaikan kita ke era digital. Hal ini tak bisa dihindarkan. Kita bisa saja berpaling dari kemajuan tapi orang lain malah terancam. Arus modernisasi mengharuskan segalanya serba cepat, bahkan terkadang melahirkan sesuatu yang tak pasti. Tentu semua beda dengan masa lalu dimana zaman masih sangat konservatif dan tradisional.

Penikmat medsos lebih suka membaca hal instan sehingga agamapun  disampaikan atau dipropagandakan orang sesuai dunianya, dunia medsos. Jangan heran, medsos hari ini telah menjelma sebagai pusat informasi, komunikasi, budaya dan bahkan apapun yang dibutuhkan tentang kehidupan ada di medsos.

Jika mau jujur, di balik kemewahan modernitas sesungguhnya ada kekosongan dan kehampaan batin yang tak disadari diam-diam. Kehampaan itu  lalu ditutupi dengan cara orang mengisinya melalui penetrasi agama dan spiritualitas.

Belajar agama melalui medsos pada soal-soal sederhana tidak masalah, bahkan praktis, tapi ingat, medsos pada titik tertentu telah dikuasai kalangan radikal dan liberal sehingga  wajah pemahaman agama di medsos tersuguh sangat parsial. Agama ditentukan oleh siapa yang menyuplai makna agama pada otak fikiran kita. Inilah tantangan terbesarnya.

Lalu apa bahayanya? Pemahaman parsial akan melahirkan pemahaman setengah matang. Pemaham parsial cenderung meyakini kebenarannya sendiri, adapun yang difahami orang lain salah. Celakanya jika diikuti vonis-vonis benar salah dengan cara hitam putih.

Karena itu, maka anak orang kampung banyak yang dimondokkan di pesantren moderat bukanlah sesuatu yang berlebihan, bukan semata ingin jadi kiyai, melainkan agar anak mendapatkan pemahaman yang utuh tentang penafsiran agama yang benar. Sehingga sepulangnya ke kampung halaman menjadi luwes dalam memahami persoalan masyarakat, tidak memutlakkan pendapat sendiri dan mudah menyalahkan pendapat orang lain.

Berbagai terminologi agama yang tampil di medsos tidak lahir natural, tidak begitu saja turun dari langit, melainkan ada mesin dan tangan-tangan perkasa dibelakangnya. Sehingga wajah agama yang lembut tampil menjadi seram, menakutkan, mengancam agama orang lain dan membuat kecemasan-kecemasan. Tafsir agama yang salah sering dijadikan alat untuk mengacaukan keadaan.

Kekacauan yang dibuat menggunakan narasi agama jauh lebih dahsyat pengaruhnya daripada menggunakan isu lainnya seperti ras dan golongan, sebab agama adalah mandat Tuhan.

Dalam buku The Destructive Power of Religion, menyebutkan agama sebenarnya diciptakan untuk membangun dunia dan kehidupan manusia yang damai, namun, agama justru kerap digunakan untuk kepentingan tertentu yang bisa menjadi kekuatan untuk menghancurkan kedamaian.

Agama yang dipuja sedemikian rupa di medsos itu jika ditelisik lebih dalam bukanlah agama sebenarnya, tapi hanya tetorika agama, karena bumbunya terlalu sedap, isi substansinya diabaikan.

Retorika agama itu menundukkan nalar rasionalitas kemanusiaan. Medsos cenderung membesarkan retorika yang dimodifikasi seolah realitas nyata kebenaran.

Ingat, sejarah kejahiliyahan masa lalu misalnya mengagungkan komunitas kepenyairan karena bisa menyihir orang-orang menjadi terbuai dan melupakan nalar kemanusiaan. Yang disoal dari penyair dahulu itu adalah gelembung retorikanya yang menyulap kemunafikan atas nama agama seolah kebenaran.

Lalu kebenaran itu diviralkan di dinding-dinding ka’bah menyisir semua orang.

Akhirnya kebenaran bergantung pada viral tidaknya suatu keadaan. Kebenaran sejati tapi tidak viral adalah kesalahan. Sebaliknya kebohongan retorik asal viral akan tersaji sebagai sebuah kebenaran. Disinilah perlunya kemampuan untuk merangkai, dan menyeleksi pesan agama di medsos dengan nalar ilmiah rasional.

Media sosial Whatsapp, Youtube dan facebook adalah media yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Di dinding platform media inilah provokasi agama dibuat, diolah, dikembangkan dan digelindingkan guna menyihir banyak orang.

Apalagi kita tahu algoritme medsos sengaja dibikin sesuai preferensi penggunanya. Kebenaran yang hanya didengungkan satu kelompok dan golongan tertentu  dipercaya sebagai satu-satunya kebenaran. Begitupun juga kelompok yang lain menutup diri dari kebenaran lain diluar dirinya. Menghadapi situasi seperti inilah konon kelompok jalan tengah Aswaja lahir dengan maksud tidak ingin terjebak pada hiruk pikuk salah satu kelompok yang ekstrem dan kecamuk peperangan, tapi berdiri diatas nilai isi substansi ajaran agama.

Di medsos, wajah agama ditentukan oleh mereka yang dipopulerkan dunia maya. Peran tokoh agama yang alim dan moderat menjadi terabaikan. Warga dunia maya lebih percaya pada ustaz karbitan yang kosong isi tapi punya gaya entertainment yang menarik daripada kiyai alim yang puluhan tahun ada di pesantren karena gaya dakwah dan aksesorisnya yang konservatif. Popularitas dan banyaknya pengikut lebih rekomendatif bagi medsos daripada kiyai atau santri kampung yang terlihat kolot.

Medsos telah membalikkan keadaan dan kebenaran agama. Padahal kebenaran agama tak selalu ditentukan kuantitas tapi kualitas meski sedikit pengikut.

Kebenaran akan selau tertutupi kalau kita sebagai insan medsos tidak punya daya kritis pada setiap isu yang datang. Misalnya kampanye jahat yang sering dimainkan di medsos islam dizalimi.  Kampanye Islam dizalimi punya dua benturan, satu membentur keberagaman agama mudah digaruk, kedua membangkitkan emosi keagamaan untuk melakukan pembelaan agama tertentu dengan cara kekerasan dan memukul agama lainnya karena negara dianggap tidak adil membela mayoritas. Padahal negara sedang mendudukkan hak dan kewajiban semua agama dalam porsi yang seimbang.

Saat menjadi mayoritas agama semestinya tampil mengayomi, saat menjadi minoritas ia tampil menghormati. Keseimbangan itu yang sesungguhnya dijaga oleh negara.

Medsos seharusnya menjadi alat kontrol informasi kebenaran sejati. Medsos tak boleh menjadi alat propaganda dengan menyuburkan manipulasi informasi, menihilkan perbedaan pendapat yang menjadi ciri demokrasi. Medsos juga tidak boleh menjadi alat untuk menyerang kemapanan ilmu pengetahuan karena agama dan sains bukanlah dua hal yang bertabrakan. Medsos juga tidak boleh mengecilkan tradisi belajar komprehensif di lingkungan pesantren.

Meski telah sedemikian jauh jurang pemahaman agama yang dibelah medsos, meski radikalisme makin terlihat menguat, meski intoleransi dan prilaku ekslusif makin sulit dikendalikan, meski banyak pengguna awam tersihir dengan kekuatan medsos, meski kebenaran agama makin berada di titik nadir, kita kaum moderat tidak boleh putus asa. Teruslah menjadi lilin penerang dalam kegelapan, jangan kutuk gelap gulita, ia tidak salah apa-apa.

Percayalah, makin keras pertarungan di media sosial, nanti seleksi sosial dan alam yang akan mendewasakan dan mematangkan kepribadian kita masing-masing. Kebenaran agama yang bertumpu pada nilai tak akan mampu dikalahkan oleh kebenaran retorik media sosial yang bertumpu pada popularitas.

*) Zubairi El-Karim, adalah Wakil Ketua PCNU Sumenep, dan Dosen Stidar Ganding.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga