Oleh; Fathorrahman*)
Makan dan minum merupakan kebutuhan primer setiap insan. Meski manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ, secara sunnatullah tanpa kecukupan asupan nutrisi dan energi, manusia tentu tidak akan mampu menjalankan fungsi penghambaan secara optimal. Oleh karena itu, sebagai hamba yang bertakwa, kita tidak sepatutnya memandang urusan makan sekadar pemenuhan hawa nafsu atau rutinitas biologis belaka, melainkan menjadikannya sebagai sarana serta penopang utama untuk memaksimalkan ibadah kepada-Nya.
Al-Ghazali dalam magnum opus-nya, Ihya Ulumiddin, menegaskan bahwa jalan utama menuju wushul (mendekatkan diri secara sempurna) kepada Allah ﷻ adalah melalui integrasi antara ilmu dan amal. Namun, Al-Ghazali mengingatkan bahwa ilmu dan amal tersebut tidak akan dapat terlaksana secara konsisten tanpa kondisi tubuh yang fit dan prima. Kebugaran fisik tersebut jelas bersumber dari asupan makanan yang halal, thayyib, serta pola makan yang baik, sehat, dan benar.
Sebagai figur sentral dan pembawa risalah, setiap gerak-gerik serta tindak-tanduk Rasulullah ﷺ merupakan uswatun hasanah (teladan yang agung) bagi seluruh umat manusia. Hal ini termaktub secara jelas dalam firman Allah ﷻ pada Surah Al-Ahzab ayat 21. Keteladanan Nabi Muhammad ﷺ mencakup seluruh lini kehidupan, tidak terkecuali dalam etika, adab, serta tata cara makan dan minum sehari-hari.
Salah satu akhlak terpuji yang senantiasa dijaga oleh Rasulullah ﷺ adalah tidak pernah sekalipun mencela atau mencaci makanan. Apabila beliau menyukai suatu hidangan yang disajikan, beliau akan menyantapnya dengan penuh rasa syukur. Sebaliknya, jika beliau tidak menyukainya, beliau cukup meninggalkannya secara santun tanpa mengeluarkan kata-kata celaan sedikit pun. Prinsip luhur ini terekam indah dalam hadis shahih yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Rasulullah tidak pernah mencela makanan. Apabila menyukainya, ia memakannya, dan apabila tidak, ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berikut adalah beberapa adab makan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Pertama, beliau memulai makan dengan membasuh kedua tangan. Dalam sebuah hadis dijelaskan, “Dari Aisyah ra, sesungguhnya Nabi ketika hendak makan membasuh kedua tangannya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Dari sini dapat dipahami bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan.
Kedua, membaca basmalah sebelum makan. Apabila lupa membacanya di awal, dianjurkan untuk membacanya di tengah-tengah makan dengan sighat, “Bismillahi Awwalahu wa Akhirahu” (Dengan menyebut nama Allah pada awal dan akhirnya). Anjuran ini termuat dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila kalian makan, kemudian lupa menyebut nama Allah, maka bacalah ‘Bismillahi Awwalahu wa Akhirahu’.”
Ketiga, Rasulullah ﷺ makan dengan menggunakan tiga jari, yaitu ibu jari, telunjuk, dan jari tengah. Cara ini dimaksudkan untuk menghindarkan diri dari sifat rakus ketika makan.
Keempat, seusai makan, Rasulullah ﷺ menjilati jari-jemarinya, dimulai dari jari tengah, telunjuk, kemudian ibu jari, sebelum akhirnya mengusapnya.
Kelima, makan dilakukan sambil duduk. Posisi duduk yang dianjurkan adalah menekuk kedua lutut sambil menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan sambil menduduki kaki kiri, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari.
Keenam, Rasulullah ﷺ senantiasa mengakhiri makan dengan doa. Doa yang masyhur dibaca setelah makan, sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud, Ahmad, dan Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri, berbunyi:
الحمد لله الذي أطعمنا وسقانا وجعلنا من المسلمين
(Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami sebagai golongan orang-orang muslim.)
Selain menganjurkan adab-adab tersebut, Rasulullah ﷺ juga tidak menyukai beberapa kebiasaan dalam makan, di antaranya: meniup makanan atau minuman, makan sambil bersandar, makan menggunakan tangan kiri, memakan makanan yang masih dalam keadaan panas, makan sambil menelungkupkan wajah, makan sambil berbaring, serta makan dengan bertumpu pada tangan kiri.
Demikian sekelumit uraian tentang adab makan Rasulullah ﷺ. Semoga kita semua dapat meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam, wa Ahyana Mutamassikina bi Sunnatih!
*Dosen Ma’had Aly al-Karimiyah Prodi Tafsir wa Ulumuhu, Katib Syuriah MWCNU Dungkek, Awardee LPPD Jatim 2020 (STITA) & 2025 (Universitas Annuqayah)

