Pragaan, NU Online Sumenep
KH Mundzir Nadzir Jundullah menuturkan bahwa seseorang harus senantiasa menjauhkan diri dari sifat sombong dan meneladani akhlak luhur Nabi Muhammad SAW.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi ceramah agama dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Hidayah, Dusun Pangelen, Desa Prenduan, Pragaan, Sabtu (29/08/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Furqon Gapura Timur, Gapura ini mengibaratkan orang sombong seperti es batu.
“Orang sombong itu sama seperti es batu. Ia ingin di atas dan di depan. Ketika bersama dengan air selalu di atas dan ketika berkumpul dengan sesuatu ia ingin di depan seperti es buah, es degan, atau es campur,” ujarnya di hadapan para jamaah yang memenuhi halaman masjid.
Selain itu, Kiai Mundzir juga berpesan agar jamaah tidak meniru karakter buah kelapa yang selalu ingin di tempat yang tinggi, tetapi ketika ia diperlukan maka harus melewati berbagai cara yang keras dan pedih.
“Jadilah seperti semangka, yang tawadhu’, tumbuh di bawah tetapi ia ketika diperlukan maka perlakuannya halus,” terangnya.
Kiai Mundzir melanjutkan, sifat rendah hati tersebut sejatinya telah dicontohkan secara sempurna oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
“Rasulullah dikenal sangat tawadhu’, lemah lembut, serta memiliki akhlak yang bagus dan luar biasa,” lanjutnya.
Untuk menyempurnakan keteladanan tersebut, Kiai Mundzir juga mengingatkan pentingnya membangun hubungan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat.
“Setiap Muslim harus saling mengenal, menegakkan hak-hak kepada Allah dan Rasulullah, serta memperkuat budaya gotong royong antar-tetangga,” tambahnya.
Sebagai penutup, Kiai Mundzir memberikan perumpamaan filosofis mengenai pergaulan sosial dengan membandingkan sifat anggota tubuh manusia.
“Jadilah engkau seperti kedua tangan, jangan jadilah engkau seperti kedua telinga. Kedua tangan tidak pernah bertengkar, saling membantu dan melengkapi. Dua telinga tidak pernah akur walaupun tempatnya dekat, karena ia iri. Mari saling tolong-menolong jangan iri dan dengki,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim

