LADANG NEGERIKU
kau tebarkan saja
atau benamkan butir per butir
benih
dan tunggu tunas-tunas itu tumbuh
dari bongkahan kecil
bersama musim
batang-batang buah menjulang
menopang
begitulah sejak berabad lalu
kau hidupkan ladang dan tanah negerimu
meski tak setiap panen kau yang memetik
tetap ada yang setia menanam
karena percaya
di balik ketulusan dan doa-doa
ada remah-remah sisa
bisa menopang kehidupan
sejauh ini begitu terus terjadi
penguasa datang silih berganti
anak-anak terus dilahirkan
dengan atau tanpa kepastian
orang-orang tua masih menyimpan harapan
para penjarah, pecundang atau pahlawan
silih berganti bermunculan
mencatatkan diri dalam sejarah
ada yang singgah
ada yang sekedar melintas
keduanya harus dicatet
keduanya dapat tempat*
banyak yang mengeluh
meski akhirnya patuh
ada juga yang tersingkir
terparkir atau terjungkir
di papan nama
angka-angka prosentase
tetap tertulis
ada yang setia mengamati
banyak juga yang tak peduli
semua saling melengkapi
tapi selalu
yang berkuasa senantiasa paling sentosa
rakyat jelata biasa memandang jendela
yang terbuka
pada segalacinta, harapan dan entah apa
saling tindih di tengah mimpi dan ilusi
bertebaran di halaman
mencipta cerita berbeda
begitulah negeri ini bertahan
seiring lintasan zaman
pernah berada di depan
sekali waktu tergencet di papan
hari ini semua hanya bisa mengikuti
sampai kelak menjadi pasti
dalam berita dan cerita
Kumendung, 7 Agustus 2026
*CA: Catetan Th. 1946
TENTANG USIA DI KEHIDUPAN
tuhan sudah menetapkan
usia segala
di kehidupan ini
dengan takdir
yang sudah terukir
tak satu pun dari kita
bisa menganulir
meski ambisi terpatri
seolah tak pernah akan mati
ketika tiba saat berakhir
tak ada lagi kata “tunggu”
bisa melintasi batas
yang sudah tergaris tegas
ketika saatnya tiba
mimpi-mimpi penuh peluh dan keluh
pun berakhir
meski baru mulai terbangun
atau tengah berkembang
usia segala
di kehidupan ini
tuhan sudah tetapkan
–tanpa bisa dilawan
Kumendung, Juni 2025
KURBAN PERSEMBAHAN
tuhan
walau tanpa dipenggal
mimpiku sudah terpotong-potong
kukurbankan apa adanya sebagai persembahan
tak perlu kauganti dengan apa pun
domba, permata atau hasil kerja dan segala yang nyata
–mimpiku lebih mulia dari segala
lebih suci dari semua
kukurbankan apa adanya sebagai persembahan
selama ini aku tak pernah menjanjikan apa pada-mu
untuk kutukar sebagai imbalan
atas karunia-mu
aku tahu
segala yang ada adalah milik-mu
juga hidup dan mimpi-mimpi
tapi pada yang ku kurbankan sebagai persembahan
ada ketulusanku yang tak tergantikan
mimpiku lebih mulia dari segala
lebih suci dari semua
aku kurbankan sebagai persembahan pada-mu
semata demi mendapat ridho-mu
terimalah
Kumendung, 7 Juni 2025
TENTANG BUNGA
bunga tak pernah meminta warna
ketika mekar
ketika akhirnya mengembang
tinggal memamerkan warna yang melekat pada kelopaknya
pada lembar-lembar bibirnya
merah, putih, kuning atau ungu:
bunga-bunga mekar tanpa ragu
kumbang, lebah, atau kupu-kupu
datang tanpa pernah diundang
mereka mencari bunga tanpa berpikir membantu penyerbukan
tapi karena mereka
bunga bisa menjadi putik dan berbuah
bunga-bunga musiman
setia menunggu musim datang untuk mekar
tak akan muncul apalagi berkembang sebelum waktunya
bunga-bunga tak kenal musim
akan mekar bila kuncup sudah muncul
tanpa harus menunggu komando atau perintah
tak ada yang mencegah bunga-bunga tumbuh atau berkembang
tak pernah meributkan kapan harus mekar atau kembali kuncup
pun tak ada yang mempermasalahkan kapan layu dan gugur
bunga-bunga selalu setia muncul di ujung-ujung ranting
atau di bagian batang di mana biasanya tumbuh
mewarnai daun-daun dan pokok pohon
sesuai kodrat menyegarkan keindahan alam
tanpa harus tawar menawar apalagi membuat perjanjian
Kumendung, 2025/2026
Gimien Artekjursi. Lahir: 03 Agustus 1963. Tinggal di Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Puisi-puisinya tampil di media cetak dan online di Indonesia dan pada beberapa antologi bersama.

