Talango, NU Online Sumenep
Aswaja NU Center Sumenep bersama Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Sumenep menggelar Kajian Rutin bertajuk ‘Masyru’iyah Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: Menimbang Dalil, Argumentasi Ulama, dan Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah’, Sabtu (29/08/2026).
Kajian yang berlangsung di Yayasan Pondok Pesantren Abdul Adzim, Poteran, Talango, itu menghadirkan Lora Maimun Nafis dan KH Ach Maimun Syamsudin sebagai pemateri.
Dalam sambutannya, Lora Maimun Nafis mengingatkan pentingnya keberadaan Aswaja Center sebagai institusi yang menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah masyarakat.
“Keberadaan Aswaja Center bukan lagi sunnah, tetapi fardu kifayah. Kalau di Talango sudah ada Aswaja Center, maka Talango sudah tidak berdosa,” kata Lora Nafis.
Memasuki materi kajian, Lora Maimun Nafis menegaskan pembahasannya pada dalil-dalil masyru’iyah Maulid Nabi. Menurutnya, perayaan Maulid menjadi salah satu bentuk ekspresi kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW.
“Perayaan Maulid Nabi merupakan bentuk ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Salah satu dalil yang dikemukakan ialah firman Allah dalam Surat Yunus Ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: “Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan’.” (QS. Yunus: 58).
Pembahasan kemudian diperkuat dengan hadits dari Abu Qatadah Al-Anshari mengenai puasa Rasulullah SAW pada hari Senin. Ketika ditanya tentang puasa pada hari tersebut, Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ، فَقَالَ:
«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ، أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ»
Artinya: “Itulah hari ketika aku dilahirkan, dan hari ketika aku diutus—atau diturunkan wahyu kepadaku pada hari itu.” (HR. Muslim).
Lora Nafis menjadikan hadits tersebut sebagai salah satu pijakan bahwa hari kelahiran Nabi memiliki keistimewaan. Rasulullah, menurut penjelasannya, mensyukuri hari kelahirannya melalui ibadah puasa.
“Nabi berpuasa pada hari Senin karena pada hari itu beliau dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa hari kelahiran Nabi merupakan hari yang mulia,” jelas Lora Nafis.
Sementara itu, KH Ach Maimun Syamsudin mempertegas pembahasan dari sisi tradisi. Menurutnya, Maulid Nabi dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk selama tradisi yang dijalankan mengandung kebaikan dan tidak melanggar ketentuan syariat.
“Falyafrahu itu tidak menentukan caranya. Artinya, umat bebas mengekspresikan kegembiraan dalam memperingati kelahiran Nabi, selama tidak melanggar syariat,” kata Kiai Maimun.
Dalam pemaparannya, Kiai Maimun juga menyinggung kelompok Salafi yang menolak peringatan Maulid Nabi. Ia menegaskan perlunya membedakan istilah Salafi dengan ulama salaf yang hidup pada generasi terdahulu.
“Salafi itu bukan ulama salaf, tetapi orang-orang yang mengaku mengikuti salaf,” pungkasnya.
Editor: Lukmanul Hakim

