Jombang, NU Online Sumenep
Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Sumenep turut hadir dalam rangkaian kegiatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang diselenggarakan di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Rombongan LKKNU Sumenep dipimpin langsung oleh Hodaifah, S.Pd., Ketua LKKNU Sumenep, bersama tujuh orang anggota LKKNU Sumenep. Kehadiran rombongan tersebut menjadi bagian dari upaya LKKNU Sumenep untuk memperkuat silaturahmi, konsolidasi kelembagaan, sekaligus mengikuti berbagai agenda yang berkaitan dengan penguatan kemaslahatan keluarga Nahdliyin.
Salah satu agenda yang diikuti rombongan LKKNU Sumenep adalah kegiatan “Syiar Keluarga Maslahah An-Nahdliyah” yang diselenggarakan bersama LKK PBNU dan para psikolog dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026, bertempat di Gedung SMK Kreatif Chasbullah Jombang.
Kegiatan Syiar Keluarga Maslahah An-Nahdliyah menjadi ruang strategis untuk memperkuat perhatian NU terhadap persoalan keluarga. Forum tersebut juga mempertemukan unsur kelembagaan NU dengan para profesional, khususnya psikolog, untuk membahas berbagai tantangan keluarga yang semakin kompleks di tengah perubahan sosial.
Ketua LKKNU Sumenep, Hodaifah, S.Pd., menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan tersebut sangat penting, khususnya bagi pengurus dan anggota LKKNU di daerah.
“Kegiatan ini sangat penting bagi kami di LKKNU Sumenep. Keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat. Karena itu, penguatan keluarga harus menjadi perhatian bersama, terutama bagaimana kita mendampingi keluarga Nahdliyin agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” ujar Khodaifah.
Menurut Hodaifah, kehadiran para psikolog dari berbagai daerah memberikan perspektif yang sangat penting dalam pengembangan program LKKNU. Persoalan keluarga tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental, pola komunikasi antara suami dan istri, pengasuhan anak, pendidikan keluarga, serta berbagai persoalan sosial lainnya.
“Kolaborasi antara nilai-nilai keislaman, tradisi Nahdlatul Ulama, dan pendekatan psikologi sangat diperlukan. Dengan kolaborasi tersebut, pendampingan terhadap keluarga dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi LKKNU Sumenep untuk belajar dari pengalaman dan praktik baik LKKNU dari berbagai daerah di Indonesia. Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat program-program LKKNU Sumenep dalam memberikan pelayanan dan pendampingan kepada masyarakat.
Bagi Hodaifah, konsep Keluarga Maslahah An-Nahdliyah memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kondisi masyarakat saat ini. Keluarga tidak hanya diharapkan menjadi tempat tumbuhnya kasih sayang, tetapi juga menjadi ruang pendidikan pertama dalam menanamkan nilai-nilai agama, toleransi, tanggung jawab, kepedulian, dan kehidupan sosial yang harmonis.
“Kami berharap apa yang kami dapatkan dari kegiatan ini dapat dibawa pulang dan dikembangkan di Sumenep. LKKNU harus hadir lebih dekat dengan masyarakat dan ikut memberikan solusi terhadap berbagai persoalan keluarga,” tegasnya.
Kehadiran Khodaifah bersama tujuh anggota LKKNU Sumenep dalam rangkaian Muktamar NU ke-35 juga menjadi momentum untuk memperkuat jaringan kelembagaan antara LKKNU Sumenep, LKK PBNU, dan LKKNU dari berbagai daerah. Silaturahmi tersebut diharapkan dapat membuka ruang kerja sama dan kolaborasi dalam pengembangan program keluarga yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
“LKKNU Sumenep berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam gerakan penguatan keluarga Nahdliyin. Melalui berbagai kegiatan edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan, LKKNU diharapkan mampu berkontribusi dalam mewujudkan keluarga yang harmonis, tangguh, berdaya, dan berorientasi pada kemaslahatan,”pungkasnya.

