Image Slider

Menjaga Kesalehan di Era Medsos dengan Meneladani Sikap Insaf Ulama Salaf

Oleh: Amrullah*)

Di era digital saat ini, berbagai aspek kehidupan semakin mengalami perubahan, termasuk dalam cara manusia bersosialisasi dan berinteraksi. Media sosial telah menjadi ruang untuk berbagi informasi, pengalaman, pencapaian, maupun aktivitas kebaikan. Salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji dalam konteks kehidupan digital adalah flexing, yaitu kebiasaan menampilkan atau memperlihatkan sesuatu kepada publik.

Dalam pandangan Islam, flexing tidak selalu dapat dinilai secara mutlak sebagai sesuatu yang dilarang. Menampilkan keberhasilan, pencapaian, atau bahkan aktivitas kebaikan pada dasarnya dapat dilakukan, selama memiliki tujuan yang baik, disampaikan dengan cara yang wajar, tidak berlebihan, serta tetap mempertimbangkan etika dan kondisi sosial masyarakat. Namun, setiap individu perlu memahami bahwa tindakan tersebut harus dilakukan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesan pamer, kesombongan, riya, maupun dampak negatif terhadap orang lain (hal. 9).

Kebaikan yang dilakukan secara tersembunyi memiliki beberapa keutamaan. Sikap tersebut dapat membantu seseorang menjaga ketulusan dan keikhlasan hati serta mengurangi kemungkinan timbulnya perasaan tersakiti atau iri pada orang lain. Namun, di sisi lain, menyembunyikan seluruh kebaikan juga dapat mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk mengetahui, mengikuti, dan meneladani perbuatan baik tersebut

Sebaliknya, menampilkan atau membagikan kebaikan kepada publik dapat memberikan dampak positif, terutama sebagai sarana edukasi, keteladanan, dan inspirasi bagi masyarakat. Orang lain dapat terdorong untuk melakukan kebaikan yang sama setelah melihat contoh nyata dari perbuatan tersebut. Meskipun demikian, terdapat risiko yang perlu diperhatikan, seperti munculnya riya dalam diri pelaku, timbulnya rasa dengki pada orang lain, atau kemungkinan tersakiti oleh tampilan kehidupan yang dianggap berlebihan. Dengan demikian, baik menyembunyikan maupun menampilkan suatu kebaikan memiliki kelebihan dan risiko masing-masing

Beberapa ulama terdahulu memilih untuk tidak memperlihatkan atau mempublikasikan amal kebaikan yang mereka lakukan. Sikap tersebut didasarkan pada alasan tertentu, terutama untuk menjaga keikhlasan hati dan menghindari keinginan memperoleh pujian dari manusia. Selain itu, menyembunyikan amal juga menjadi salah satu bentuk kehati-hatian agar tidak menimbulkan perasaan iri, dengki, atau tersakiti pada orang lain.

Sikap tersebut sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw. yang menjelaskan keutamaan sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Allah.”

Di era media sosial dan digitalisasi, berbagai kemudahan hadir dan mengubah cara manusia memenuhi kebutuhan hidup. Jika dahulu seseorang harus menempuh jarak berkilo-kilometer, meluangkan waktu, dan mendatangi toko secara langsung untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan, kini hampir semua kebutuhan dapat dipenuhi hanya melalui layar gawai. Seseorang bahkan dapat berdiam diri di kamar, melakukan transaksi, memesan makanan, membeli barang, menggunakan jasa transportasi, hingga memenuhi berbagai kebutuhan lainnya melalui platform digital seperti Gojek, GoCar, Shopee, dan berbagai layanan daring lainnya.

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat konsekuensi yang perlu disadari. Kemudahan dalam bertransaksi dapat mendorong lahirnya perilaku konsumtif, yaitu kecenderungan membeli sesuatu bukan lagi berdasarkan kebutuhan dan kemanfaatan, melainkan karena keinginan, dorongan sesaat, tren, atau sekadar mengikuti gaya hidup. Ketika batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur, seseorang dapat dengan mudah melakukan pembelian secara berlebihan. Fenomena pinjaman online (pinjol), terutama ketika digunakan untuk memenuhi gaya hidup dan kebutuhan konsumtif, menjadi salah satu gambaran serius bagaimana budaya konsumtif dapat berkembang di tengah kemudahan transaksi digital, khususnya di kalangan generasi muda (19).

Karena itu, kemudahan teknologi semestinya diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri. Setiap keputusan untuk membeli sesuatu perlu didasarkan pada pertimbangan manfaat, kebutuhan, kemampuan finansial, dan skala prioritas, bukan semata-mata karena keinginan atau dorongan hawa nafsu. Dalam konteks ini, Imam Ahmad memberikan sebuah nasihat yang relevan: “Seseorang yang berhasil mengendalikan keinginannya akan mendapat ganjaran.” Pesan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menahan diri bukan hanya mendatangkan manfaat secara finansial, tetapi juga memiliki nilai spiritual. Dengan mampu mengendalikan keinginan, seseorang dapat menghindari pemborosan, mengelola keuangan secara lebih bijak, sekaligus memperoleh nilai kebaikan di sisi Allah. Inilah sikap yang penting dibangun di tengah budaya serba mudah dan serba cepat dalam transaksi digital: menggunakan teknologi untuk mempermudah kehidupan, bukan membiarkan kemudahan teknologi mengendalikan keinginan kita.

Buku ini menyajikan beragam pembahasan yang menarik dan relevan dengan dinamika kehidupan generasi masa kini, salah satunya mengenai fenomena generasi strawberry serta berbagai persoalan yang muncul di tengah derasnya perkembangan media sosial. Pembahasan tersebut tidak berhenti pada pemaparan fenomena, tetapi diarahkan untuk memberikan panduan agar media sosial dapat dimanfaatkan secara lebih bijak, sehat, dan bernilai.

Menariknya, buku ini berupaya menghadirkan kembali keteladanan, prinsip hidup, dan kebijaksanaan para ulama salaf ke dalam konteks kehidupan digital. Meskipun para ulama terdahulu hidup pada zaman ketika media sosial belum dikenal, nilai-nilai yang mereka ajarkan tetap memiliki relevansi yang kuat hingga hari ini. Keteladanan dalam menjaga lisan, mengendalikan diri, memilih pergaulan, menggunakan waktu, menjaga kehormatan, serta menyikapi informasi dengan penuh kehati-hatian dapat ditransformasikan menjadi prinsip etika dalam bermedia sosial.

Dengan demikian, buku ini bukan sekadar mengajak pembaca untuk mengenang kehidupan para ulama salaf, tetapi juga menggali nilai-nilai universal dari kehidupan mereka untuk kemudian diaktualisasikan dalam realitas masyarakat digital. Apa yang dahulu diterapkan dalam kehidupan nyata dapat menjadi pedoman dalam menghadapi ruang digital: bagaimana berbicara di media sosial, bagaimana merespons sebuah informasi, bagaimana menggunakan waktu, serta bagaimana menjadikan teknologi sebagai sarana mendekatkan diri kepada kebaikan, bukan justru menjauhkan diri darinya.

Alhamdulillah, buku ini hadir dengan menyuguhkan rangkaian kisah, nasihat, dan petuah ulama salaf yang dirangkum dari berbagai literatur klasik yang otoritatif, seperti Ihya’ ‘Ulumiddin, ‘Uyunul Hikayat, Siyar A’lam al-Nubala’, Tartib al-Madarik, dan sejumlah referensi klasik lainnya. Kekayaan khazanah tersebut kemudian disajikan dengan bahasa yang ringan, komunikatif, dan dekat dengan pembaca masa kini. Setiap kisah dan petuah tidak hanya diceritakan kembali, tetapi juga dilengkapi dengan refleksi kontekstual agar pesan moral dan nilai-nilai keislaman yang terkandung di dalamnya dapat dipahami serta diterapkan dalam kehidupan generasi media sosial.

Semoga buku ini menjadi jembatan yang mempertemukan khazanah keilmuan Islam klasik dengan realitas kehidupan digital. Selamat menikmati kisah-kisah yang menginspirasi, menyelami petuah-petuah yang menggugah, dan memetik hikmah dari kehidupan para ulama salaf. Semoga setiap kisah yang dibaca tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran, membentuk karakter, dan menuntun kita untuk menjadi pribadi yang lebih saleh, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

Judul : Suluk di Medsos, Belajar Insaf dari Kisah Ulama Salaf
Penulis : Wahid Ahtar Baihaki
Penerbit : Qaf
Cetakan : Desember 2025
Tebal : 200 hlm/SC/Bookpaper
ISBN : 978-634-04-5120-7

*) Guru SMP Nahdatul Ulama.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga