Image Slider

Wakil Pengasuh Al-Qororul Makin Prenduan, Imbau Kader Ansor Muliakan Guru

Pragaan, NU Online Sumenep

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakat yang bergerak di bidang diniyah dan ijtimaiyah, selalu mengedepankan model dakwah yang tawassutiyah, tasamuhiyah, dan tathowwuriyah.

Berangkat kesadaran ini, Kiai M Tibyan menegaskan, dakwah ulama NU berkiblat pada konsep dakwahnya para wali. Ia memberikan contoh pada sikap Raden Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus saat membiarkan jamaahnya yang baru masuk Islam tidak membasuh kaki saat memasuki masjid. Untuk mengantisipasinya, putera Sunan Ngudung itu mencarikan solusi agar warga bisa membasuh kaki setelah wudhu.

“Dibautlah kolam kecil di tempat wudhu yang tinggi airnya cukup sampai mata kaki. Akhirnya, solusi tersebut bisa membuahkan hasil, mengingat warga yang baru memeluk Islam secara perlahan mencuci kakinya,” curahnya saat menceritakan hikayah Islam.

Menurutnya, contoh di atas dinamakan filosofi garam. Di mana garam tidak tampak, tetapi manfaatnya tampak besar dan terasa walaupun tak berwujud jelas.

“Saat kita makan, pasti garam tidak akan tampak. Tetapi memberikan rasa yang begitu nikmat dan sedap. Tidak ada makanan yang bernama gulai garam, soto garam, bakso garam dan lainnya,” sergahnya saat memotivasi calon kader Ansor.

Ulama NU mengajak masyarakat bukan dengan cara yang kasar, tetapi dengan cara halus. Pada akhirnya mereka akan terarah pada jalan yang baik.

“Dari perumpamaan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Sunan Kudus membiarkan fenomena tersebut, kemudian dirangkul, sehingga secara perlahan warga ikut semua dan memahami maksud serta tujuannya,” tambahnya sembari melontarkan senyuman.

Wakil pengasuh Pondok Pesantren Al-Qororul Makin tersebut mengutarakan bahwa salah satu tujuan ber-NU adalah menyambung sanad keilmuan, agar diakui santrinya muassis.

“Orang ber-NU harus punya prinsip, supaya tidak diombang-ambingkan oleh keadaan. Yuk berpinsip lah yang benar,” ajak Ra Tibyan sapaannya.

Kiai muda yang saat ini menjabat sebagai pengurus Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Sumenep memberikan qiyas agar kader bisa mengambil ibroh. Yakni, selama ruh dan jiwa masih hidup, daging ikan tidak terasa asin walaupun hidupnya di lautan lepas.

“Jika ikan digoreng atau direbus, tiba-tiba dagingnya terasa asin. Itu dikarenakan ruhnya lepas dari raganya,” imbuhnya lagi.

Selanjutnya, ciri khas kader NU adalah mengedepankan akhlakul karimah atau taat pada guru. Kemudian, alumni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan ini menceritakan kisah ketaatan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari pada gurunya, yakni Syaikhona Kholil Bangkalan.

“Satu-satunya santri yang mengantarkan tamunya mbah Kholil yang kondisi fisiknya tidak bisa berjalan adalah muassis NU, walaupun dalam kondisi hujan. Tamu tersebut digendong hingga sampai ke hadapan guru dan mengantarkannya pulang,” curahnya.

Kanyataannya, lanjutnya, tamu yang digendong oleh mbah Hasyim adalah Nabi Khidir a.s.

“Jadi, kami imbau pada pengurus dan calon kader, agar benar-benar menghormati guru. Karena muassis NU sangat memuliakan gurunya,” tandasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga