Pragaan, NU Online Sumenep
Grassroot NU ada di desa. Mulai dari yang tua hingga muda, kader berinteraksi dengan beragam aktivitas.
Demi menguatkan kader di tingkat ranting, Su’aidi selaku Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Barisan Asnor Serbaguna (Banser) Sumenep menghadiri undangan pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Prenduan guna memberikan penguatan pada ratusan calon kader yang menyatakan siap mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). Acara dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Qororul Makin, Cecce’ Laok, Senin malam (31/5/2021).
Pria yang pernah menjabat sebagai pasukan Provost Satkorcab Banser Sumenep tersebut merasa senang jika dilibatkan oleh Ranting. Karena ruh NU berada di pedesaan.
Demi memantapkannya, dirinya mendoktrin agar tidak setengah-setengah dalam berkhidmat di NU.
“Kali ini saya kagum pada gerakannya kader Ansor di Prenduan. Ini contoh buat ranting lainnya, karena pengurus bisa menyediakan SDM dan akan menyelenggarakan PKD secara mandiri. Lain kali, kami harapkan bisa menggelar Diklatsar secara mandiri dengan menyedian 60 calon kader Banser,” pintanya penuh harap.
Selanjutnya, ia menyampaikan pesan pada calon kader Banser agar benar-benar meluruskan niat. Jadikanlah niat sebagai modal utama untuk berkhidmat dan ngalap barokahnya muassis NU.
“Jalanilah lika-likunya dan hadapi tantangannya. Pada waktu yang sama, kita akan memetik nikmat dan hikmahnya,” ungkap saat menceritakan pengalamannya.
Mantan Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Banser Bluto itu, mengajak kepada calon kader untuk mengenalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah pada teman-temannya, walaupun berbeda amaliyah, fikrah dan harakah.
“Ingat, kita tidak bisa merobohkan rumah dengan satu dentuman bom. Tetapi ambil batangnya satu persatu, maka akan roboh dengan sendirinya,” tegasnya.
Alumni Pondok Pesantren Maslahatul Hidayah Errabu, Bluto tersebut meyakini bahwa setiap kegiatan NU dihadiri oleh muassis.
“Asik aktif di Banser, ibarat kopi. Kopi terasa nikmat karena ada pahitnya. Jika banyak gulanya, maka akan tampak penyakit diabetesnya. Mangkanya, kopi pahit di Madura dijadikan jamu oleh masyarakat. Jadi Banser adalah obat yang bisa mengarahkan langkah kita lebih baik dari sebelumnya,” teragnya.
Di akhir sambutanya, ia mengimbau pada calon kader agar tidak mempermainkan sumpahnya saat pembaiatan.
“Jangan bersumpah pada Su’aidi, tapi bersumpah pada muassis. Jika yakin, janji kalian akan tidak akan luntur hingga akhir hayat. Sebaliknya, jika berkhianat, maka kalian berkhianat pada muassis,” pungkasnya.

