Cerpen: Ferry Fansuri
Mbah Man, itulah sapaan warga kampung ini untuk pria tua itu yang terlihat perlente memakai baju safari, sepatu pantofel hitam, dan selalu memakai topi mandor kolonial. Umurnya menjelang 70 tahun masih terlihat gagah dengan kumis telah banyak uban dan tangan kanan tak pernah lepas tongkat penyangga yang diujung menyembul batu satam dari Belitung.
Konon Mbah Man bekas pejuang yang ikut bergerilya dengan jendral Sudirman, berjuang semasa muda hingga pangkat terakhir yang disematkan di bahunya yaitu kapten. Memasuki masa kemerdekaan, Mbah Man pensiun sebagai pejuang dan mendapat dana pensiun tiap bulan dari pemerintah sebagai veteran.
Mbah Man beralih menjadi tukang ijon dikampungnya, ia mengambil seluruh padi dari para petani sekitarnya atau lebih cocok dibilang tengkulak. Mbah Man pun kaya raya dari hasil usahanya bahkan uang pensiunan jarang ia ambil atau kadang dirapel 6 bulan sekali.
Perawakan Mbah Man tingga besar mirip sinyo Belanda dahulu kala, kulit yang kuning langsat seperti tak pernah terbakar matahari. Dagu lancip dan wajah lonjong memancarkan ketampanan yang digilai perempuan manapun melihatnya. Biarpun dulu masa mudanya Mbah Man primadona para perawan dan janda di kampung ini, ia hanya menikah sekali seumur hidup. Kantil istrinya dari kalangan bawah tapi begitu setia mendampingi Mbah Man dari mulai tak mempunyai apa-apa hingga sekarang memiliki rumah besar luas dan sawah-sawah berhektar-hektar.
Hasil pernikahan itu menghasilkan 8 orang anak, 1 meninggal saat lahir, jadi tinggal 7 orang, 4 laki-laki dan 3 perempuan. Ketujuh anak disekolahkan dengan baik hingga semua jadi orang, ada yang dokter, insiyur, direktur, pegawai pemerintah atau pengusaha. Tapi sayangnya ketujuh anak itu telah merantau dari kampung ini dan jarang mengunjungi orang tuanya karena kesibukan masing-masing serta jarak yang memakan waktu lama sekali melewati lautan dan lembah untuk dapat mencapai kampung ini.
Pada suatu lebaran 10 tahun lalu, rumah Mbah Man itu begitu semarak. Waktu itu anak-anak bujangnya belum bekerja atau anak perawan mereka belum disunting oleh pria lain dari luar kampung ini. Mereka berdatangan dari tempat studi masing-masing, ada dari ibu kota atau kota sebelah. Kedatangan mereka selalu ditunggu Mbah Man beserta istrinya, peluk cium bagi mereka begitu mesra dan tak dilekang waktu.
Dapur-dapur terus mengepul menyodorkan makanan, pembantu-pembantu hilir mudik hantarkan sajian khas kampung ini yang menggugah selera. Canda tawa terus menggelegar seantero rumah itu menandakan pesta kecil itu telah bergulir. Semua senang tak ada gurat kesedihan di raut muka semua anggota keluarga Mbah Man.
Namun masa itu telah berlalu, tak ada canda tawa renyah dan mengalir. Tak ada pula lagi sajian makanan yang selalu dihidangkan para pembantu. Dari 10 pembantu yang dimiliki rumah ini kemudian semua dipecat dan meninggalkan 1 pembantu tua renta Bi Ijah yang merawat Kantil istrinya yang sering mengalami asam urat hingga sering berada di kursi roda.
Kegembiraaan itu sirna seketika biarpun kerinduan masih menampakkan tajinya tapi tak tersampaikan. Mbah Man merasa kesepian dirumah besar, tak ada kegaduhan yang ditinggalkan anak-anak. Sekarang merasa tak peduli akan dirinya dan asal kampungnya, terlupakan sekejap. Mereka tak lagi berkirim surat seperti sewaktu merantau belajar, surat menurut mereka sudah kuno dan tidak efisien. Perkembangan telekomunikasi telah canggih, sekarang telah ada telepon genggam bahkan sampai gawai layar sentuh.
Pernah anak-anaknya memberikan smartphone terbaru dari Samsung, tapi Mbah Man menampik dengan dalih tak bisa menggunakan. Otaknya sudah tak bisa menerima pembaruan, Mbah Man lebih suka berbau masa lalu dan tak suka perubahan jaman.
Bertemu dan bertatap muka itu yang terpenting.
Bukan perantara hanya suara dan gambar berupa ilusi yang hantarkan gelombang dari pemancar seluler. Kadang percecokan kecil itu menjadi besar, anak-anaknya malas untuk berdebat dan kemudian malas untuk berkunjung karena saja ada nasihat-nasihat yang menurut mereka tak guna lagi.
Dan itu yang membuat mereka mejauh dan menjauh.
Perihal yang tersisa hanyalah kepedihan dililit sepi, apalagi kemudian harta bendanya mulai terkikis untuk pengobatan sang istri yang mulai parah. Sediikit demi sedikit sawah dan tanah dijual untuk obat serta biaya dokter yang terus menggerogoti perlahan. Hingga habis tak tersisa, Mbah Man hanya mengandalkan pensiunan yang tak seberapa itu untuk bertahan hidup.
Dalam keterpurukkan itu Mbah Man tak sengaja atau kebetulan bertemu seseorang sufi yang mengajak bergabung dalam sebuah tarekat mengajarkan tasawuf. Di dalamnya, Mbah Man mengenal agama lebih dalam biarpun ia pernah mengaji sewaktu kecil dan hafal ayat kursi, setelah dewasa ia jarang salat.
Setelah bergabung dalam tarekat itu, Mbah Man rajin salat di masjid lima waktu, puasa Senin Kamis, bahkan salat malam ia lakukan yang biasa tak bisa bangun di sepertiga malam. Itu yang ia melakukan selama tiga tahun ini mengobati kegalauan yang terjadi selama ini apalagi ini lebaran kelima tanpa kehadiran anak-anaknya. Mbah Man hanya berdua dengan istrinya
***
Hari ini puasa tinggal tiga hari menuju lebaran, Mbah Man termenung di sajadah miliknya setelah salat tahajud. Tak lama pipinya yang cekung berkantung itu pecah dengan air mata membasahi kerut wajahnya yang mulai berlipat-lipat. Lebaran sebentar lagi tapi tak ada satu kabar pun dari anak-anak akan datang untuk merayakan Idul Fitri di kampung.
Terkadang ia mengutuk adab dan sopan santun anak-anaknya yang tak ingat lagi akan orang tua sendiri. Mbah Man merasa berdosa yang telah membiarkan mereka merantau dari kampung ini dan tak ada satu anak pun yang tinggal. Mendidik untuk mandiri menjadi bumerang baginya.
Air mata itu terus bercucuran tanpa henti dan tangan kanannya masih memegang tasbih yang terus diputar untuk zikir. Malam itu hening sekali tak ada suara binatang malam berkotek atau bersenadung. Begitu larut dan terus beranjak mencari cahaya, langit pun kemerah-merahan berpendar seketika.
***
Kerumunan itu makin mengular di depan rumah itu, satu per satu ingin masuk dan melihat empunya. Tubuh itu terbujur kaku berbalut kain putih dan dagunya diikat tali agar tidak terbuka. Alunan surat Yasin terus menggema yang sebelumnya tak pernah terdengar . Wajah-wajah sendu berkeliling di sekitar mayat itu dan para pelayat yang berdatangan berbisik-bisik satu sama lainnya.
“Kasihan.”
“Matinya tak wajar katanya.”
Di ujung ruangan itu ada seorang wanita tua yang terus saja terisak di kursi rodanya, para pelayat wanita berusaha menenangkannya. Ia tak kuasa menahan tangis atas kematian suaminya.
Tepat hari ini, hari pertama Lebaran, mestinya bersuka cita tapi duka yang menghampiri. Pria tua itu terbujur kaku tanpa senyum sama sekali, juga kerutan kesedihan tergurat di sana.
Kasak-kusuk itu terus menyelinap di antar pelayat yang terus mempertanyakan kematian pria tua itu.
“Kenapa Mbah Man bunuh diri?”
“Entahlah, mungkin ingin cepat mati. Sudah bosan hidup.”
Semua pertanyaan dalam benak pelayat tak mungkin terjawab seketika, pria tua yang berkain kafan itu memang Mbah Man. Tadi pagi ditemukan pembantunya Bi Ijah tertelungkup di sajadahnya dengan mulut berbusa. Mbah Man meninggal menjelang salat Idul Fitri. Ada hal yang aneh saat dokter kampung ini memeriksanya, Mbah Man dikenal tak sakit sekalipun dalam hidup. Kalaupun sakit hanya meriang gara-gara hujan saat ia mengawasi pekerjanya. Menurut dokter, tidak ada jejak medis akan penyakit berat yang diderita Mbah Man.
Dokter kampung ini mencurigai bahwa ada bahan asing yang dimasukan dalam mulut Mbah Man. Ada sebuah racun sengaja ditelan Mbah Man, saat merenggang nyawa itu ia mengeluarkan busa dan tahi di celananya.
“Siapakah yang meracuni Mbah Man?”
Jawabannya akan terasa sulit untuk diungkapkan.
***
Mereka pun berdatangan dengan pakaian terbaru mereka beserta anak-anak mereka. Secepatnya mereka datang dengan pesawat paling pagi dan menyewa mobil rental menuju kampung. Pada hari kedua dan ketiga lebaran mereka berduyun-duyun datang ke kampung ini.
Anak-anak Mbah Man ini akhirnya datang setelah mendengar kabar bahwa bapaknya meninggal dan tidak wajar. Kesedihan di raut muka Kantil seketika sirna ketika semua anak-anak muncul beserta cucu-cucunya, rumah ini kembali gegap gempita. Lebaran kali ini terasa semarak lagi, Kantil sejenak melupakan duka kemarin yang mendera.
Kantil merasa ada yang hilang dari keluarga ini yaitu suaminya, ini yang diinginkan dari dulu. Berkumpul di hari lebaran suka cita dan merayakan bersama tapi Mbah Man telah tiada. Kantil melihat anak-anaknya yang bersama suami dan istri mereka masing-masing dengan wajah sumringah. Canda tawa itu sampai larut malam memudarkan kabar kematian tersiar sebelumnya.
Malam itu sunyi sepi terlelap di peraduannya, Kantil kembali ke kamarnya setelah melihat satu per satu anak, mantu dan cucunya sudah tidur di kamar masing-masing. Di kamar ini Kantil merasa sendirian, biasanya Mbah Man selalu menemani atau sekadar bercerita apapun.
Kantil teringat malam sebelumnya, Mbah Man juga bercakap-cakap dengannya tapi saat itu ada yang berbeda dari intonasinya.
“Ini harus dilakukan. Karena aku tak tahu lagi dengan cara apa lagi?”
Kantil termenung mendengar ucapan suaminya dan gamang menerima sodoran buntalan kecil dari kain itu kepadanya.
“Aku tak bisa melakukan itu sendiri. Bunuh diri itu dilarang agama.”
Kantil tak kuasa memenuhi permintaan suaminya, malam sebelumnya Mbah Man meminta kopi hitam kesukaannya yang telah dioplos racun potas dari buntalan kain kecil itu.
Surabaya, April 2019
Ferry Fansuri adalah penulis kelahiran Surabaya. Karya terbarunya novel “Robot Tuhan” 2020(SIP Publishing). Salah satu juara favorit lomba cerpen “Urbanhype” Dewan Kesenian Surabaya (DKS) 2019. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional.

