Image Slider

Kiai Pandji: Tugas NU itu Menguatkan Akar dan Merimbunkan Daun

Lenteng, NU Online Sumenep
Pada Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Lenteng, Ahad (3/10/2021), Ketua PCNU Sumenep KH. A. Panji Taufiq kembali menyampaikan tentang upaya penguatan ranting melalui momentum konferensi.

Beliau sebut banyak pengurus tidak mengurus warga, tapi hanya mengurus pengurusnya. Pengurus yang berat tanggung jawabnya adalah pengurus ranting, karena bersentuhan langsung dengan warga akar rumput.

“Pohon yang rimbun daunnya kalau akarnya kuat. Tugas NU menguatkan akar, agar daunnya rimbun dan buahnya subur,” ungkapnya saat memberikan sambutan di acara seremonial Konferensi.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah ini juga mengingatkan kembali amanat Konferensi Cabang NU Sumenep yaitu ‘Penguatan Ranting’. Tugas kita, jelasnya, agar NU hadir di tengah masyarakat. Bukan hanya ada kepengurusannya, tapi NU hadir menjawab kebutuhan warga dengan program nyata.

“Konferensi bukan Pilkades. Bukan hanya memilih pemimpin, tapi membicarakan bagaimana memajukan organisasi, menguatkan ranting,” tuturnya.

Sekarang, menurut Kiai Pandji yang tampak besar jumlah NU di medsos saja, tapi masih sangat kecil kehadirannya untuk menjawab persoalan umat.

Beliau juga menyinggung bahwa pemilik negeri ini unsur terbesarnya adalah Nahdlatul Ulama. Lagu ‘Yalal Wathan’ dibuat KH. Wahab Hasbullah tahun 1934, sebelum Indonesia Merdeka. Saat penjajahan berkuasa energi santri dikerahkan untuk kemerdekaan. Semua santri diajari menyintai bangsanya “hubbul wathan’, bahkan banyak sekolah dinamai ‘hubbul wathan’.

PP. Annuqayah misalnya, menurut penuturan Kiai yang menjabat Ketua PCNU Sumenep tiga periode itu, mengajarkan bahasa nasional sejak awal berdirinya sebagai bukti kecintaan pesantren pada agama dan negara.

“Agama tanpa negara tak akan subur. Sebaliknya, negara tanpa agama akan kering,” sambungnya lagi.

Namun demikian, kata ‘Hubbul Wathan’ diharapkan beliau keluar dari hati terdalam, menjadi nafas dan perbuatan.

“Di bumi Indonesia ini kami bersujud, dibumi ini kami tumbuh, berjuang dan kelak dikebumikan,” ungkapnya.

Kita inilah pemilik negeri ini, Indonesia. Karena itu, kata Kiai Pandji, negeri ini jangan lupa pada pemiliknya. Jangan pemilik hanya disebut untuk menggencarkan vaksinasi dan KB (Keluarga Berencana). Kita ini sering lupa pemiliknya. Kenapa? karena jiwa pemerintahan belum dipegang oleh pemilik jati diri Indonesia, yaitu kiai dan santri.

Beliau minta agar nilai-nilai kesantrian terus dirawat dan tetap diperhatikan.

“Kesantrian ini jangan hanya dijadikan merk. Kesantrian harus jadi cover, watak dan prilaku kehidupan kebangsaan,” tuturnya.

Beliau juga mengapresiasi terbangunnya Kantor MWCNU Lenteng yang disebutnya sebab barokahnya Shalawat Nariyah yang selalu dibaca setiap bulan sekali sebanyak 4444 kali oleh pengurus.

“Ada getaran Shalawat Nariyah yang seolah akan menandai kebangkitan MWC-NU Lenteng kedepannya”, tambahnya penuh senyum candaan.

Beliau bangga di konferensi ada terlihat tokoh-tokoh kiyai NU, terutama banyak alumni Annuqayah turun gunung. Beliau menyebut ada K. Hasan dan K. Rifqi

“KH. Ahmad Basyir AS., KH. Ishamuddin AS., KH. A. Warits Ilyas meninggal ketika sedang menjadi pengurus struktural PCNU. Tidak ada alasan bagi santrinya untuk tidak mengikuti jejak keorganisasian gurunya,” ajak beliau pada alumni Annuqayah untuk rajin mengurus NU.

Beliau bercerita KH. Ahmad Basyir, AS. mengatakan di acara Konferensi PCNU di PP. Al-Ihsan tempo lalu, bahwa kalau beliau masih dibutuhkan oleh NU, siap menjadi pengurus. Harapannya, dengan makin banyaknya tokoh kiai pesantren dan madrasah bergabung di NU, akan menarik gerbong santri bergabung juga di NU.

Pendiri NU KH. Muhammad Hasyim Asyari, tambahnya, bersilaturrahim kepada kiai seluruh Jawa dan luar Jawa selama dua tahun di awal berdirinya NU, untuk menyatukan komunikasi pesantren dalam satu organisasi bernama Nahdlatul Ulama.

“Kenapa NU diberi nama Nahdlah (Kebangkitan), agar kiai pesantren bergabung, berjuang di NU, tidak hanya mengurus pesantren saja”, sergahnya.

Dalam meningakatkan kuantitas warga NU, beliau menyontohkan ada Ranting NU di Kediri mendapatkan penghargaan NU Award dari PWNU Jawa Timur, karena penduduk warga desanya menjadi dan terlibat langsung dalam gemuruh perjuangan NU.

Selain meningkatkan kuantitas anggota ranting, beliau juga mengajak pengurus NU rajin menggandeng birokrasi desa dan kelompok preman.

“Kiai NU zaman dahulu yang didekati bukan cuma komunitas santri, tapi juga kelompok preman, di-NU-kan,” pintanya.

Terakhir, beliau katakan, ajak semua orang tanpa melihat latar belakangnya, masuk dalam gerbong besar Nahdlatul Ulama.

“Siapa yang mengurus NU, maka ia akan diakui santrinya KH. Hasyim Asyari, dan akan didoakan husnul khatimah dengan keluarganya,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga