Batuputih, NU Online Sumenep
Banyak cara yang dilakukan nahdliyin untuk menguatkan amaliyah dan fikrah kader. Salah satunya melalui pertemuan rutin bulanan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Aeng Merah yang diisi dengan acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan dikediaman Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Batuputih, Ustadz Mas’ad Alwi, Jum’at (4/12/2020).
Acara dimulai pukul 14.00 WIB dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus MWCNU, mulai jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, Lembaga, Badan Otonom NU, dan PRNU se-Kecamatan Batuputih. Sekitar lima ratusan jamaah padati lokasi demi menyambung sanad keilmuan NU.
Sebagai bentuk menyambung tali batin kepada Muassis NU, kegiatan dimulai dengan tawassul yang dipimpin oleh Wakil Ketua MWCNU, KH. Moh Ashim Zain. Dilanjutkan dengan acara shalawat qiyam, kemudian acara inti, yaitu mauidlah hasanah yang disampaikan oleh K. Imam Sutaji.
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep tersebut menyampaikan bahwa, betapa pentingnya mengabdi di jamiyah diniyah wa ijtimaiyah. “Islam saja tidak cukup. Mestinya warga ikut berpartisipasi aktif dalam organisasi keislaman, terutama NU yang dibangun oleh Hadaratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai salah satu pelopornya,” katanya.
Wakil Ketua MWCNU Pragaan tersebut berharap kepada jamaah untuk aktif, ikut andil, dan berkontribusi dalam mempersatukan agama dan negara. “Ukhuwah wathaniyah wajib kita jaga, sehingga seluruh warga dapat beribadah dengan nyaman, bersosial dengan suku dan bangsa yang berbeda-beda,” pintanya penuh harap.
Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk tersebut juga juga menambahkan bahwa NU merupakan satu-satunya organisasi yang mencerminkan nilai-nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (tegak lurus), dan tasamuh (toleran) dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat manhaj tersebut selalu dikedepankan oleh para muassis, sehingga kewajiban generasi penerus harus menjaga dan merawat amaliayah, fikrah, harakah, dan siyasahnya para leluhur demi mewujudkan kebhinekaan yang sudah diwariskan oleh para founding father. “Mari jaga atau “sangkol”. Kalau bukan dari jamaah di Ranting NU, siapa lagi,” sargasnya.
Dosen Institut Sains Teknologi (IST) Annuqayah tersebut berharap, agar gerakan akar rumput harus terus merawat peninggalan para sesepuh. “Jegeh sangkol mon tak terro ollea tola. Artinya, jaga warisan tersebut jika tidak ingin mendapatkan musibah,” pungkasnya.
Pewarta: Mahrus Miftah
Editor: Abd. Warits

