Lenteng, NU Online Sumenep
Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep memanfaatkan momentum Halal Bihalal sebagai ajang konsolidasi sekaligus pematangan arah program dakwah ke depan. Dalam forum yang digelar pada Kamis (02/04/2026) itu, pengurus menegaskan pentingnya merumuskan strategi yang adaptif di tengah perkembangan era digital.
Ketua LDNU Sumenep KH. Ali Tsabit Habibi menekankan bahwa keberlanjutan program menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi dakwah NU. Ia menilai, pengalaman kepengurusan sebelumnya harus dijadikan rujukan untuk menyusun langkah yang lebih terukur dan efektif.
Menurutnya, evaluasi terhadap program lama bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting untuk memastikan apa saja yang layak dilanjutkan dan apa yang perlu diperbarui. Dengan demikian, LDNU tidak kehilangan arah dalam menjalankan perannya sebagai motor dakwah.
Ia juga membuka ruang seluas-luasnya bagi pengurus lama untuk memberikan masukan konstruktif. Hal ini dinilai penting agar proses transisi kepengurusan tidak memutus kesinambungan program yang telah berjalan dengan baik.
“Program yang lama yang bagus itu kita pertahankan,” ujar KH. Ali Tsabit Habibi dalam sambutannya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa LDNU tidak boleh berhenti pada capaian yang sudah ada. Organisasi harus berani mencari dan merumuskan program baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Dan kita juga harus mencari program yang baru,” imbuhnya.
Sementara itu, K. Izzul Muttaqin yang sebelumnya menjabat sebagai Bendahara LDNU Sumenep periode 2020–2025. Ia mengulas sejumlah program yang telah dijalankan, termasuk upaya penguatan dakwah melalui platform digital.
Pria yang juga menjadi pengurus LDNU Sumenep 2025-2030 itu menjelaskan bahwa pada periode sebelumnya, LDNU telah menggagas program dakwah digital dengan target produksi konten secara rutin. Program itu dirancang untuk menjaga kehadiran LDNU di ruang digital melalui unggahan video maupun flyer.
“Dulu ada program dakwah digital, dengan target setiap tiga hari sekali ada upload video atau flyer,” jelasnya.
Namun, ia mengakui bahwa implementasi program tersebut belum maksimal. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sumber daya manusia yang mengelola produksi dan distribusi konten dakwah.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali forum dai dan daiyah NU di Sumenep. Forum ini dinilai strategis sebagai ruang koordinasi sekaligus penguatan kapasitas para pendakwah.
Menurutnya, keberadaan forum tersebut akan membantu memastikan arah dakwah tetap terstruktur dan selaras dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus memperkuat jejaring antar dai di daerah.
“Ke depan, forum dai dan daiyah NU Sumenep perlu dihidupkan kembali,” tandasnya.

