Image Slider

Fatayat Ellak Laok Kemas Harlah Ke-99 NU dengan Isra’ Mi’raj

Lenteng, NU Online Sumenep

Pembina Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Sumenep, Nyai Hj Khairunnisa’ menegaskan, bahwa Allah SWT tidak menempati Sidratul Muntaha ketika Nabi Muhammad SAW bertemu dengan-Nya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Hal itu ia sampaikan saat mengisi ceramah pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan Hari Lahir (Harlah) Ke-99 NU yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting (PR) Fatayat NU Ellak Laok, Selasa (15/02/2022) di Mushala Ismail Shaleh.

“Kita sering mendengar bahwa dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha. Cuma jangan keliru akidahnya, kita Ahlussunnah wal Jamaah mempunyai akidah yang memercayai bahwa Allah SWT itu tidak tinggal di suatu tempat, kalau kita percaya waktu itu Allah ada di Sidratul Muntaha maka sama saja kita menyamakan Allah SWT dengan makhluk-Nya,” katanya.

Menurutnya, pemahaman seperti itu merupakan kepercayaan yang tidak sesuai dengan akidah Aswaja yang dianut oleh Nahdlatul Ulama.

“Kalau kita percaya bahwa Allah SWT ketika Isra’ Mi’raj ada di Sidratul Muntaha, maka itu adalah anggapan yang keliru. Apalagi percaya bahwa Allah SWT duduk di singgasana di Arsy,” tegasnya.

Ia menyebutkan, bahwa memang benar Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha, hanya saja bukan berarti waktu itu Allah SWT ada di Sidratul Muntaha. Pemahaman yang sebenarnya adalah waktu itu Rasulullah SAW baru dapat melihat Allah SWT ketika ia berada di titik Sidratul Muntaha.

“Analoginya seperti kalau kita sedang ada di Masjid pada siang hari kemudian melihat ke langit, kalau kita melihat langit pada waktu normal, tidak ada mendung, yang terlihat adalah matahari, tapi apakah matahari tersebut ada di masjid? Tentu saja tidak. Kita tetap bisa melihat matahari meskipun mataharinya tidak ada di masjid. Sama halnya ketika Rasulullah SAW dapat melihat Allah dari tempat Sidratul Muntaha, waktu itu Allah SWT tidak berada di sana, tapi Nabi bisa melihat Allah dari situ,” jelasnya.

Di akhir penyampaiannya, beliua menegaskan bahwa organisasi, seperti NU dapat menjadi wadah bersama untuk mencapai tujuan besar.

Menurutnya, potensi yang terserak dan berbagai keahlian yang tersebar yang dimiliki oleh banyak orang dapat dikelola dan diarahkan bersama-sama melalui NU, terutama untuk warga NU yang selama ini belum seberuntung yang lainnya.

“Harlah Ke-99 NU dalam hitungan hijriyah menyegarkan kembali khidmah yang telah menjadi visi bersama para pendiri NU dan diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya. NU tetap berdiri hingga kini karena bakti yang diberikan kepada umat dan bangsa. Melalui peringatan hari lahir ini, saatnya untuk kembali melakukan refleksi dan terus berkarya untuk sesama,” tambahnya.

Dirinya juga berharap, agar Nahdliyin dapat mendalami ilmu akidah agar tidak terpengaruh dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan Aswaja.

“Pentingya ngaji akidah agar kita bisa memahami hal yang seperti ini. Dari itu juga agar kita tidak dirasuki pemahaman lain yang tidak sesuai dengan Aswaja,” pungkasnya.

Editor : Firdausi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga