Manding, NU Online Sumenep
Penyair Nasional, D. Zawawi Imron mengatakan bahwa Shalawat Nabi adalah jiwanya NU di Sumenep. Menurutnya, tidaklah sempurna ke-NU-an seseorang tanpa shalawat. Sebab shalawat dapat menumbuhkan energi positif dalam berkhidmat di Nahdlatul Ulama.
“Jika orang NU tidak bershalawat, maka kurang sempurna ke-NU-annya,” ujarnya saat menyampaikan Orasi Ke-NU-an di acara Peringatan Harlah Ke-99 NU yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan PAC Fatayat NU Kecamatan Manding, Selasa (1/3/2022) di Pendopo Kecamatan setempat.
Perjuangan NU di Sumenep sejak awal didirikannya oleh para Muassis, disyiarkan dengan shalawat. “Inilah yang membedakan ke-NU-an di Jawa dan di Sumenep. Mari kita perbanyak shalawat kepada Nabi nan Agung, Nabi Muhammad SAW,” imbuhnya.
Sejalan dengan gelora jiwa penyair asal Sumenep ini, hadirnya Kiai D. Zawawi Imron memberikan motivasi dan semangat kepada hadirin yang nampak antusias menyimak penyampaiannya.
Dengan lantunan shalawat yang menggema di seantero pendopo semangat, Kiai Zawawi Imron memantik semangat para pemuda dan pemudi kader NU dalam berkhidmat.
“Ya nabi salam dha’ ajunan, Ya rosul salam dha’ ajunan, Kakaseh salam dha’ ajunan, Shalawat kaaator dha’ ajunan, (Ya Nabi salam kepadamu, Ya Rasul salam kepadamu. Wahai Kekasih salam kepadamu. Shalawat kami curahkan kepadamu),” ungkapnya melantunkan bait shalawat dalam bahasa Madura.
Penyair kelahiran Batang-Batang, 1 Januari 1945 itu juga mengingatkan agar senantiasa mengedepankan Akhlakul Karimah dalam berkhidmat di NU. Pesan tersebut disampaikan dalam sebuah bait pantun.
“Jukok Bhullus macem bernana. Melle bandheng ka gersek pote. Oreng se bagus tatakramana. Mon epandeng macellep ate. (Ikan Bulus Beragam warnanya. Beli Ikan Bandeng ke Gresik Putih. Orang yang baik tingkah lakunya. Bila dipandang menyejukkan hati,” pungkasnya.
Orasi yang disampaikan Kiai Zawawi Imron semakin menggunggah jiwa para pejuang NU di Kecamatan Manding saat membacakan puisi berjudul ‘Manaqib Tongkat Syaikhona Khalil Bangkalan’.
Sebuah puisi yang mengisahkan isyarat tongkat Kiai Khalil kepada Hadratussyeikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, serta kontribusi besarnya dalam kemerdekaan Indonesia.
Pewarta: Aminah
Editor: Ibnu Abbas

