Oleh: Lukmanul Hakim
Sebagian orang terutama kaum muslim mungkin merasa kecewa karena Pandemi Covid-19 ini melanda Indonesia justru pada periode bulan suci seperti Rajab, Sya’ban, dan mungkin hingga Ramadlan, atau bahkan Idhul Fitri (Bulan Syawal).
Bulan-bulan yang sarat nilai spiritual serta dinanti-nantikan kehadirannya oleh segenap umat Islam di dunia. Beberapa waktu lalu kita telah melalui bulan Rajab, dan itupun terjadi dalam situasi Pandemi Covid-19.
Memasuki bulan Sya’ban, seharusnya kita sudah memiliki bekal lebih dari cukup tentang keberserahdirian kita kepada Allah SWT. Dzat yang memiliki segalanya. Setiap lima kali dalam sehari pikiran dan hati kita diperbarui dan diperkuat keyakinannya perihal siapa yang paling berkuasa daripada siapapun.
Bisa dikatakan kita dijari untuk lebih bernyali menghadapi situasi apapun. Tidak ada alasan untuk takut terhadap virus corona, karena bagaimanapun juga Coronavirus tetaplah merupakan salah satu dari makhluk ciptaan-Nya.
‘Perbuatan’ yang Coronavirus lakukan tidak akan pernah melebihi ketetapan Sang Pencipta. Ibarat kata ada seseorang yang susah untuk kita perintah, tapi kita memiliki koneksi dengan atasan orang tersebut, maka bukankah misi kita akan lebih mudah dilakukan tatkala meminta bantuan langsung kepada sang atasan itu agar menginstruksikan bawahannya tadi supaya mengikuti keinginan kita?.
Perjuangan kita melawan virus corona sejauh ini tidak terlihat menampakkan perkembangan berarti. Bukankah sudah waktunya bagi kita untuk menggunakan ‘koneksi’ kepada sosok yang menciptakan Coronavirus, dan meminta pertolongan-Nya agar ‘si virus’ tidak lagi berulah.
Di dalam bulan Sya’ban ini pula kita sebenarnya telah diberikan petunjuk yang menjadi bagian dari kisah perjalanan bulan suci ini berabad-abad yang lalu. Dalam bulan Sya’ban juga terdapat tiga peristiwa penting yang harus ditadaburi bersama. Pertama, pada bulan Sya’ban Rasullullah SAW mendapatkan perintah untuk mengalihkan kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha) ke Ka’bah (Masjidil Haram).
Segenap umat muslim diperintahkan untuk mengubah ‘pandangan’ dari sebelumnya mengarah ke Baitul Maqdis menjadi mengarah ke ‘rumah paling awal’ manusia yaitu Ka’bah. Perintah ini kalau ditelisik lebih jauh sebenarnya bukan hanya sebatas perkara memindahkan kiblat fisik saja, atau sebagai bagian dari peristiwa sejarah agama Islam di masa lalu.
Akan tetapi, peralihan kiblat ini sekaligus pembelajaran bagi kita yang hidup dimasa kini agar mengevaluasi kembali ‘kiblat’ perjalanan hidup kita. Mungkin selama ini kita terlanjur nyaman dengan materi dan berambisi besar menggapainya.
Atau otak kita sudah begitu berpaling menuju jabatan atau karir megah hingga melupakan keluarga, sahabat, dan lain sebagainya hingga tidak jarang sebagain orang mengorbankan sesuatu yang penting dari dirinya demi menggapai ambisi ‘berbau’ materi tersebut. Anak tidak terurus, keluarga terabaikan, dan keharmonisan rumah tangga digadaikan.
Kali ini, kehadiran Coronavirus seakan menjadi pengingat bahwa sudah waktunya kita mengubah arah kiblat kita. Mengubah orientasi yang sebelumnya selalu tentang materi menjadi sesuatu yang lebih tinggi lagi.
Kita bekerja untuk ibadah, berkarir, dan mencapai posisi terbaik untuk memberikan manfaat bagi banyak orang, dan lain sebagainya. Tapi sayang, pikiran kita sepertinya semakin larut oleh hasrat pencapaian materi yang lebih besar. Bukan lagi tentang memberi manfaat apalagi ibadah pengabdian kepada Sang Pencipta. Kiblat kita harus mulai dievaluasi kembali.
Apa yang kita saksikan belakangan ini seperti kebijakan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, atau beribadah dari rumah bisa dibilang sebagai upaya mempererat kembali ikatan keluarga yang sempat longgar oleh karena kiblat ‘semu’ yang kita percaya selama ini. Sekaranglah mungkin saatnya bagi kita untuk menatap kembali kiblat yang sesungguhnya.
Peristiwa penting kedua yaitu tentang ‘tutup buku tahunan’ catatan amal seorang hamba. Bulan Sya’ban merupakan saat di mana buku catatan amal kita selama setahun terakhir diangkat ke langit dan diganti dengan buku catatan amal yang baru. Seberapa banyak perbuatan baik atau buruk kita semuanya tertulis di sana, yang sebelumnya dicatat secara rinci dan detail oleh malaikat yang berada pundak kanan dan kiri kita.
Rekam jejak kita selama satu tahun kebelakang akan dimasukkan ke ‘ruang arsip.’ Kelak di hari kiamat, semua buku catatan yang berjilid-jilid itu akan menjadi ‘barang bukti’ perjalanan hidup kita semasa di dunia.
Lantas apa pentingnya hal ini? Sekali lagi ini semua tentang evaluasi diri. Apakah kita tahu seberapa baik atau buruk catatan amal kita selama ini? Kita tidak bisa mengintip catatan sang malaikat atas diri kita pada saat ini. Akan tetapi kita memiliki ingatan untuk menapak tilas perjalanan hidup kita belakangan ini.
Apa yang kita lakukan kemarin, minggu lalu, sebulan silam, enam bulan lalu, hingga satu tahun yang lalu. Barangkali kita tidak akan sanggup mengingat secara rinci kejadian apa-apa saja yang telah kita lewati, atau perbuatan apa saja yang kita kerjakan, atau kata-kata yang kita utarakan. Hanya saja secara garis besar hal-hal penting dalam kehidupan ini semestinya bisa kita ingat kembali.
Adakah di sana sesuatu yang kurang? Pasti. Apakah kita berupaya memperbaikinya sejak saat itu hingga sekarang? Belum tentu. Karena Pandemi Coronavirus hal itu membuat kita harus diisolasi, yang sekaligus memberi kesempatan kita untuk menyendiri melihat lebih jauh ke dalam diri masing-masing.
Covid-19 secara tidak langsung telah memaksa kita agar mengevaluasi diri kita selama menjalani kehidupan. Apakah maksud ini sudah kita tangkap dan pahami? Selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Selalu ada pelajaran positif dari setiap musibah. Tinggal apakah kita mampu mengambil pelajaran atau tidak darinya.
Peristiwa penting ketiga terkait dengan bulan Sya’ban adalah diturunkannya ayat tentang keharusan bershalawat seorang muslim kepada junjungannya, Nabi Muhammad SAW. Shalawat itu diajarkan langsung oleh Sang Khaliq kepada hamba-Nya supaya dimasa-masa mendatang hal itu senantiasa dilakukan. Apa kaitannya sholawat dengan Pandemi Coronavirus?
Kalau bisa dibilang shalawat adalah ‘rajanya’ doa. Setiap doa yang tanpa diawali shalawat akan kehilangan ‘ruh’. Shalawat akan menjadi pengantar makbulnya sebuah doa. Membuat sebuah doa diijabah, dikabulkan Allah SWT. Shalawat merupakan ungkapan kasih sayang yang diterjemahkan oleh Allah SWT melalui lantunan kalimat firman-Nya.
Seorang hamba yang mengucapkannya dengan penuh ketulusan akan mendapatkan sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Sehingga shalawat adalah kesempatan besar yang mesti dimanfaatkan untuk melantunkan sebanyak mungkin doa menolak virus Corona.
Harapan kita adalah agar Pandemi Covid-19 ini segera diangkat dari bumi Indonesia. Inilah senjata besar yang juga mesti kita maksimalkan penggunaannya. Inilah ikhtiar langit kita melalui untaian doa-doa. Dan yang patut diingat, jangan pernah jengah dan putus asa dalam berdoa. Kapanpun dikabulkan itu adalah urusan-Nya. Terpenting adalah bagaimana kita terus berdoa dan berdoa terus.
Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, doa juga berperan penting dalam membangun pola pikir seseorang. Berdoa yang positif, maka mindset kita akan menjadi positif pula. Doa adalah afirmasi yang kita lantunkan dalam balutan nilai spiritualitas keagamaan. Semakin sering doa dipanjatkan maka itu akan membuat kita jauh lebih optimis melihat segala situasi. Seburuk apapun simulasi atau perkiraan yang disampaikan para pakar perihal keberlangsungan virus Corona di Indonesia, satu hal yang pasti adalah tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Cukup bagi-Nya ‘Kun’, maka ‘Fayakun’. Jadilah, maka terjadilah.
Bulan Sya’ban mungkin sebuah ‘kode’ dari Sang Khaliq terkait bagaimana kita menyikapi Pandemi Covid-19 ini. Mari mengambil pelajaran berharga dari bulan Sya’ban. Semoga kita bisa menyambut Ramadlan dengan ceria beberapa hari mendatang seiring musnahnya virus ini dari bumi Indonesia.
*) Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

