Image Slider

Manfaat Cabe Jamu Sebagai Bahan Pengawet Alami

Oleh Juma’ati

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia mayoritas berupa hasil rempah-rempah dan obat-obatan yang dihasilkan dari tanaman yang tersebar luas di pelosok nusantara. Salah satu obat-obatan dan juga termasuk bahan rempah yang dihasilkan dari tanaman ialah cabe jamu yang memiliki nama latin yaitu Piper Retrofractum Vahl.

Indonesia merupakan Negara pengekspor cabe jamu terbesar di kawasan Asia tenggara dan Asia selatan. Menurut Petugas Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya, Ekspor cabe jamu ke wilayah India (25/04/2020) mencapai 15 ton. Cabe jamu merupakan salah satu tanaman yang digunakan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu sebagai bahan dasar pembuatan obat tradisonal . Tanaman ini tumbuh subur di tanah yang lembab, Tanah lempung berpasir, dengan struktur tanah gembur dan berdrainase baik, merupakan lahan yang cocok untuk budidaya cabe jamu.

Olahan dari cabe jamu umumnya digunakan sebagai ramuan jamu dan obat tradisional oleh kalangan masyarakat pedesaan yaitu dengan meraciknya sendiri. ada juga beberapa pabrik yang menggunakan cabe jamu sebagai bahan dasar obat. Secara tradisional buah cabe jamu digunakan untuk obat beri-beri, kejang perut, masuk angin, obat kuat lelaki dan masih banyak manfaat yang lainnya. Seiring dengan kemajuan teknologi banyak temuan atau terobosan baru yang telah dihasilkan oleh para ilmuan atau peneliti. Seperti halnya banyak dilakukan ekstraksi terhadap buah cabe jamu untuk memperoleh sebuah produk baru yang lebih bermanfaat dan berguna untuk manusia.

Tanaman cabe jamu memiliki banyak senyawa kimia yang bisa diekstraksi untuk meneliti kandungannya. Menurut Haryudin (2015) bahwa senyawa kimia yang terkandung dalam buah cabe jamu adalah chavicine, piperine (4-6%), piperidine (0-19%), minyak atsiri (0,9%) (Dharma, 1987). Besar serapan cabe jamu sekitar 9,5 % dari total simplisia yang dikonsumsi industri obat tradisional. (haryudin, 2015). Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Jamal (2013) terhadap cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) telah terbukti berkhasiat sebagai bahan antimikroba. Cabe Jamu memiliki kandungan senyawa hampir sama dengan jahe. Jahe mengandung komponen minyak menguap ( volatile oil ) dan mengandung minyak yang tidak menguap ( non volatile oil ) yang biasa disebut oleoresin, Oleoresin digunakan sebagai campuran terpenoid sebagai sumber alami penting untuk bahan kimia industri digunakan secara luas dalam pelarut, agen pembersih untuk pernis dan cat, rasa dan juga sebagai pengawet alami.

Oleoresin berasal dari kata “oleo” yang berarti minyak dan “resin” yang berarti damar. Jadi oleoresin adalah minyak dan damar yang merupakan campuran minyak atsiri sebagai pembawa aroma dan damar sebagai pembawa rasa. Oleoresin berbentuk padat atau semi padat dan biasanya lengket. Dimana didalam dunia perdagangan , oleoresin dikenal sebagai ginggerin Oleoresin merupakan bentuk ekstraktif rempah yang di dalamnya terkandung komponen-komponen utama pembentuk perisa yang berupazatzat volatil (minyak atsiri) dan non-volatil (resin dan gum) yang masingmasing berperandalam menentukan aroma dan rasa (Anam, 2010).

Oleoresin merupakan suatu gugusan kimia yang cukup kompleks susunan kimianya. Oleoresin berupa minyak berwarna coklat tua sampai hitam dan mengandung kadar minyak atsiri 15 sampai 35 persen. Umumnya oleoresin dihasilkan melalui proses ekstraksi konvensional menggunakan soxhlet. Namun seiring berjalannya waktu, pengembangan proses pengolahan jahe dengan menggunakan metode ekstraksi terus dilakukan untuk mendapatkan oleoresin dengan kualitas dan kuantitas yang maksimal. Salah satu metode alternativ yang dikembangkan adalah ekstraksi dengan gelombang ultrasonik. Teknik ini dikenal dengan sonokimia yaitu pemanfaatan efek gelombang untuk mempengaruhi perubahan-perubahan yang terjadi pada proses kimia. (Hartuti, 2012)

Salah satu dari manfaat oleoresin ialah sebagai bahan pengawet alami. Hal ini mengingat akan bahaya penggunaan formalin tersebut. Maka perlu usaha untuk menemukan bahan pengawet pengganti formalin dari bahan yang alami. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa rempah-rempah dan bumbu asli Indonesia ternyata banyak mengandung zat aktif anti mikrobia yang berpotensi untuk dijadikan sebagai pengawet alami. Diantaranya adalah lengkuas, kunyit, jahe, dan cabe jamu.

Kandungan minyak atsiri pada lengkuas dan jahe telah dibuktikan mempunyai sifat anti mikrobia. Sedangkan pada kunyit, senyawa bioaktif yang berperan sebagai antimikrobia adalah kurkumin, desmetoksikumin dan bidestometoksikumin. Cabe jamu memiliki karakteristik yang hampir sama dengan rempah rempah yang lainnya seperti jahe dan kunyit. Sehingga diperlukan pengembangan penelitan lebih lanjut untuk mengetahui kadar oleoresin yang terdapat pada buah cabe jamu sebagai bahan pengawet alami.

*Mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura Prodi Kimia

Sumber Pustaka :

Anam, Choirul. (2010) “Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber officinale) Kajian dari Ukuran Bahan, Pelarut, Waktu dan Suhu.” MAPETA 12, no. 2 (2010).

Hartuti, Sri, dan Muhammad Dani Supardan. (2012) “Optimasi Proses Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber officinale Rosc) Menggunakan Ultrasonik.” Jurnal Rekayasa Kimia & Lingkungan 9, no. 1 (2012): 30–35.

Haryudin, Wawan. (2015) “Karakteristik Morfologi Tanaman Cabe Jawa (Piper Retrofractum. Vahl) Di Beberapa Sentra Produksi.” Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 20, no. 1.

Artikel Berikutnya
ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga