Lenteng, NU Online Sumenep
Secara fitrah kehadiran seorang anak adalah yang dinanti bagi setiap pasangan suami istri. Tanpa peduli betapa berat pengorbanan yang harus dihadapi, karunia berupa buah hati tetaplah merupakan sesuatu yang dinanti.
Hal itu disampaikan langsung oleh KH Sa’dud Darain saat mengisi ceramah keagamaan dalam acara Malam Puncak Haflah Akhir Sanah Madrasah Diniyah Khairul Wira’ie Pondok Pesantren Nurul Yaqin Lembung Barat, Lenteng, Senin (14/03/2022) malam.
“Setelah Allah SWT mengaruniakan anak, orang tua masih juga mengorbankan segalanya guna membesarkan, mendidiknya agar menjadi orang yang berguna dan dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Hampir semua orang tua ingin sang anak lebih baik dari dirinya,” ujar Gus Aak, sapaannya.
Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini menyatakan, orang tua rela mencari rezeki demi kebahagiaan putranya, sementara ia harus mengalah tak memikirkan nasibnya sendiri. “Itulah bukti betapa sangat besar pengorbanan orang tua untuk sang anak,” tegasnya.
Gus Aak menambahkan, “Karena mungkin terlalu terbuai dengan hal-hal duniawi, ayah dan ibu kadang lupa bahwa ada hal lain yang amat penting untuk dipersiapkan sebagai bekal agar anak menjadi saleh-salehah. Bekal yang dimaksud adalah keimanan, ketakwaan, serta akhlak yang mulia.”
Pada kesempatan tersebut, putra KH M Musleh Adnan Pamekasan ini kemudian mengungkapkan beberapa cara untuk membentuk anak menjadi shalih agar kelak diharapakan dapat berguna bagi orang tua, agama, nusa, dan bangsa.
“Pertama, memilih dan mempercayakan kepada lembaga pendidikan yang shalih. Lembaga pendidikan yang dimaksud yaitu madrasah, pondok pesantren, dan lembaga yang punya perhatian besar pada perkembangan pendidikan Islam,” ungkap penceramah asal Pamekasan itu.
Ia pun meminta kepada orang tua agar lebih selektif memilih lembaga pendidikan. “Jangan hanya terjebak pada kualitas akademik saja tanpa dibarengi dengan kualitas akhlak, karena ini akan mengakibatkan anak menjadi hebat dan cerdas secara akademik namun akhlaknya buruk,” tuturnya.
“Kedua, lihat dan cermatilah pergaulan anak karena lingkungan bergaul sangat berperan dalam membentuk akhlak seseorang. Sekali orang tua terlena atau lepas kontrol, maka jangan salahkan anak apabila suatu saat ia pun akan berbuat tidak baik,” sambungnya.
Gus Aak kemudian menjelaskan cara yang ketiga yaitu memberikan rezeki yang halal dan thayyib kepada sang anak. Kewajiban orang tua adalah mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Adapun yang keempat adalah orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi putranya.
“Berilah contoh yang baik kepada anak, jangan sekali-kali berbuat tercela di hadapan anak. Tidak ada alasan malu bagi orang tua untuk meminta maaf kepada putranya apabila memang bersalah. Jangan membohongi anak meskipun pada hal-hal yang sepele,” jelasnya.
Terakhir, selalu berdoa kepada Allah SWT supaya dikaruniai keluarga, anak yang sholih. Berikut doa yang harus senantiasa diucapkan oleh orang tua setiap habis shalat lima waktu “Rabbana Hablana min Azwajina wa Dzurriyatina Qurrota A’yun waj ’alna lil Muttaqina Imama, (Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa).” (QS. Al-Furqan: 74).
Di akhir penyampaiannya, beliau mengutarakan, betapa bahagianya sebuah keluarga apabila semua anggota keluarga tersebut beriman kepada Allah SWT. “Nilai-nilai keislaman selalu terpancar dalam setiap interaksi. Keluar dan masuk rumah didahului dengan salam, saling mendoakan antar satu dengan lainnya,” katanya.
Gus Aak juga berkata, “Maka tidak ada kata rugi bagi orang tua untuk menginvestasikan semua potensinya guna mewujudkan anak shalih. Berapapun nilai materi yang harus dibayar, itu akan terbayar lunas asal anak menjadi shalih.”
“Ketika orang tua masih hidup, anak yang shalih akan selalu berbakti. Dan ketika ayah ibunya telah meninggal, ia akan senantiasa mendo’akan supaya Allah SWT mengampuni segala dosanya,” pungkas Gus Aak.
Editor : Ach. Khalilurrahman

