Image Slider

Wakil Rais NU Pragaan Ajak Tingkatkan Takwa

Pragaan, NU Online Sumenep

Kiai Syawali Tamam, Wakil Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan mengatakan, sebelum masuk pada ranah fa ashlihu baina akhawaikum, maka seseorang harus bertakwa. Pernyataan ini disampaikan saat menarik kesimpulan di kajian Qanun Asasi surat Al-Hujurat ayat 10. Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Pragaan, Ahad (17/04/2022) di aula setempat.

Secara teoritis, takwa terbagi menjadi tiga macam. Pertama, takwanya orang awam, mereka melakukan kewajibannya (shalat, puasa dan lainnya) karena takut dikatakan orang kafir, sehingga setiap menjalankan kewajiban bukan semata-mata karena Allah.

“Kedua, takwanya orang alim yang berada di kalangan NU. Ketiga, takwanya orang yang paling alim. Yang nomor tiga ini, takwanya para auliya yang pikirannya menyatu dengan Allah SWT,” teranganya.

Tak hanya itu, ketakwaan diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga sampai ulama. Oleh karenanya, surat Al-Hujurat ayat 10 akan sulit diimplementasikan jikalau tidak dibarengi dengan takwa.

Kemudian Kiai Syawali menyatakan bahwa ulama sangat bermacam-macam. Pertama, ulama yang diibaratkan air hujan yang tanpa pamrih menyirami pada seluruh isi bumi, baik yang kecil ataupun besar. Wali songo masuk dalam ketegori ini.

“Kedua, ulama seperti air sumber yang keluar karena adanya ulama kuno. Berkat adanya ulama, banyak orang berdatangan guna mencari ilmu, meminta pendapat dan solusi untuk memecahkan permasalahan. Ketiga, ulama seperti air sanyo yang keluar karena ada sesuatu, seperti ulama yang berdakwah karena ingin mendapatkan uang. Keempat adalah ulama seperti air limbah yang dilihat oleh mata sangat jelek walaupun belum dituangkan. Kita ini masuk dalam ketgori mana?,” ungkapnya.

Pada saat yang sama, Kiai Dardiri menjelaskan, al-Ishlah harus dibarengi dengan tabayun, baik saat ada konflik ataupun perpecahan. Menurutnya, ini bukan sekedar wacana, karena dalam Muktamar ke-34 di Jombang menelorkan trilogi ukhuwah. Yakni, ukhuwah Islamiyah, wathaniyah dan basyariyah.

Wakil Ketua MWCNU Pragaan itu mengutarakan, setiap kader harus memiliki menyikapi dengan kiritis agar mengaplikasikan pada realitas sosial. “Haruskah kita bersikap kasar kepada sesama Muslim dan anak bangsa? Semestinya kita memberi kasih sayang pada mereka,” pintanya.

“Berhubung posisi NU berada di tengah-tengah, maka yang dilakukan adalah melerai. Tak hanya itu, kita bersikap akomodatif. Artinya, kita menamping beragam perbedaan yang ada di sekitar kita. Selanjutnya, kita harus selektif guna memilah dan memilih, mana yang lebih benar dan salah. Terakhir adalah sikap kooperatif, di mana kita mengajak dan menyadarkan pada anak bangsa agar bersedia untuk hidup berdampingan dengan perbedaan,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga