Image Slider

Dipimpin Wakil Rais PCNU Sumenep, Nahdliyin di Gapura Gelar Istighasah Tolak Hama

Gapura, NU Online Sumemep

Pertanian merupakan salah satu sektor kunci perekonomian Indonesia. Kurang lebih 100 juta jiwa atau hampir separuh dari jumlah rakyat Indonesia bekerja di sektor pertanian. Saat ini memasuki musim hujan, para petani sudah mulai menanam padi di lahan persawahan yang terbentang luas.

Namun demikian, seperti yang dialami oleh petani di daerah Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, di mana lahan persawahan yang baru-baru ini ditanami benih padi banyak diserang hama tikus. Sehingga para petani menanam ulang benih padi yang sudah dilahap habis oleh tikus, hingga beberapa kali.

Musim tanam padi tahun ini mengalami kondisi yang memprihatinkan. Tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya di mana para petani bisa dikatakan tidak mengalami kendala apapun. Benih padi yang ditanam tahun ini kebanyakan ludes habis diserang hama tikus. Kondisi seperti ini membuat para petani di Kecamatan Gapura tergerak untuk menggelar Istighatsah bersama pada Jum’at (18/12/2020).

Kegiatan yang bertempat di lahan sawah milik salah seorang warga di Desa Mandala Kecamatan Gapura ini, diinisiasi oleh para petani yang berasal dari Desa Andulang, Mandala, Gapura Timur dan Gapura Tengah. Mereka berkumpul untuk berdo’a bersama agar tanaman padi mereka terbebas dari serangan hama dalam bentuk apapun. Termasuk hama tikus yang baru-baru ini membuat resah masyarakat setempat.

K. A. Munif Zubairi, selaku Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep meminta kepada seluruh petani agar kegiatan semacam ini dilaksanakan secara rutin ketika hendak memasuki musim padi.

“Agar hasil tanaman kita diberkahi oleh Allah SWT dan selama proses pertumbuhannya dibebaskan dari segala gangguan hama, ada baiknya jika kegiatan semacam ini terus dilakukan secara rutin, di masjid-masjid secara berjamaah,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, Gapura Timur, Gapura tersebut.

Sementara itu, Kiai Mursyidul Umam berpesan dalam sambutannya kepada seluruh petani yang hadir, bahwa perlu ditradisikan kembali selamatan-selamatan sebelum toron ka saba (turun ke sawah untuk menanam benih padi) dan seusai panen padi. Agar segala prosesnya dari awal hingga akhir, diberkahi oleh Allah SWT dan dilimpahkan rezeki.

“Mari kita kembali pada tradisi-tradisi para pendahulu, dimana biasanya, orangtua kita dulu menggelar selamatan meski itu sederhana. Baik itu sebelum menanam ataupun seusai memanen padi,” tutur Wakil Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura ini.

Menurut beliau, kebanyakan petani sudah mulai lupa kepada sang pencipta, sehingga meski hasil panennya melimpah ruah pada tahun-tahun sebelumnya, tetap tidak menyisihkan sebagian hasilnya untuk berbagi kepada yang lain dengan berkumpul dan berdoa bersama dalam bingkai selamatan.

“Mungkin ini bagian dari kasih sayang Allah SWT yang telah mengingatkan kita agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Maka amet salamet sebelum menanam perlu ditradisikan kembali. Selain untuk permohonan agar segala prosesnya di permudah oleh Allah SWT, juga untuk mengeratkan kepedulian antar sesama,” pungkas Alumni Pondok Pesantren Annuqayah ini mengakhiri sambutannya.

Pewarta: Aribuddin Maliki
Editor: Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga